ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
“Saat ini dengan infraÂstrukÂtur yang minim pertumbuhan kita cukup tinggi, apalagi kaÂlau ditunjang dengan infraÂstruktur yang baik, mungkin pertumbuhan kita bisa terÂbang,†ujar Ketua Umum KaÂdin Suryo Bambang Sulisto.
Menurut dia, infrastruktur merupakan satu dari lima saÂsaran strategis kepenguÂrusan Kadin periode 2010-2015 daÂlam mendorong perÂtumÂbuhan ekonomi mengÂhadapi krisis global. Sasaran straÂtegis terÂsebut juga dilaÂkukan dalam pemberdayaan ekonomi dan pembangunan daerah. TerÂmasuk penguatan peÂlaku-peÂlaku usaha di daerah.
Suryo mengatakan, penguÂsaha Indonesia harus mampu berselancar dalam arus globaÂlisasi dengan memanfaatkan kerja sama internasional yang tepat. Kerja sama itu meÂlalui investasi yang harus diÂlakuÂkan secara cerdas.
“Dalam arti, bekerja sama tanpa harus keÂhiÂlangan peÂngenÂÂdalian atas kepemilikan aset-aset nasioÂnal,†katanya.
Ketua Umum Organisasi Angkutan Darat (Organda) Eka Sari Lorena mengatakan, belum beraninya pemerintah menghapus atau mengurangi beban subsidi (dengan meÂnaikÂkan harga BBM bersubÂsidi), berpengaruh besar terÂhadap revitalisasi pembaÂnguÂnan nasional. Misalnya, di sekÂtor transportasi umum dan pembangunan infrastruktur.
“Parahnya, terobosan disinÂsentif kendaraan pribadi deÂngan menaikkan uang muka banyak diakali lembaga pemÂbiayaan. Aturan Bank IndoÂnesia per 15 Juni 2012, yakni minimal uang muka sepeda motor 25 persen dan mobil non produktif 30 persen, cuÂma sekadar di atas kertas,†kritik Eka.
Untuk itu, menurut dia, diÂperlukan sinyal lebih kuat daÂri pemerintah membenahi transÂportasi umum. Apabila infraÂstruktur lambat terbaÂngun, pemerintah harus segeÂra meÂlakukan terobosan.
“Kemacetan tak boleh diÂniÂlai wajar hanya karena ekoÂnoÂmi tumbuh. Kalau bisa ya jaÂngan macet. Rugi BBM, ruÂgi uang, rugi tidak dapat kumÂpul dengan keluarga,†ujar Eka.
Ketua Badan Pengawas PaÂsar Modal dan Lembaga KeÂuangan (Bapepam-LK) NgaÂlim Sawega mengakui, pemÂbangunan ekonomi IndoÂnesia masih terhambat minimÂnya infrastruktur. Minimnya infraÂstruktur juga terkait belum adanya lembaga keuaÂngan yang khusus membeÂrikan pembiayaan infrastruktur.
“Untuk mengatasinya, peÂmeÂrintah tidak bisa berjalan sendiri. Kegiatan pemÂbaÂnguÂnan perlu melibatkan pihak swasta,†kata Ngalim.
Dia menjelaskan, pemeÂrinÂtah sebenarnya sudah memÂbuat gagasan kerja sama meÂlalui program Public Private Partnership (PPP). SayangÂnya, program tersebut belum cukup cepat mendorong pemÂbangunan infrastruktur di InÂdonesia.
Menurut Ngalim, berÂdasarÂkan catatan Bapepam LK, baru ada dua perusahaan pemÂbiaÂyaan khusus menopang keÂgiatÂan pembangunan infraÂstruktur, yakni PT Sarana Multi InfraÂstruktur dan PT Indonesia Infrastruktur Finance. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09