Berita

ilustrasi, Petani

Bisnis

Pemerintah Kok Lebih Pilih Bantu IMF Ketimbang Petani

APBN 2013 Dianggap Tidak Mendukung Ketahanan Pangan
JUMAT, 04 JANUARI 2013 | 08:08 WIB

Target pemerintah melakukan diversifikasi produk pangan pada 2013 masih sulit tercapai. Hal ini ditandai dengan lemahnya politik anggaran dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013.

“APBN 2013 tidak mendukung di­­versifikasi pangan yang sela­ma ini dinilai salah satu kunci ke­ta­hanan pangan,” ujar Se­kre­taris Jenderal Koalisi Rakyat un­tuk Keadilan Perikanan (Kiara) M Riza Damanik kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Riza mengatakan, alokasi APBN 2013 untuk penguatan ke­tahanan pangan naik sekitar tiga kali lipat, yakni dari Rp 23,3 tri­liun pada 2007 menjadi Rp 63,2 triliun pada 2013. Kendati be­gi­tu, alokasi tersebut masih ter­ba­tas untuk peningkatan pro­duk­tivitas tanaman pangan, terutama padi dan palawija.

Sedangkan untuk pangan per­ikanan, masih belum men­da­pat perhatian optimal yang se­ha­rus­nya dapat dilakukan peme­rintah. Padahal, jika saja peme­rintah dapat memperbesar kapa­sitas pengelolaannya di sektor pangan perikanan, dengan sen­dirinya dapat mengurangi keter­gan­tung­an pada impor pangan, baik dari pertanian, peternakan mau­pun perikanan itu sendiri.

Upaya tersebut seharusnya ti­dak sulit dilakukan pemerintah karena Undang-Undang No. 18 Ta­hun 2012 tentang Pangan telah mem­beri kedudukan yang sama atas kepentingan dan prioritas ne­gara dalam menjamin pening­ka­tan kapasitas, baik dalam sektor pa­ngan pertanian maupun perika­nan, termasuk bagi para pelaku­nya, yai­tu petani dan nelayan.

Kepala Bidang Kampanye dan Hubungan Internasional Indo­nesia for Global Justice (IGJ) Ri­ka Febriani mengatakan, kedau­latan pangan masih akan men­jadi persoalan utama yang di­hadapi Indonesia di 2013. Hal ini lebih dikarenakan peme­rintah salah memberikan prioritas ang­garan pada APBN 2013.

Berda­sarkan Undang-un­dang (UU) No.19 Tahun 2012 tentang APBN 2013, pemerintah hanya mampu mengalokasikan sebe­sar Rp 17,1 triliun untuk subsidi pu­puk dan benih. Keduanya un­tuk mem­bantu petani dan keta­hanan pa­ngan.

“Di tengah persoalan pangan yang kian membebani bangsa-bangsa di dunia, Pemerintah In­donesia justru memberi prioritas untuk membantu IMF Rp 25,8 tri­liun ketimbang petani dan nela­yan Indonesia,” sentil Rika.

Faktor lain yang menjadi peng­hambat kedaulatan pangan di 2013 adalah keterbatasan pembe­rian subsidi untuk komoditas ter­tentu, yakni padi dan palawija. Padahal, Indonesia memiliki po­tensi keberagaman pangan yang besar seperti jagung, gan­dum yang mayoritas dikon­sumsi  masya­rakat Indonesia di bagian timur.

“Jenis-jenis ko­moditas yang bersifat serealia ini tidak men­da­pat perhatian dari pemerintah, se­tidaknya dalam APBN 2013” cetus Rika.  

Asian Development Bank (ADB) menyatakan, persoalan ke­tahanan pangan di kawasan Asia pada masa mendatang akan banyak tan­tangan, antara lain laju per­tumbuhan penduduk yang pesat.

“Asia menghadapi tantangan yang berat untuk memberi makan 5 miliar orang pada 2030,” kata Wakil Presiden ADB Bidang Manajemen Pengetahuan dan Pembangunan Berkelanjutan Bindu Lohani.

Untuk itu, pemerintahan di Asia diminta agar menahan har­ga pangan serta memastikan ke­taha­nan pangan regional jangka pan­jang yang membutuhkan rantai suplai dari lahan pertanian ke pa­sar yang lebih efisien dan ber­biaya lebih rendah.

Untuk diketahui, dalam APBN 2013 pemerintah menetapkan subsidi non energi Rp 42,4 triliun. Angka itu lebih kecil dibanding APBN Perubahan 2012 sebesar Rp 42,7 triliun. Untuk subsidi pa­ngan, pemerintah menetapkan Rp 17,1 triliun untuk tahun depan. Anggaran itu lebih rendah diban­ding 2012 sebesar Rp 20,9 triliun.

“Angka itu lebih rendah Rp 247,5 miliar dibanding 2012,” ujar Menteri Keuangan Agus Martowardojo.

Namun, kata Agus, subsidi pu­puk tahun depan mengalami pe­ningkatan dari Rp 13,9 triliun men­jadi 16,2 triliun. Kenaikan pa­ling tinggi dialami subsidi benih. Tahun depan subsidi benih dite­tapkan Rp 1,4 triliun, angka ini naik tajam dibanding sub­sidi be­nih tahun ini Rp 129,5 miliar.

Badan Pusat Statistik (BPS) men­catat, impor pangan pada No­vember 2012 mencapai 1,8 juta ton atau senilai 921 juta dolar AS. Secara kumulatif (Januari-No­vem­ber 2012), impor komo­ditas ini 16 juta ton atau 8,5 miliar dolar AS atau Rp 80,75 triliun. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Sidang Bluray Cargo Ungkap Kode-kode Suap untuk Kementerian/Lembaga

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58

Duel Raksasa Eropa Prancis Hadapi Spanyol di Semifinal Piala Dunia 2026

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37

Adian Napitupulu: Kehadiran Buku Anotasi KUHAP Penting bagi BAM DPR

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25

Pengacara Bantah Don Ritto Terlibat dalam Megakorupsi Bersama Febrie

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00

Harga Minyakita Masih di Atas HET, Kemendag Bakal Perketat Distribusi Lewat BUMN

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45

Revisi UU Zakat, FOZ Dorong Skema Zakat sebagai Pengurang Pajak

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37

Sinopsis Film Kung Fu Soccer, Comeback Stephen Chow Raup Rp1,3 Triliun dalam Dua Hari

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33

Menag Ajak Alumni PTKIN Berkontribusi di Pemerintahan Prabowo

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13

Ade Ginanjar Bela Bahlil: Polemik Batu Bara Jangan Digiring ke Ranah Politik

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10

Spesifikasi Lengkap Samsung Galaxy A27 5G Indonesia, Segini Harganya

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09

Selengkapnya