ilustrasi
ilustrasi
Rabu lalu (12/12) kios pengÂgilingan daging di Cipete, dÂiÂgeÂrebek. Di tempat itu, daging sapi dioplos dengan celeng (babi huÂtan). Seperti apa tempat pengopÂlosan itu? Berikut liputannya.
Kios berukuran 4x4 meter di JaÂlan Damai, Cipete Utara, JaÂkarta Selatan tampak sepi. Dua mesin giÂling dan genset tampak nganggur.
Dua orang mengamati kios yang terlihat kusam dari luar itu. “Pemilik sama karyawannya suÂdah tidak menggiling daging lagi sejak ditangkap,†kata Ahmad, pemilik warung rokok tak jauh dari kios ini.
Eka Prasetya, pemilik kios dan tiga karyawannya ditangkap deÂngan barang bukti 50 kilogram daging babi beku dan 15 kiloÂgram daging giling tepung.
Lokasi kios penggilingan daÂging ini berada di samping Pasar Cipete. Di deretan ini ada beÂbeÂrapa kios. Nah, kios penggilingan daging terletak di pojok. BeÂrÂseÂbelahan dengan kali kecil.
Di depan kios ada got selebar satu meter. Di atas got dibangun jemÂbatan untuk menuju kios pengÂgiÂlingan daging ini. Di samÂping jembatan dipasang pagar besi.
Begitu masuk ke dalam, terÂlihat kios ini dibagi menjadi dua lantai. Di lantai bawah ada dua mesin penggiling daging berÂukuÂran besar dan genset. Di beÂlaÂkangÂnya bale-bale untuk tempat istirahat. Di samping tempat ngaÂso itu ada ruangan kecil untuk meÂnyimpan daging.
Tangga untuk naik ke lantai berada di samping mesin giling. Lantai atas untuk tempat tidur. Orang yang bekerja di kios pengÂgilingan daging ini tidur di atas tikar. Kipas angin kecil dipasang di atap untuk mengusir gerah.
Menurut Ahmad, Eka memÂbuka usaha penggilingan daging sejak dua tahun lalu. Tak terlihat aktivitas yang mencurigakan. Kios ini buka mulai pukul empat dinihari sampai 9 pagi. “Biasanya setiap pagi sudah ramai puluhan pedagang bakso yang mengÂgiÂlingkan puluhan kilogram daging di tempat ini,†katanya.
Pria berusia 45 tahun ini meÂngatakan kios Eka ramai karena menjual daging giling lebih muÂrah. Di sini harga daging giling Rp 40 ribu per kilogram. Padahal di temÂpat lain Rp 80 ribu per kilogram.
“Akhirnya kan ketahuan, harÂganya murah karena dicampur deÂngan daging babi. Coba kalau daÂging sapi semuanya, pasti harÂganÂya tidak semurah itu,†katanya.
Ahmad mengaku sering dikaÂsih bakso buatan kios pengÂgiÂlingan daging ini. “Bila ada sisa bakso saya selalu dikasih. Karena tidak tahu (bakso mengandung daging babi) saya terima saja. Soalnya rasanya sama,†katanya.
Sejak kios ini digerebek, kata Ahmad, beberapa pedagang bakso yang kerap membeli daÂging giling di sini tak terlihat berÂjualan. “Biasanya di sekitar pasar ini ada empat penjual bakso. Tapi hari ini tidak ada satupun yang berani berjualan,†kata pria yang kaos lengan pendek ini.
Nurhasan, Kepala Seksi PeÂngaÂwasan dan Pengendalian Suku Dinas Peternakan dan Perikanan JaÂkarta Selatan menuturkan, seÂbelum melakukan pengÂgeÂreÂbekan, pihaknya telah melakukan pengintaian selama tiga minggu.
Pengintaian dilakukan setelah pihaknya menerima laporan adaÂnya bakso yang dijual dengan harÂga miring. Dari sini muncul keÂcurigaan, bakso itu dibuat dari daging babi. Pasalnya, harga daÂging sapi lebih murah dibanding daging sapi.
Saat ini harga daging sapi mencapai Rp 90 ribu kiloÂgram. Sedangkan babi hanya Rp 45 ribu per kilogram. Hasil pemeriksaan Suku Dinas, bakso yang buat di kios ini menunjukkan positif mengandung babi.
Kepada aparat yang mengÂgeÂreÂbeknya, Eka, pemilik kios meÂngaku mendapat kiriman daging murah. “Dia mengaku tidak tahu kaÂlau daging yang dikirim itu daging babi,†kata Nurhasan.
