Berita

ilustrasi, Kilang

Bisnis

Kilang Minyak Pertamina Mirip Gado-gado Dan Sudah Uzur

Ngebet Bangun Kilang Untuk Menjamin Ketahanan Energi
SENIN, 24 DESEMBER 2012 | 08:17 WIB

.PT Pertamina (Persero) mengklaim ada pihak yang tidak suka dengan rencana perusahaan pelat merah itu membangun kilang minyak baru.

“Tidak semua pihak happy (senang) dengan pembangunan proyek ini,” ujar Vice President Corporate Communication Perta­mina Ali Mundakir, Jumat (21/12).

Padahal, menurut dia, mem­ba­ngun kilang baru sangat pen­ting untuk memenuhi kebu­tuhan mi­nyak dalam negeri yang sela­ma ini kekurangan dan masih di­pe­nuhi oleh impor. Selain itu, ki­lang juga dimaksudkan untuk me­me­nuhi kebutuhan bahan ba­ku in­dustri petrokimia.

“Kilang yang ada saat ini sudah tua dan desainnya untuk minyak campur alias gado-gado sehingga hasilnya tidak mak­simal. Mes­tinya kilang itu fokus pada bahan jenis tertentu agar hasilnya mak­simal,” terang Ali.

Dikatakan, yang perlu diper­ha­ti­kan dalam pembangunan ki­lang adalah ja­minan pasokan minyak. “Pa­so­kannya harus kon­sisten. Kilang itu tidak seperti in­dustri baju, yang bisa mengambil bahan ba­kunya dari mana saja. Kalau ki­lang mi­nyaknya gado-gado, ha­silnya ti­dak akan mak­simal,” jelas Ali.

Apalagi, lanjutnya, indeks kom­pleksitas kilang Indonesia rata-rata masih di bawah 5. Padahal, kilang di Singapura  in­deks kom­pleksitasnya 7.

Ali menerangkan, kendala lain dalam pembangunan kilang ada­lah marginnya yang sangat kecil. Karena itu, tujuan utama Per­ta­mina membangun kilang untuk menjamin ketahanan energi.

“Saat ini, kita masih impor 300 sampai 400 ribu barel per hari un­tuk memenuhi kebutuhan domes­tik. Karena itu, jika kilang di ne­gara-negara langganan kita beli sedang batuk atau bermasalah, akan langsung berpengaruh ter­hadap Indonesia,” terangnya.  

Menurutnya, negara-negara lain sangat serius mendukung pem­bangunan kilang, salah satu­nya dengan memberikan insentif. Con­­tohnya Arab Saudi yang mem­­berikan insentif dalam ben­tuk diskon crude-nya. Bahkan di Malaysia saja jika ada perus­ahaan luar negeri yang mau bisnis atau jualan BBM di negaranya, diha­ruskan membangun kilang.

“Tapi Indonesia yang terkenal sebagai bangsa ramah dengan investor ramah, siapapun bisa jualan BBM tanpa harus bangun kilang. Seharusnya mereka di­wa­jibkan bangun kilang, sehingga ketika mereka keluar kilangnya jadi milik kita,” ucapnya.

Ali mengatakan, seharusnya pemerintah lebih mengutamakan kepenti­ngan nasional karena ke­tahanan BBM kita hanya 20 hari dan sepenuhnya menggunakan uang Pertamina hampir Rp 26 triliun. Sedangkan Korea Selatan dan Je­pang cadangan BBM na­sionalnya mencapai 90 hari.

Anggaran yang dibutuhkan untuk membangun kilang dengan kapasitas 100 ribu barel sebesar 2-4 miliar dolar AS. Sedangkan untuk kapasitas 200 ribu barel membutuhkan 8 miliar dolar AS.

Karena itu, Pertamina terus me­ngupayakan pembangunan ki­lang baru bekerja sama dengan Saudi Aramco dan Kuwait Pe­tro­leum International (KPI) dengan kapasitas rata-rata 300 ribu barel per hari. Dengan ada­nya kilang baru, perseroan me­nargetkan me­nguasai pasar pe­trokimia na­sio­nal hingga 80 persen pada 2025 dan 30 persen pada 2017.

Dirjen Basis Industri Manu­faktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto mengatakan, saat ini impor di sektor migas dan petrokimia sa­ngat besar, yaitu mencapai 32 miliar dolar AS. Ditambah ke­mampuan produksi minyak da­lam negeri sudah menurun.

Dia berharap, dengan diba­ngun­­nya tiga kilang minyak baru berkapasitas masing-masing 300 ribu barel per hari yang terin­teg­rasi dengan industri petrokimia, akan mengurangi impor BBM dan menjadikan Indonesia net eksportir untuk produk-produk petrokimia.

“Saat ini integrasi dan sinergi antara kilang minyak dan industri petrokimia masih belum berjalan dengan baik,” kata Panggah. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Sidang Bluray Cargo Ungkap Kode-kode Suap untuk Kementerian/Lembaga

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58

Duel Raksasa Eropa Prancis Hadapi Spanyol di Semifinal Piala Dunia 2026

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37

Adian Napitupulu: Kehadiran Buku Anotasi KUHAP Penting bagi BAM DPR

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25

Pengacara Bantah Don Ritto Terlibat dalam Megakorupsi Bersama Febrie

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00

Harga Minyakita Masih di Atas HET, Kemendag Bakal Perketat Distribusi Lewat BUMN

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45

Revisi UU Zakat, FOZ Dorong Skema Zakat sebagai Pengurang Pajak

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37

Sinopsis Film Kung Fu Soccer, Comeback Stephen Chow Raup Rp1,3 Triliun dalam Dua Hari

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33

Menag Ajak Alumni PTKIN Berkontribusi di Pemerintahan Prabowo

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13

Ade Ginanjar Bela Bahlil: Polemik Batu Bara Jangan Digiring ke Ranah Politik

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10

Spesifikasi Lengkap Samsung Galaxy A27 5G Indonesia, Segini Harganya

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09

Selengkapnya