Berita

Inilah Kriteria Sesat Lembaga Survei

KAMIS, 06 DESEMBER 2012 | 15:44 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

KALAU hari ini dibikin kontes “capres versi iklan” mungkin juaranya ada tiga: Ical, Hatta, Prabowo. Tapi tingkat popularitas akibat iklan tentu tidak paralel dengan tingkat keterpilihan.

Akal sehat juga harus sepakat bahwa alangkah berbahayanya kalau rekrutmen kepemimpinan nasional (capres) di negeri ini ditentukan oleh iklan, dan juga ditentukan oleh lembaga-lembaga survei. Produk dagang berlabel ilmiah itu, yang menjadi sihir baru untuk menyulap opini masyarakat melalui media massa. Sehingga katanya para juragan survei sekarang boleh diledek dengan sebutan tukang sihir.

Waktu beberapa hari yang lalu LSI meluncurkan hasil survei terbarunya mengenai nama-nama capres 2014, ada banyak pihak bertanya-tanya apa sebenarnya dasar LSI dalam menentukan kriteria para capres yang disurvei.

Antara lain LSI menyebut kriterianya adalah amanah dan memiliki integritas. Secara umum "memiliki integritas" antara lain berarti tidak tersangkut atau tidak terlibat dalam praktek KKN.

Kriteria capres yang dirumuskan LSI ini dianggap tidak jelas, sumir, dan menyesatkan. Karena tidak didasarkan oleh data berupa fakta bahwa figur-figur yang disurvei tersebut benar-benar bersih dari KKN dan memenuhi kriteria lainnya seperti yang dibuat oleh LSI sendiri.

Yang juga jadi pertanyaan adalah apakah para opinion leader yang oleh LSI dijadikan responden karena katanya merupakan kelompok yang memiliki informasi yang lebih baik daripada orang kebanyakan, benar-benar memiliki pengetahuan yang lengkap mengenai figur-figur yang disurvei, benar-benar mengetahui latar belakang figur per figur, dan seberapa kemampuannya untuk mengkritisi figur-figur tersebut.

Tidak dijelaskan pula secara definitif apakah yang dimaksud dengan amanah dan apakah yang dimaksud dengan memiliki integritas. Kata banyak pihak, kalau dijelaskan secara definitif, secara gamblang sejelas-jelasnya, maka tentu akan sangat banyak figur yang tidak layak dimunculkan di dalam hasil survei tersebut.

Kesimpulannya, mungkin benar seperti apa yang dikatakan pengamat politik Tjipta Lesmana dalam sebuah tulisannya di koran ini beberapa hari yang lalu, sebaiknya hasil-hasil survei kita anggap saja sebagai hiburan.

Namun menurut saya supaya fair dan masyarakat bisa mendapatkan informasi serta pendidikan politik yang sehat hasil-hasil survei mengenai calon presiden seharusnya dibedah secara kritis, syukur-syukur dilakukan secara ilmiah pula, oleh lembaga survei yang independen, yang tidak memasang target bayaran karena pesanan. Kalau ada.

Dalam menetapkan kriteria capres lembaga survei tidak boleh main-main, apalagi kalau tujuannya hanya untuk menyenangkan hati si pemesan survei, terutama yang berkaitan dengan KKN, misalnya dengan menyebut figur capres tertentu sebagai figur yang bebas KKN.

Sebab hal tersebut akan berbuah malapetaka (lagi) bagi negeri ini kalau kelak figur tersebut benar-benar terpilih jadi presiden. Tentu figur tersebut akan lebih sibuk melakukan KKN, dan ini akan dicontoh oleh birokrasi di bawahnya.

Maka terjadilah pengkhianatan terhadap tujuan bernegara. Kalau sudah demikian lembaga survei bisa dikatakan termasuk penyumbang dosa terbesar kepada rakyat karena telah menetapkan kriteria sesat, benar-benar layaknya tingkah laku sesat si tukang sihir. [***]

Tulisan ini dimuat pertama kali di Harian Rakyat Merdeka.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Beruang di Istana

Kamis, 30 April 2026 | 12:14

Rincian 13 Proyek Hilirisasi Bernilai Rp116 Triliun yang Baru Diresmikan Prabowo

Kamis, 30 April 2026 | 11:56

KPK Periksa Pejabat Pemkot Madiun dalam Kasus Dugaan Pemerasan Wali Kota Maidi

Kamis, 30 April 2026 | 11:43

Menteri PPPA Disorot Usai Minta Maaf, Dinilai Perlu Tingkatkan Sensitivitas dan Komunikasi Publik

Kamis, 30 April 2026 | 11:27

Arab Saudi Beri Asuransi Khusus Risiko Panas Saat Puncak Haji

Kamis, 30 April 2026 | 11:06

Bangkit dari Kubur! Friendster Sang Pelopor Medsos Resmi Kembali di 2026

Kamis, 30 April 2026 | 11:05

Hasil Komunikasi Dasco dengan Presiden Prabowo, Pemerintah Siapkan Rp 4 Triliun Perbaiki Perlintasan Kereta Api

Kamis, 30 April 2026 | 11:02

Harga Emas Antam Ambruk ke Rp2,7 Juta per Gram di Akhir Bulan

Kamis, 30 April 2026 | 10:50

Suami Bupati Pekalongan Dicecar KPK soal Aliran Uang Perusahaan Keluarga

Kamis, 30 April 2026 | 10:45

Prabowo Dijadwalkan Hadiri Puncak Hari Buruh di Monas Besok

Kamis, 30 April 2026 | 10:28

Selengkapnya