Berita

century/ist

Siapa akan Ketiban Duren Skandal Century?

SELASA, 04 DESEMBER 2012 | 21:25 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

KALAU Boediono jatuh karena skandal Century, siapa yang akan "ketiban duren", untuk menggantikannya sebagai wakil presiden mendampingi SBY dalam waktu kurang dari dua tahun ke depan?

Pasal 8 UUD 45 sudah mengatur kalau hal seperti itu terjadi, maka selambat-lambatnya dalam waktu enam puluh hari, MPR bisa menyelenggarakan sidang untuk memilih wakil presiden dari dua calon yang diusulkan oleh presiden.

Siapa calon yang mungkin diusulkan oleh presiden? Banyak spekulasi menyebut calon tersebut kemungkinan adalah Jusuf Kalla (JK).


Kenapa Jusuf Kalla? Alasannya sangat klise, karena pernah mendampingi SBY sebagai wapres. Walaupun faktanya pasangan SBY-JK merupakan sosok yang saling bertolak belakang, terutama dalam hal karakter serta inisiatif dalam hal pengambilan keputusan.

Spekulasi yang menyebut kalau Boediono jatuh maka SBY akan memilih JK sebagai pendamping sangat diragukan oleh banyak kalangan, pertama karena orang-orang dekat JK saat ini sebenarnya sedang fokus memunculkan wacana duet Megawati-Jusuf Kalla sebagai pasangan capres dan cawapres di 2014 nanti.

Semangat orang-orang dekat Jusuf Kalla untuk menduetkan Megawati-JK ini semakin tinggi menyusul adanya kabar santer capres Golkar Abu Rizal Bakrie saat ini sedang mengalami problem keuangan dan berbagai sektor bisnisnya terancam krisis.

Seperti diketahui, antara lain majalah Forbes memberitakan Aburizal Bakrie tahun ini tidak lagi termasuk dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia, sehingga sampai-sampai sebuah stasiun televisi miliknya bakal dilego untuk menutupi hutang-hutang bisnis keluarga Bakrie.

Sementara orang-orang dekat JK juga masih terus bergerilya untuk memposisikan JK sebagai calon presiden dari Golkar, termasuk faksi Akbar Tandjung di Golkar yang punya agenda sendiri.

Kedua, kalau JK menerima untuk kembali menjadi wapresnya SBY, maka kemungkinan besar JK bukan saja tidak akan populer, sanjungan berupa gelar Bapak Bangsa yang telah diagul-agulkan oleh banyak kalangan akan luntur, JK dipastikan akan terlibat dalam pemerintahan yang sudah tidak efektif, apalagi hanya dalam waktu kurang dari dua tahun.

Seperti diketahui, tahun 2013 yang akan hadir sebentar lagi adalah tahun agresifitas politik, dimana konsentrasi kerja kabinet dipastikan akan berantakan, terutama para menteri yang berasal dari partai politik akan mulai sibuk dengan aktivitas partainya masing-masing.

Kondisi ini diramalkan akan membuat citra SBY di masa akhir masa pemerintahannya semakin terpuruk. Padahal citra yang baik diakhir pemerintahan konon sangat penting bagi SBY sebab kabarnya SBY berambisi untuk menjadi Sekjen PBB atau Sekjen ASEAN kalau sudah tidak lagi jadi presiden. Namun menurut banyak kalangan, memilih figur yang tidak tepat untuk diposisikan sebagai wapres apabila Boediono jatuh karena skandal Century, akan berakibat fatal bagi SBY, kemungkinan era pemerintahannya akan masuk dalam catatan sejarah kelam negeri ini.

Maka apabila Boediono jatuh karena skandal Century, SBY harus memilih dan secara tegas berani menetapkan figur yang tepat untuk dijadikan wakil presiden, yaitu figur yang bersih, yang memiliki integritas pribadi yang baik, standar etika yang tinggi, berpengalaman memimpin dalam pemerintahan, memahami dan mengamalkan ekonomi yang pro rakyat, serta mampu memulihkan citra SBY diakhir masa pemerintahannya. Dengan demikian pemerintahan akan berakhir secara chusnul chotimah.

Adapun Jusuf Kalla, sebagaimana telah banyak diusulkan oleh banyak kalangan, hendaknya diajukan agar dinominasikan sebagai calon penerima Nobel Perdamaian, karena jasa-jasanya yang tinggi di bidang kemanusiaan, antara lain perannya dalam perdamaian Poso serta kiprahnya sebagai orang nomor satu di Palang Merah Indonesia yang sangat memukau. [***]

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Asta Cita Tanpa Konsistensi akan Timbul Moral Hazard

Senin, 08 Juni 2026 | 05:48

Pameran ‘Aku Arek Suroboyo’ Ramaikan Peringatan Bulan Bung Karno

Senin, 08 Juni 2026 | 05:24

GP Ansor Jakbar Gelar Diklatsar Tanggapi Sebutan ‘Gotham City’

Senin, 08 Juni 2026 | 04:59

Pernyataan Purbaya dan Djaka Saling Menguatkan dalam Kasus Tiffany & Co

Senin, 08 Juni 2026 | 04:46

Perkuat KDKMP

Senin, 08 Juni 2026 | 04:26

Purbaya Tidak Punya Backup Politik untuk Jalankan Misi Presiden

Senin, 08 Juni 2026 | 03:57

Jangan Kasih Tempat untuk Boti di Negeri Ini!

Senin, 08 Juni 2026 | 03:37

BEI Jabar Gencarkan Literasi Pasar Modal ke Kampus hingga SD

Senin, 08 Juni 2026 | 03:17

Menanti Hasil Uji Fundamental Perekonomian Indonesia

Senin, 08 Juni 2026 | 02:59

IPB University Raih Juara Umum Program Mahasiswa Berdampak Kemendiktisaintek

Senin, 08 Juni 2026 | 02:50

Selengkapnya