Richard Owen
Richard Owen
Wakil Menteri Energi Sumber DaÂya Mineral (ESDM) Rudi RuÂbiandini mengaÂtaÂkan, pihakÂnya meÂmang tidak berweÂnang untuk memÂberÂhentikan peÂtinggi perusahaan konÂtrakÂtor migas. KewenaÂngan itu ada di SK Migas.
“Saya senÂdiri tiÂdak tahu detil peÂnyeÂbab pemberÂhenÂtian itu,†ungkap Rudi di JaÂkarta, kemarin.
Kepala Divisi HuÂmas Sekuriti dan Formalitas SK Migas Hadi PraÂsetyo menyatakan, alasan pemÂÂecatan CEO ExxonÂMoÂbil kaÂrena perusahaan tersebut diÂangÂgap tidak konsisten untuk menÂjual dua blok gas Arun keÂpada perusahaan migas nasional.
PadaÂhal, sejak diumumkannya renÂcana penjualan itu ke publik, sudah ada beberapa perusahaan migas yang ingin membeli.
“Itu menjadi salah satu alasanÂnya, karena banyak investor migas yang memastikan mau masuk ke Indonesia, tapi tidak ada kejeÂlaÂsan dari Exxon. Investor dan peÂmeÂrinÂtah jadi bingung karena Exxon tiÂdak konsisÂten deÂngan apa yang dilaÂkuÂkanÂnya,†teÂrang Hadi keÂpada RakÂyat MerÂdeka di Jakarta, kemarin.
Informasi yang diÂterima RakÂyat MerÂdeka menyeÂbutÂÂÂkan, PreÂsiden DiÂÂrektur (Presdir) ExxonÂMobil IndoÂnesia (EMOI) RiÂchard Owen dipeÂcat pada 27 DesemÂber 2012. PemecaÂtan terÂsebut kaÂbarnya terÂkait keÂengÂganan EMOI untuk menjual Blok Arun ke Grup ManÂdiri. Grup ini puÂnya afiliasi deÂngan saÂÂlah satu petinggi bank BUMN.
Menteri ESDM Jero Wacik yang melakukan pencabutan izin kerja CEO perusahaan asal AmeÂrika Serikat (AS) terÂseÂbut. DeÂngan tidak ditekenÂnya perÂpanÂÂjangan kerja itu, Owen yang baru menjadi Presdir ExxonÂMobil Indonesia pada Januari 2012 haÂrus hengÂkang pada Februari 2013.
Selain itu, kata Hadi, hal terÂsebut juga terkait persoalan early production facility (EPF) Blok Cepu misalnya, Exxon terbukti tak mampu menyelesaikan target yang sudah dipatok untuk meÂningkatkan produksi minyak di September 2012 lalu.
Dia menjelaskan, SK Migas memang mempunyai wewenang untuk melakukan pemÂÂberhentian atas CEO peÂruÂsahaan migas yang tidak konÂsisÂten. KeÂtidakÂkonÂsisÂtenan inilah yang memÂbuat Jero Wacik beÂrang.
“Ya hal itu dilakukan untuk menÂjaga kesinambungan proyek migas supaya berjalan. KemuÂdiÂan harus diperhatikan juga keÂpentingan nasional. Kalau dinilai kurang kooperatif dan programÂnya tidak konsisten, ya sudah (dipecat),†tegas Hadi.
Sebelumnya, pihak EMOI meÂnyampaikan alasan penjualan 30 persen sahammnya di Blok Arun.
“Kami terus melakukan pengÂkaÂjian dan evaluasi soal Blok Arun itu. Kami pikir peÂngeÂloÂlaannya bisa lebih maksiÂmal jika dikelola pihak lain,†ungkap Exploration Public Affairs MaÂnager Exxon-Mobil Indonesia Vasta C Choesin kala itu.
Ada tiga perusahaan yang saÂhamnya diÂlepas, yakni Mobil ExÂploÂration Indonesia Inc, ExÂxonMobil Oil Indonesia Inc dan Mobil LNG Indonesia Inc. Porsi saham yang dilepas masing-masing 100 perÂsen untuk Blok B Arun dan LaÂpangan North SuÂmatera Offshore. Lapangan ini memproduksi rata-rata 215 juta kubik per hari (mmscfd) gas dan kondensat setiap tahun. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09