Berita

teguh santosa/rmol

Teguh Santosa: 2013 Tahun Vivere Peri Coloso, Sebaiknya Boediono Mundur

SABTU, 29 DESEMBER 2012 | 23:51 WIB | LAPORAN:

Tahun 2013 akan menjadi tahun yang begitu penting bagi Indonesia. Sebegitu pentingnya sehingga pantas disebut sebagai tahun Vivere Peri Coloso atau menyerempet bahaya.

Begitu dikatakan pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Teguh Santosa, saat berbicara dalam diskusi akhir tahun Pemuda Muhammadiyah yang digelar di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta (Sabtu malam, 29/12).



Istilah Vivere Peri Coloso yang berasal dari bahasa Italia ini pernah dipopulerkan Presiden Sukarno di era 1960an silam.

Setidaknya ada dua hal yang membuat 2013 dapat disebut sebagai tahun yang menyerempet bahaya. Pertama, pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah yang begitu banyak sementara waktu yang ada semakin sedikit.

Sisi makro ekonomi memang tampak menjanjikan. Tetapi kesenjangan ekonomi masih menjadi gambaran umum yang dapat disaksikan di tengah masyarakat.

Kualitas pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen masih perlu dipertanyakan lagi karena ditengarai gagal menambah lapangan pekerjaan. Tingkat pengangguran versi pemerintah memang terlihat bagus, yakni 6 persen. Tetapi, kualitas dari angka pengangguran itu pun masih harus dipertanyakan, karena survei biasanya dilakukan pada saat musim tanam dan musim panen. Belum lagi definisi kerja dan tidak berkerja yang digunakan juga terlalu minim.

Hal kedua yang membuat tahun 2013 menjadi begitu penting adalah karena hanya berjarak satu tahun dari tahun kompetisi politik 2014. Teguh khawatir konsentrasi pemerintah yang didukung oleh barisan koalisi akan terganggu.

"Bukan hanya koalisi yang menyandera pemerintah, berbagai kasus hukum berbau korupsi yang menimpa orang-orang terdekat Presiden SBY juga ikut menyandera pemerintah," ujar Teguh.

Padahal di saat yang sama pemerintah, terutama Presiden SBY, membutuhkan energi yang begitu besar untuk menyelesaikan program pembangunan yang dijanjikannya.

Ada dua kasus hukum yang menyandera SBY saat ini, sambung Teguh. Keduanya adalah Centurygate dan Hambalanggate.

Untuk Hambalanggate, tampaknya SBY akan mengambil tindakan tegas untuk membersihkan partainya dari anasir-anasir yang terlibat korupsi. Walaupun tegas, tapi Teguh yakin, tindakan pembersihan itu dilakukan ekstra hati-hati agar tidak menghukum orang yang tidak bersalah.

Sementara untuk Centurygate yang usianya jauh lebih tua, Teguh berharap Wakil Presiden Boediono mau dengan legowo mengundurkan diri.

Tiga lembaga negara, yakni Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), DPR RI, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sudah memberikan sinyal kuat bahwa keputusan Boediono sebagai Gubernur BI memberikan Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek (FPJP) kepada Bank Century pada Novembr 2008 adalah salah.

Kesalahan itu terlihat terang benderang.

Selagi Centurygate tidak diselesaikan dan dibiarkan jadi konsumsi politik maka selama itu pula pemerintah akan jadi bulan-bulanan.

"Pemerintah membutuhkan energi yang besar untuk menyelesaikan periode ini dengan baik. Terlebih di saat memasuki tahun Vivere Peri Coloso. Agar energi yang ada cukup, sebaiknya Boediono mundur," demikian Teguh. [ian]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya