Berita

ilustrasi/ist

Bangkit Bersatu, Lawan VOC Model Baru!

JUMAT, 21 DESEMBER 2012 | 22:32 WIB | LAPORAN:

Sebelumnya, keseharian para petani Jambi begitu riang. Di pagi hari mereka berjalan ke sawah serta ladang dengan memanggul cangkul. Di pinggangnya terselip parang.

"Tanah adalah harapan serta sumber kehidupan. Bergotong-royong mereka menanam palawija, padi, pohon buah, aren, karet hutan, umbi-umbian serta sayur-sayuran. Di pinggir pantai, mereka membudidayakan rumput laut serta ikan," ujar Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik Agus Jabo Priyono kepada Rakyat Merdeka Online, Kamis malam (21/12).

Lanjut Agus, kehidupan seperti itu pun diamali petani di Sape dan Lambu Kabupaten Bima, petani di Pulau Padang Kabupaten Kepulauan Meranti, petani di Talaga Kabupaten Buton, Petani Mekar Jaya dan Kunangan Jaya II di Jambi. Dan semua petani lain yang hidup dari bercocok tanam di tanah air Indonesia yang merdeka ini.


Namun semuanya berubah. Ini setelah menteri kehutanan, bupati dan para petinggi negara lainnya mengeluarkan SK bahwa tanah pertanian, tempat menggantungkan kehidupan diberikan kepada pemilik modal. Para petani pun diusir dan dibantai dengan membabibuta. Mereka menggunakan preman serta aparat negara.

"Bukan hanya tanah yang direbut, tetapi kehidupan, masa depan, serta kehormatan. Jadilah tanah mereka hutan tanaman industri punya asing. Jadilah tanah mereka, kebun sawit mereka jadi punya asing. Tambang-tambang pun kini punya Asing," lirihnya.

Para petinggi Negara, sambung Agus, layaknya priyayi jaman kolonial Belanda. Mereka takluk, jadi pesuruh, pengumpul pajak dan upeti. Mereka pun bangga dengan gelar dan hadiah yang diberikan oleh tuannya.

"Kewajiban kita saat ini, bangkit dan bersatu melawan VOC berbaju baru, beserta para persuruhnya. Mari kita kembali rebut kedaulatan bangsa," tegasnya berapi-api. [arp]

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Insiden di Lebanon Selatan Tak Terlepas dari Eskalasi Israel-Iran

Jumat, 03 April 2026 | 10:01

Emas Antam Ambruk Rp85 Ribu, Termurah Dibanderol Rp1,4 Juta

Jumat, 03 April 2026 | 09:54

UNIFIL Gelar Upacara Penghormatan Terakhir untuk Tiga Prajurit TNI

Jumat, 03 April 2026 | 09:48

KPK Tegaskan Tak Ada Intimidasi dalam Penggeledahan Rumah Ono Surono

Jumat, 03 April 2026 | 09:40

Komisi VIII DPR Optimis Jadwal Haji 2026 Tetap Aman dan Lancar

Jumat, 03 April 2026 | 09:26

Aksi Borong Bensin Picu Kelangkaan BBM di Prancis

Jumat, 03 April 2026 | 08:51

Reformasi Maret Tuntas: Jalan Terang Modal Asing Masuk Bursa

Jumat, 03 April 2026 | 08:26

Wall Street Melemah Tipis, Investor Berburu Aset Aman

Jumat, 03 April 2026 | 08:13

Serangan Israel Lumpuhkan Dua Pabrik Baja Iran, Produksi Terhenti hingga Setahun

Jumat, 03 April 2026 | 08:04

Dolar AS Perkasa, Indeks DXY Tembus Level Psikologis 100

Jumat, 03 April 2026 | 07:50

Selengkapnya