Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

Hobi Pake High Heels Rawan Kena Komplikasi Tulang Kaki

Abaikan Risiko, 50 Persen Wanita Gemar High Heels
JUMAT, 30 NOVEMBER 2012 | 08:11 WIB

Mau tampil cantik dan keren tidak harus memakai sepatu hak tinggi atau high heels. Sebab, high heels bisa memicu komplikasi kesehatan tulang, terutama pada bagian kaki.

Memakai sepatu hak tinggi pa­­da wanita sebaiknya dihinda­ri ka­rena bisa mengganggu per­tum­buhan tulang. Komplikasi akut ini ditandai dengan rasa nyeri, pegal, kejang otot, vari­ses, cacat kaki, telapak kaki dan mata kaki nyeri, hingga osteo­ar­thritis (nyeri dan kaku pada persendian tulang).

Menurut Dokter spesialis orto­pedi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indo­ne­sia (FKM-UI) Gatot Ibrahim Wi­jayadi, high heels telah men­jadi trendsetter di kalangan wa­nita. Bahkan, hampir 50 per­sen wani­ta memakai hak tinggi dan cen­de­rung mengabaikan risi­konya.

“Risiko sepatu hak tinggi bisa menyebabkan komplikasi tulang penyakit kronis (tahunan),” ung­kap Gatot dalam seminar kese­hatan bertajuk ‘Sindrom High Heels, Penambah Tinggi Penam­­pilan Yang Tidak Ergonomis’ di Jakarta, Selasa (20/11).

Menurut Gatot, komplikasi tu­lang kaki akan ditandai de­ngan rasa nyeri, pegal, kejang otot, va­rises, cacat kaki, telapak kaki dan mata kaki nyeri, hing­ga osteoar­thritis.

Osteoartritis adalah penyakit yang disebabkan karena cairan ‘pelumas” di bagian per­sendian kaki  terkikis, yang menyebab­kan ujung tulang di persendian sa­ling bergesekan satu sama lain. Gejala ini ditandai dengan rasa nyeri di bagian persendian pergelangan kaki.

“Komplikasi kronis seperti ini biasanya terasa setelah beberapa tahun kemudian. Bahkan rasa sakit itu muncul, meskipun su­dah berhenti menggunakan se­patu hak tinggi,” kata Gatot.

 Dia menjelaskan, komplikasi tulang terjadi karena adanya pe­ru­bahan titik berat pada tubuh saat memakai sepatu tinggi. Ke­tika wanita menggunakan sepatu tinggi, maka secara fisi­ologi ka­ki akan tertumpu pada ujung jari yang merosot ke ujung sepatu, dan bertumpu di ujung kaki.

Pada saat itu, metakarsal kaki akan menerima tekanan yang sa­ngat besar, sehingga tubuh akan membentuk mekanisme keseim­bangan, dengan posisi postur tu­buh dada yang lebih condong ke depan dan tubuh yang lebih te­gak.

“Hal tesebut akan menye­bab­kan manifestasi kelainan tulang lordosis (badan condong ke de­pan) dan low back pain akibat tu­buh lelah dengan posisi ter­paksa tegak,” terangnya.

Lain halnya dengan sepatu ti­dak hak tinggi, seperti sepatu da­tar (flat). Penggunaan sepatu jenis ini dinilai lebih aman dan nya­man. Sepatu datar lebih stabil dan natural untuk aktivitas. Pa­salnya, dalam kondisi stabil, ker­ja otot un­tuk menjaga kesta­bilan tidak terlalu berat.

“Bandingkan dengan sepatu hak tinggi  yang meng­akibatkan stabilitas tubuh ikut terganggu. Kerja otot menjadi lebih keras un­tuk melakukan koreksi atau kom­pensasi. Aki­batnya, pengguna sepatu hak tinggi akan merasa lebih capek,” jelas Gatot.

Untuk itu, para wanita disa­ran­kan bisa menjaga kelenturan dan perkembangan pertumbuhan tu­lang secara baik, dengan meng­hindari pemakaian high heels yang tingginya tidak lebih dari 5- 7,5 sentimeter (cm) atau tidak memakainya lebih dari dua jam.

Dokter ahli ergonomic dari FKM UI Chandra Satrya me­lihat, penggunaan high heels tak hanya berisiko pada fisiologis kaki, na­mun menyalahi prinsip kerja se­cara alamiah pada tu­lang kaki.

“Ketika kaki dalam keadaan mi­ring, sudah pasti salah posisi. Risiko keselamatan bisa timbul, seperti terpeleset, jatuh atau ke­seleo,” ujar Chandra.

Menurut dosen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) FKM UI ini, penggunaan sepatu hak tinggi harus dihindari, karena risiko kesehatan pada tulang sa­ngat besar. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

KPK Panggil 13 Saksi Kasus Mantan Wamen Imipas Silmy Karim

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:22

Gugatan PT KSS, Ahli Nilai Keputusan Kemenhub Timbulkan Konsekuensi Hukum

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:21

Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:12

Laporan HAM PBB Sebut Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01

Jakarta 499 Tahun: Birokrasi Modern Belum Cukup Tanpa Perspektif HAM.

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00

BKKBN: 8,1 Juta Keluarga di Indonesia Berisiko Stunting

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:41

Kisah Mantri Perempuan BRI Tempuh Pegunungan Toraja untuk Layani Nasabah di Wilayah 3T

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:29

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:28

Prabowo Dianugerahi Lencana Emas Adi Bakti Tani-Nelayan Maha Utama

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:24

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Bupati Muara Enim Edison

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18

Selengkapnya