ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Pada penutupan DeÂsemÂber 2012, rupiah melemah di kisaran Rp 9.670-Rp 9.680 per dolar AS. Artinya, sepanjang 2012, rupiah meleÂmah hingga Rp 600-Rp 650 per dolar AS.
Direktur Currency ManageÂment Board Farial Anwar meÂngaÂtakan, rupiah mengalami deÂpÂreÂsiasi yang cukup tajam daÂlam satu tahun terakhir. Hal itu menÂjadi performance terburuk rupiah di kawasan Asia dalam beÂberapa tahun terakhir.
Di saat pasar saham dan pasar modal nasional diguyur rezeki berlimpah dilihat dari kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), rupiah justru kian jatuh terjerembab dari level Rp 9.000 per dolar AS diawal tahun.
Menurutnya, ketika pasar moÂdal meningkat cukup signifiÂkan, seharusnya banyak asing yang menjadi net buyer. Asing datang membawa dolar AS ke IndoneÂsia, dengan kata lain, terjadi penÂjuaÂlan dolar AS yang menÂdongÂkrak penguatan rupiah.
“Namun yang terjadi tidaklah deÂmikian. Dengan semakin leÂmahÂnya nilai tukar rupiah terhaÂdap dolar, maka akan berdampak berat kepada pihak yang memÂpunyai utang luar negeri dan vaÂluta saing. Sebab, ada penamÂbaÂhÂan sekitar Rp 650 juta. Ini sudah jelas tidak bagus untuk peÂreÂkoÂnomian Indonesia,†terangÂFarial saat dikontak Rakyat MerÂdeka, Kamis (3/1).
Farial menuturkan, likuiditas dolar AS lebih besar dari rupiah, sehingga permintaannya jauh leÂbih besar dari penawarannya. Kebanyakan orang lebih aman (secure) untuk menyimpan dolar AS ketimbang rupiah.
“Pelaku pasar modal banyak yang tidak percaya peÂgang ruÂpiah karena permintaan dolar jauh lebih besar jika dibandingkan rupiah,†ungkapnya.
Berdasarkan data laporan keÂuangan emiten kuartal III-2012 di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Indosat Tbk (ISAT) misalÂnya, mengalami kerugian kurs hingga Rp 616,33 miliar. PT TeÂlekoÂmuÂnikasi Indonesia Tbk (TLKM), merugi karena selisih kurs hingga Rp 297 miliar. BeriÂkutÂnya PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang merugi kaÂrena selisih kurs hingga Rp 1,58 miliar.
Analis Trust Securities Reza Priyambada menambahkan, perÂgerakan nilai tukar rupiah meÂlemah setelah pelaku pasar meÂlihat masih adanya ganjalan daÂlam persoalan fiscal cliff di Negeri Paman Sam.
“Masih ada kekhwatiran dari peÂlaku pasar uang seiring ParleÂmen AS yang belum menyetujui keÂnaikan batas atas penerbitan utang AS (debt ceiling) sehingÂga akan berpengaruh pada renÂcana penerbitan obligasi peÂmerintah AS,†tutur Reza.
Reza menjelaskan, data neÂraca perdagangan Indonesia yang masih negatif kembali menjadi penghadang rupiah untuk bergeÂrak menguat meski ada sentimen positif dari naikÂnya data-data manufaktur di China dan Korea Selatan.
Kendati demikian, lanjut dia, fluktuasi mata uang rupiah terÂhadap dolar AS masih cukup staÂbil seiring penjagaan Bank InÂdonesia (BI).
Menurut kurs tengah BI pada Kamis (3/1), mata uang rupiah bergerak menguat nilainya menÂjadi Rp 9.670 dibanÂding posisi sebelumnya Rp 9.685 per dolar AS. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09