ilustrasi, rusun
ilustrasi, rusun
Proyek tersebut ditolak oleh Kementerian Pekerjaan Umum (Kementerian PU). Alasannya, pembangunan rusunawa di atas kali Ciliwung bertentangan deÂngan Peraturan Pemerintah (PP) No.38 Tahun 2011 tentang suÂngai dan Analisis Mengenai DamÂpak Lingkungan (AMDAL).
Tak hanya itu, penyerapan angÂgaran perumahan di KeÂmenÂpera sebesar Rp 4,6 triliun, dinilai Unit Kerja Presiden BiÂdang PeÂngaÂwasan dan PengenÂdalian PemÂbangunan (UKP4) masih rendah. Dalam 6 bulan pertama, keÂmeÂnterian yang dipimpinan Djan Faridz ini hanya menyerap 2,39 persen dari anggÂaran tersebut atau sekitar Rp 110 miliar.
Anggota Komisi V DPR biÂdang Perumahan Saleh Husin mengaku kecewa dengan kinerja Menteri Djan, yang tidak mamÂpu mengÂoptimalkan anggaran untuk progÂram perumahan bagi rakyat kecil. Politisi Hanura ini melihat, manÂdeknya program itu lantaran tidak adaÂnya koordiÂnasi. MenpeÂra lebih meÂmiÂlih jaÂlan sendiri. Buntutnya, progÂram perumahan jalan di tempat.
“Pak Djan kerap umbar-umbar program, tapi tidak jelas reaÂliÂsaÂsinya. Harusnya, sejak awal sudah dipikirkan secara matang, baÂgaiÂmana logikanya memÂbaÂngun rusun di atas kali dan proÂyek lainÂnya,†kritik Saleh saat dikontak Rakyat Merdeka, kemarin.
Saleh meminta KeÂmenpera melakukan koorÂdinasi lebih duÂlu, sebelum meneÂlurkan sebuah progÂram sesuai kebijakan yang ada. Terutama soal program pengganti proyek rusunawa CiÂliwung, yakni renÂcana pembaÂngunan rusun di sekitar PaÂsar Rumput, Jakarta Selatan.
â€Program itu harus dilihat daÂri kesiapan sarana dan prasarana nya mulai dari lahan, Analisis MeÂngeÂnai Dampak Lingkungan (AmÂdal) dan lainnya. Dengan beÂÂgitu, proÂyek tersebut bisa diÂreaÂlisasikan dengan baik. PenÂcitraan itu harus dilakukan seÂsuai dengan basis kinerja. BuÂkan umbar janji saja,†sentilnya.
Anggota Komisi V DPR MarÂwan Djafar menyatakan, kinerja Menpera tidak optiÂmal. Banyak program perumahÂan jaÂlan di tempat, termasuk gaÂgalÂnya proÂyek rusunawa Ciliwung.
“Minimnya daya serap angÂgarÂan Kemenpera membuktikan bahÂwa Menpera belum fokus menÂjalankan program peruÂmahÂan. TaÂhun ini diharapkan kinerÂjaÂnya biÂsa lebih baik,†katanya.
Deputi Bidang Perumahan ForÂmal Kemenpera Pangihutan MarÂpaung mengakui, rusunawa CiÂliwung gagal dibangun. KenÂdati begitu, Kemenpera telah memÂberikan dua alternatif loÂkasi lain untuk pembangunan rusuÂnawa tersebut. yakni, di dekat pasar Kampung Melayu, Jakarta Timur dan di Pasar RumÂÂput, Jakarta SeÂlatan.
“Saat ini sudah tersedia lahan sekitar 7.000 meter persegi unÂtuk pembangunan rusunawa 24 lanÂtai. Konsepnya sama dengan renÂcana pembangunan rusunaÂwa di atas sungai Ciliwung deÂngan dua bagian. Di bagian baÂwah akan berfungsi sebagai tempat berdaÂgang dan di atasÂnya meruÂpakan hunian berupa rusunawa,â€jelas Marpaung.
Rusunawa yang akan dibaÂngun ini direncanakan berukuran tipe 30 dan tipe 36 dengan faÂsilitas, ruang pertemuan, sarana sekolah, dan kesehatan. Namun, pemeÂrintah tidak menyediakan tempat parkir kendaraan.
â€Pembangunan serupa juga akan dilakukan di Pasar RumÂput. Di tempat ini sudah diseÂdiakan laÂhan seluas 1,6-1,7 hekÂtare milik Pemprov DKI Jakarta dari seÂbelumnya milik PD Pasar Jaya,†ungkapnya.
Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum (Dirjen PU) Budi Yuwono meÂngaÂtakan, Kementerian PU keÂbeÂratan atas rencana KemenÂpera terkait proyek rusunawa di atas kali Ciliwung.
Kementerian PU menilai, proÂyek itu tidak seÂsuai dengan PerÂaturan PemeÂrintah (PP) nomor 42 tahun 2008 tenÂtang Pengelolaan Sumber Daya Air yang mengatur penggunaan sungai dan dampak yang akan timbul kelak. Dalam PP tersebut, pasal 58 ayat 2b diÂjelaskan tidak boleh ada baÂnguÂnÂan yang berdiri di atas suÂngai kecuali sangat diperlukan.
“Pembangunan di atas kali itu terbatas, hanya untuk memÂbaÂngun jembatan penyeberangan saja. Jadi, sebenarnya tidak diÂperÂbolehkan untuk membaÂngun baÂngunan seperti rusun di atas suÂngai,†kata Budi.
Di negara-negara lain, meÂnuÂrutnya, pengeÂlolaan sungai diÂkembalikan pada fungsi asliÂnya, yaitu untuk mengÂalirkan air bersih. Pihaknya tak ingin meÂngambil risiko terburuk, seperti banjir dan longsor akibat samÂpah, jika proyek tersebut teÂtap dijaÂlankan. Selain itu, proyek itu haÂrus ada kajian dari segi tata ruang dan kajian AMDAL.
Menpera Djan Faridz sebeÂlumÂnya berencana memÂbaÂngun ruÂsunawa di sepanjang banÂtaran kali Ciliwung awal 2013. ProgÂram ini untuk meÂngurangi kaÂwasan kumuh di Jakarta.
“Kami akan memÂbangun rusuÂnawa seÂpanjang 30 km. Ada seÂkitar 34 ribu Kepala Keluarga (KK) akan kami bangunkan ruÂmah,†ujar Djan. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09