ilustrasi
ilustrasi
Pengamat properti Panangian Simanungkalit menilai, kinerja Menpera sudah gagal meÂnekan angka backlog rumah. Sepanjang 2012, banyak progÂram perumahan jalan di tempat. Di antaranya, rumah murah seÂharga Rp 45 juta khusus wartaÂwan di Citayam, Depok dan BuÂmi Parung Panjang, Bogor yang batal dibangun.
Kemudian, gagalnya pemÂbangunan rumah susun sewa (Rusunawa) Ciliwung serta tidak tercapainya Kredit Pemilikan RuÂmah Fasilitas Likuiditas PemÂbiÂayaan PeruÂmahan (KPR FLPP).
Di tahun ini, Kemenpera kemÂbali menargetkan penyediaan rumah bersubsidi bagi maÂsyaÂraÂkat berpenghasilan rendah (MBR) sebanyak 121.000 unit. Target itu, menurun dibandingkan tahun 2012 sebanyak 133.000 unit, bahkan lebih rendah dibanÂdingÂkan rencana sebelumnya di 2013 sebanyak 350.000 unit.
PÂaÂnaÂngian memÂpreÂdikÂsi, kiÂnerja Menteri Djan tahun ini akan makin berat. Hal tersebut ditandai dengan penurunan tarÂget rumah subsidi yang meÂnunjukkan keÂtidakmampuan pemerintah dalam menyediakan rumah bagi rakyat kecil.
“Sepanjang tahun 2012 banyak program perumahan mandek, daya serap anggaran rendah, serta tidak adanya koordinasi yang dibangun oleh pengembang, yang membuat iklim perumahaan jadi tidak jelas,†sindir Panangian saat dikontak Rakyat Merdeka, kemarin.
Menpera, kata dia, dianggap gagal meneruskan program peÂrumahan dari menteri sebeÂlumÂnya. Minimnya penyaluran FLPP KPR bersubsidi, salah satu bukti bahwa pemerintah tidak serius menjalankan kinerjanya.
Dari target sekitar 133.000 unit di 2012, yang terserap hanya sekitar 44 persen, yakni hanya seÂkitar 54.000 unit. Akibatnya, keÂinginan rakyat kecil untuk meÂmiÂliki rumah masih jauh dari harapan.
“Prestasi Menteri Djan sangat jeblok. Itu terbukti tidak mamÂpunya menjalankan program perumahan. Selama ini, pihaknya kurang merangkul para peÂngemÂbang, yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam mengÂhaÂdirÂkan rumah bagi MBR,†kritiknya.
Ia pun pesimistis, target rumah subsidi bisa terealisasi. MengÂingat, di tahun 2012 saja, KeÂmenÂpera dinilai malas dalam peÂnyerapan anggaran.
Ketua Umum Asosiasi PeÂngembang Perumahan dan PerÂmukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Eddy Ganefo justru meminta presiden Susilo BamÂbang Yudhoyono (SBY) untuk segera bertindak menyikapi manÂdeknya program perumahan.
“Presiden SBY harus turun gunung menyikapi kemandekan program perumahan ini,†pintanya.
Mengenai penurunan target rumah subsidi, Apersi melihat, penurunan target ini merupakan hal wajar dan realistis. Hal terÂsebut, dikarenakan sisa angÂgaran di 2012 sebesar Rp 4,6 triliun, ditambah dengan angÂgaran tahun ini sebesar Rp 2,7 triÂliun, hanya cukup meÂmenuhi 121.000 unit rumah.
“Jika dijumlahkan, KemenÂpera haÂnya bisa bangun rumah 121.000 unit, tidak bisa lebih kaÂrena dananya kurang,†kata Eddy saat dikontak Rakyat MerÂdeka, kemarin.
Eddy pun mengaku, tidak puas dengan kinerja Menteri Djan selama ini. Presiden SBY diÂhaÂrapÂkan, bisa membantu menÂdoÂrong agar program perumahan bisa berjalan dengan baik di tahun ini.
Wakil Ketua Komisi V DPR bidang Perumahan, Muhidin Muhamad Said menambahkan, kelemahan Kemenpera, yakni kurangnya koordinasi dan peÂrenÂcanaan yang terlalu terburu-buru. Misalnya, Rusunawa Ciliwung. Padahal, dari segi kesiapan dana mencukupi. Tetapi, kendala ada paÂda lahan, dan sosialisasi ke maÂsyarakat sekitar. Akibatnya, program tersebut kanÂdas. â€PaÂsang target boleh-boleh saja, yang penting bisa direalisasikan,†sentil Muhidin.
Tahun ini, DPR pun berencana melakukan evaluasi terhadap kiÂnerja Menpera agar angka backlog rumah bisa segera dikurangi.
Anggota Komisi V DPR RI Riswan Tony pesimistis terhadap rencana target Kemenpera dalam menyiapkan perumahan untuk MBR. “Selama tidak ada koorÂdinasi dan kurang memperÂdaÂyaÂkan pengembang, maka berapa pun angka yang ditetapkan tidak akan tercapai. Jika Menpera seÂrius ingin menangani angka backÂlog rumah, maka point-nya ada paÂda pengembang,†sentil Riswan.
Djan Faridz sebelumnya meÂnarÂgetÂkan, penyediaan rumah berÂsubÂsidi bagi MBR di tahun 2013 sebanyak 121.000 unit. Target itu menurun dibandingkan tahun 2012 sebanyak 133.000 unit, bahkan lebih rendah dibanÂdingÂkan sebelumnya sebanyak 350.000 unit. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09