Direktorat Jenderal PaÂjak
Direktorat Jenderal PaÂjak
Anggota Komisi XI DPR AchÂsanul Qosasi mengatakan, pihakÂnya akan terus mengawasi kinerja Direktorat Jenderal (DitÂjen) PaÂjak, khususnya dari segi peneriÂmaan pajak. Menurut dia, tahun depan PaÂnitia Kerja (Panja) PeneÂrimaan PaÂjak akan memanÂtau leÂbih intensif sisi penerimaan pajak Indonesia.
“Panja akan menyoroti bagaiÂmana penerimaan pajak kita suÂpaya tidak selalu turun,†ucapnya.
Politisi Partai Demokrat ini juga mengimbau Ditjen Pajak memperbaiki kinerjanya guna mengembalikan kepercayaan pengusaha dan masyarakat. Ia meyakini, jika kepercayaan memÂbayar membaik, maka peneÂrimaan bersih negara diperkiraÂkan mencapai Rp 1.500 triliun.
“Itu artinya APBN kita tidak perlu defisit. Kita tidak perlu menutup defisit dari utang luar negeri,†tandasnya.
Pengamat ekonomi Hendri SaÂparini mengatakan, kegagalan peÂmerintah menariki pajak meÂruÂpakan dampak dari kekeÂceÂwaan pengusaha dan masyaÂrakat yang masih menilai burukÂnya kinerja Ditjen Pajak. Hal tersebut sudah sejak lama terjadi, sayangnya belum ada pembeÂnahan yang signifikan.
“Ini yang menyebabkan terÂgangÂgunya kinerja pemerintah dalam mencapai target peneÂriÂmaan pajak. Pemerintah harus meÂlakukan pembenahan secara konsisten sehingga pengusaha atau masyarakat bisa percaya bahwa Ditjen Pajak sudah bersih dan berjalan baik,†kata Hendri.
Menurut dia, jika situasi seperti ini dibiarkan, akan menyebabkan terseok-seoknya target peneÂriÂmaan pajak di beberapa tahun terÂakhir. Jadi tidak menutup keÂmungkinan pembangunan infraÂstruktur dan pertumbuhan ekonoÂmi di masa depan akan terganggu. Jika penerimaan negara dari sektor pajak terus tidak mencapai target, bagaimana mungkin InÂdonesia akan mengalami pemÂbangunan yang konkrit.
Hendri menjelaskan, selama ini pengelolaan dan pembangunan neÂgara baru ditopang oleh 520.000 perusahaan dan 25 juta orang pribadi. Selebihnya adalah free rider yang menikmati hidup di negeri ini, tapi tidak mau memÂbayar pajak. Belum lagi peÂnguÂsaha besar yang enggan memÂbayar pajak dengan berbagai alasÂan yang berpotensi memÂbahaÂyakan keuangan negara.
“Adanya tuduhan bahwa di Ditjen Pajak itu banyak korupsi perlu direspons dengan langkah konkret, bukan mengeluarkan ancaman. Kalau tidak bisa, bakal jadi bumerang bagi pemerintah. Makanya, memÂbangun keperÂcaÂyaan pengusaha dan masyarakat untuk membayar pajak merupaÂkan kunci utama dari keberhaÂsilan pemerintah menarik pajak,†ujar Hendri.
Dirjen Pajak Fuad Rahmany memperkirakan, realisasi peneÂrimaan pajak selama 2012 makÂsimal cuma 95 persen dari target penerimaan pajak dalam APBN Perubahan 2012. Ia mengatakan, perkiraan realisasi penerimaan pajak tersebut lebih rendah dari realisasi penerimaan pajak tahun 2011 yang mencapai 97 persen dari target APBN 2011. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09