ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Tahun 2012 ini dianggap sebaÂgai masa peceklik bagi BUMN yang ingin meraup dana dari paÂsar modal. Bayangkan, dari lima perusahaan, hanya satu yang meÂlakukan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Itu pun hanya sekelas PT Waskita Karya Tbk.
Pengamat pasar modal David FerÂdinandus menegaskan, Dahlan Iskan mesti tahu salah satu sisi posistif IPO adalah masyaÂrakat atau investor bisa ikut mengaÂwasi perusahaan tersebut. Dengan langÂkah ini, diharapkan pengaÂwaÂsÂan publik membuat kinerja BUMN itu makin transparan.
“Perusahaan BUMN kan peruÂsahaan negara, artinya milik rakÂyat. Kalau perusahaan itu melaÂkukan IPO, berarti masyarakat biÂsa secara langsung menjadi peÂmilik saham,†ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Sebelumnya, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengeluhkan minimÂnya BUMN yang melantai di bursa. Dari lima BUMN yang ditarÂgetÂkan go public tahun ini, baru satu yang tercatat melantai di bursa. Dia menilai, kondisi terÂseÂbut sangat ironis.
“Melihat keÂnyaÂtaan BUMN yang IPO itu menÂjadi ironi, kaÂrena lima BUMN yang ditargetÂkan akan go public hingga akhir 2012, tetapi nyatanya hanya saÂtu, itu ironi,†kritik Ito.
Mestinya, kata Ito, dari 141 peruÂsahaan pelat merah yang berkonÂtribusi terhadap pemasukÂan negara, minimal 100 BUMN bisa go public. “Kalau 100 saja listing, kapitalisasi pasar akan terus tumÂbuh,†tuturnya mantap. (RakÂyat Merdeka, 20/12)
David yakin perusahaan BUMN yang IPO akan menarik investor, terutama investor daÂlam negeri. “Tinggal nanti soÂsialisasiÂnya saja untuk meningÂkatkan animo invesÂtor lokal. JaÂngan samÂpai investor asing yang meÂnguasai saham peÂrusahaan BUMN,†tandasnya.
Bekas Sekretaris Menteri BUMN M Said Didu mengatakan, kesuÂlitan BUMN mendapatkan izin IPO karena gencarnya intervensi politik DPR. Lihat saja dalam pembahasan periÂzinan IPO harus melalui persetuÂjuan Komisi XI dan Komisi VI DPR, sehingga jaÂlur birokrasinya bertambah rumit.
“Untuk IPO diharuskan mendaÂpatkan izin dari dua komisi, yaitu XI dan VI DPR, ini sebagai salah satu kendalanya,†ujarnya.
Menurutnya, pemahaman angÂgota DPR tentang IPO BUMN berbeda-beda. Hal itu juga mengÂakibakan lamanya waktu yang diÂproses hingga izin diberikan DPR.
“Pemahaman tentang urÂgensi privatisasi anggota DPR itu berÂbeda-beda dan anggotanya sering berganti-ganti. Itu juga sebagai kesulitannya,†kritik Said.
Karena itu, menurut Said, keÂsulitan BUMN untuk mendapatÂkan izin harus diÂcari jalan keÂluarnya. Salah satuÂnya, memangÂkas jalur izin IPO di dewan.
“Benahi mekanisme DPR, haÂrus ada kesepakatan politik, diÂperlukan lobi dari pemerinÂtah ke DPR dan harus jelas yang berweÂnang, ini Menteri BUMN apa Menkeu,†tandasnya.
Sebelumnya Dahlan mengakui sulitnya mendapatkan izin IPO BUMN di DPR. Seperti yang diÂalami PT Semen Baturaja yang terpaksa menunda rencana penÂjualan sahamnya karena belum mendapat restu dari politisi.
“Semen Baturaja boleh dibiÂlang program IPO yang carry over taÂhun depan. Selain itu, dari kita (Kementerian BUMN) ingin BUMN yang bergerak di bidang jasa logistik, PT Pos, juga PagaÂdaian,†imbuh Deputi Bidang Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis Kementerian BUMN Pandu Djajanto. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09