Tapi Nurhasan tak percaya 100 persen omongan Eka. Ia curiga pengoplosan ini dilakukan untuk mendapat untung besar. “Tempat usaha ini sudah dua tahun berÂopeÂrasi, tapi proses pencampuran daÂging sapi dan daging babinya kita belum tahu sejak kapan,†tegasnya.
Suku Dinas akan menelusuri dari mana daging babi itu berÂasal. “Berdasarkan pengakuan peÂmilik si Eka, dia beli daging baÂbinya di daerah Cilandak.,†kata Agung Priambodo, Kepala Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Selatan .
Dalam catatan Suku Dinas, tiÂdak ada pemasok daging babi di CiÂlandak. “Bisa jadi itu ilegal. Nanti kita akan telusuri kembali meÂngajak dia (pemilik kios),†katanya.
Selama ini, kata Agung, daging ceÂleng dipakai untuk makanan heÂwan-hewan buas di Kebon BiÂnatang Ragunan maupn Taman Safari Cisarua, Bogor.
Menurut dia, pemilik kios diÂduga melanggar Perda DKI NoÂmor 8 tahun 1989 tentang PeÂngaÂwasan pemotongan dan perÂdagangan ternak. Pelanggaran ini kategori tindak pidana ringan (tiÂpiring). “Sanksinya tiga bulan penjara atau denda maksimal Rp 5 juta,†katanya.
Bakso Daging Babi Ditemukan Di 3 Kecamatan
Bakso yang dibuat dari camÂpuran daging sapi dan celeng diÂduga beredar di sejumlah wiÂlayah di ibu kota. Untuk itu, Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jaksel melakukan pengujian terhadap bakso yang dijajakan pedagang.
Ada 46 lokasi di 10 keÂcaÂmaÂtan yang dilakukan pengujian. “Ternyata di tiga kecamatan kami temukan lima penjual bakÂso yang positif menÂgÂguÂnaÂkan daging babi. Mereka guÂnaÂkan sebagai bahan utama memÂbuat bakso,†katanya.
Tiga kecamatan itu Cilandak, Kebayoran Lama dan KebaÂyoÂran Baru. Kepada petugas, para pedagang mengaku membeli bakso jadi. “Pemilik warung beli bakso jadi. Ada juga yang menggiling daging di tempat penggilingan daging yang mengÂgunakan daging babi,†kata Agung Priambodo, Kepala Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Selatan.
Sebenarnya, kata dia, mudah mengenali daging sapi dengan daging babi. Serat daging babi lebih halus. Sedangkan sapi leÂbih kasar. Warna daging sapi leÂbih merah ketimbang daging babi. Tapi ini bisa dikelabui. “Modus operandinya (daging babi) dilumuri darah sapi biar kayak daging sapi. Saging sapi lebih merah spesifik dan seÂratÂnya lebih tebal-tebal,†katanya.
Pengujian di Jakarta Utara juga menemukan bakso yang terbuat dari daging babi. “Dari 16 sampel yang kami ambil di Pasar Anyar Bahari, Koja, Koja Baru, dan Rawabadak, ada satu yang positif mengandung daÂging babi,†kata Renova Ida SiaÂhaan, Kepala Seksi Suku Dinas Peternakan, Perikanan, dan KeÂlautan Jakarta Utara.
Kios penggilingan yang meÂmakai bahan baku daging babi itu berada di Pasar Anyar, BaÂhari. Daging babi yang sudah diÂgiling dijual ke sejumlah peÂdagang bakso di Pasar Warakas maupn pedagang bakso keliÂling.
“Dia (pemilik kios) kita beriÂkan peringatan dulu supaya jaÂngan melakukan praktik itu. KaÂlau membandel kita laporkan ke polisi,†ujar Ida.
Sejak ketahuan pakai daging babi, pemilik kios menghilang. “Kita akan terus monitoring ke temÂpat penggilingan setiap buÂlan,†kata Ida. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:51
Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:35
Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:28
Sabtu, 10 Januari 2026 | 20:53
Sabtu, 10 Januari 2026 | 20:40
Sabtu, 10 Januari 2026 | 19:53
Sabtu, 10 Januari 2026 | 19:31
Sabtu, 10 Januari 2026 | 18:53
Sabtu, 10 Januari 2026 | 18:06
Sabtu, 10 Januari 2026 | 17:36