Berita

Bakrie Group

Bisnis

Bakrie Sibuk Cuci Gudang

Setelah Jalan Tol, Bisnis Tambangnya Bakal Dilego
JUMAT, 21 DESEMBER 2012 | 08:16 WIB

Jelang akhir tahun, Bakrie Group sibuk cuci gudang untuk mempertahankan bisnisnya di tengah tumpukan utang. Setelah melego jalan tol ke MNC Group, Bakrie akan menjual bisnis tambangnya.

PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) berencana melepas se­ba­gian saham mereka di sejum­lah anak usahanya guna melan­jutkan proyek pengembangan. Seperti diketahui, anak usaha Grup Ba­krie ini membutuhkan dana besar untuk membiayai tiga proyek eksplorasi.

Menurut Sekretaris Korporat Bumi Resources Mineral Herwin Hidayat, saat ini setidaknya ada tiga usaha pertam­bangan di mana BRMS menjadi pemegang saham mayoritas dan kemungkinan akan dilepas untuk membiayai proyek itu sendiri. Tiga perusahaan itu adalah PT Dairi Prima, PT Go­ron­talo Mine­ral dan PT Citra Palu.

“Kami bakal bermitra dengan beberapa partner strategis untuk tambang yang sahamnya kami masih mayoritas,” katanya usai paparan publik di Four Seasons Hotel Jakarta, kemarin.

Dia menyebut, untuk proyek Dairi Prima dan Gorontalo, pi­hak­nya memiliki saham sekitar 80 persen dari masing-masing usaha. Sementara di Citra Palu, per­seroan memiliki saham seba­nyak 96,97 persen.

“Saham inilah nantinya yang akan dilepas, tetapi untuk besa­ran­nya belum dapat disampai­kan saat ini, yang pasti kami usa­ha­kan untuk tetap jadi ma­yoritas,” jelas Herwin.

Pengamat pasar modal Agus Irfani pernah mengatakan, me­redupnya bisnis Bakrie bisa ter­lihat dari kerugian yang di­derita BUMI yang mencapai 334,111 juta dolar AS. Mengutip laporan keuangan BUMI 2011, perseroan mencatatkan utang jatuh tempo tahun 2012 mencapai 638 juta dolar AS (Rp6,38 triliun).

Se­mentara tahun 2013 sebesar 1,1 miliar dolar AS, 2014 sebesar 635 juta dolar AS, pada 2015 sebesar 313 juta dolar AS, 2016 sebesar 450 juta dolar AS dan di 2017 sebesar 700 juta dolar AS. Maka jika disederhanakan, hing­ga 2014 BUMI harus me­lunasi utang jatuh tempo 3 miliar dolar AS (Rp 30 triliun).

Melihat begitu besarnya utang jatuh tempo BUMI, membuat bisnis Grup Bakrie yang lainnya akan terimbas untuk me­nang­gung beban utang BUMI.

Analis BNI Securities Viviet S. Putri mengatakan, aksi korporasi yang dilakukan kelompok usaha Grup Bakrie akan terbebani utang. Be­ban itu tidak hanya kepada en­titas usahanya, namun juga pada enti­tas lain dalam kelompok pe­ru­­sahaan Bakrie seperti di jalan tol, media dan bisnis tambang.

“Jadi pendapatan dan labanya dikonversi untuk membayar utang. Istilahnya gali lubang tutup lubang,” ujar Viviet.

Sementara motor uang Grup Bakrie yang lain seperti PT Ba­krieland Development Tbk (ELTY) atau PT London Suma­tera Plantations (UNSP) sudah ti­dak bisa diharapkan. Di ELTY, ke­pe­milikan Grup Bakrie sudah tidak mayoritas pasca masuknya Li­mitless World Inter­na­tional Ser­vices Ltd. Kini, sa­ham Bakrie di perusahaan pro­perti itu hanya ter­sisa 8persen.

Ditegur

United Kingdom Take Over Panel (TOP) melakukan investi­gasi di Bumi Plc terkait  kepe­milikan 50,3 persen hak su­ara yang dimiliki oleh Grup Bakrie dan Bukit Mutiara. Bukit Mutiara merupakan perusahaan milik Grup Recapital yang dipim­pin oleh Rosan P Roeslani. Bukit Mutiara sebelumnya adalah pe­milik mayoritas saham PT Be­rau Coal Energy Tbk (BRAU) yang sekarang dikuasai Bumi Plc.

Regulator di Inggris tersebut me­mutuskan, Grup Bakrie dan Bukit Mutiara harus menurunkan kepemilikan sahamnya menjadi hanya 30 persen saja.

“Panel ti­dak menyadari akan aksi pem­belian saham secara diam-diam (concerted party) tersebut,” jelas United Kingdom TOP seperti di­lansir Bloomberg, ke­marin.

Mendapat teguran ini, Rosan sangat menyesalkan putusan Uni­ted Kingdom TOP itu. Apalagi, sampai menye­but Recapital se­bagai pembeli saham diam-diam.

Menurut Rosan, selama ini posisi pe­rusahaan sebagai Non-Inde­pen­dent, Non Executive Di­rec­tor di Bumi Plc adalah untuk me­wakili Grup Recapital dalam kaitannya dengan kepentingan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) yang dike­lola secara indepen­den dan pro­fesional. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Sidang Bluray Cargo Ungkap Kode-kode Suap untuk Kementerian/Lembaga

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58

Duel Raksasa Eropa Prancis Hadapi Spanyol di Semifinal Piala Dunia 2026

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37

Adian Napitupulu: Kehadiran Buku Anotasi KUHAP Penting bagi BAM DPR

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25

Pengacara Bantah Don Ritto Terlibat dalam Megakorupsi Bersama Febrie

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00

Harga Minyakita Masih di Atas HET, Kemendag Bakal Perketat Distribusi Lewat BUMN

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45

Revisi UU Zakat, FOZ Dorong Skema Zakat sebagai Pengurang Pajak

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37

Sinopsis Film Kung Fu Soccer, Comeback Stephen Chow Raup Rp1,3 Triliun dalam Dua Hari

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33

Menag Ajak Alumni PTKIN Berkontribusi di Pemerintahan Prabowo

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13

Ade Ginanjar Bela Bahlil: Polemik Batu Bara Jangan Digiring ke Ranah Politik

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10

Spesifikasi Lengkap Samsung Galaxy A27 5G Indonesia, Segini Harganya

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09

Selengkapnya