Berita

ilustrasi

Politik

Apapun Namanya Pengganti BP Migas Berpeluang Jadi Bancakan Parpol

JUMAT, 23 NOVEMBER 2012 | 16:04 WIB | LAPORAN:

Kalangan aktivis mengelus dada melihat elit parpol yang  mencaci maki  Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) pasca dibubarkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Padahal selama ini BP Migas bukan rahasia lagi menjadi sapi perah parpol.

Demikian dikatakan aktivis Malari Bennie Akbar Fatah dalam perbincangan dengan Rakyat Merdeka Online, Jumat (23/11).

Menurut dia, BP Migas dilahirkan di era Presiden Megawati Soekarnoputri yang diamanatkan dalam UU 22/2001. Dasar pemikiran dan tujuan dibentuknya BP Migas kala itu  untuk menghindari conflict of interest. Benturan kepentingan saat itu adalah kerja sama hulu minyak diatasi oleh satu elemen, yakni Pertamina.

Alasan lain, BP Migas dibentuk dengan prinsip sebuah lembaga independen yang memisahkan antara tugas wewenangan fungsi pemerintah sebagai regulator dan pembuat kebijakan. Jadi policy maker dan regulator dipisahkan. Artinya, ujar Bennie,  pemerintah tidak terlibat langsung dalam pembuatan kontrak kerja sama dengan dunia usaha, private sector. Dengan demikian, ada posisi yang lebih baik bagi negara agar kerja sama lebih baik tanpa melibatkan dirinya secara langsung dalam minyak dan gas.

"Tapi pada kenyataannya BP Migas malah menjadi sapi perah parpol," ujar Bennie yang juga ketua Klinik Hukum Merdeka.

Dia juga mengingatkan agar dalam masa transisi sebelum terbitnya payung hukum baru pengganti BP Migas yakni Unit Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (UPKUHM) dan Gas Bumi,   harus dikawal. Bennie  khawatir pengganti  BP Migas,  bisa saja akan bernasib sama yakni menjadi sapi perah parpol. Apalagi jalan keluar terhadap persoalan itu sepenuhnya diatur oleh presiden.

"SBY tentunya akan membuat landasan yang tidak berbenturan dengan hukum. Bisa langgeng tuh jadi bancaan parpo," kata Bennie. [dem]

Populer

Ramadhan Pohan, Pendukung Anies yang Kini Jabat Anggota Dewas LKBN ANTARA

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:45

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

UPDATE

OTT Pegawai Pajak Jakarta Utara: KPK Sita Uang Ratusan Juta dan Valas

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:14

Mendagri: 12 Wilayah Sumatera Masih Terdampak Pascabencana

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:04

Komisi I DPR: Peran TNI dalam Penanggulangan Terorisme Hanya Pelengkap

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:33

X Ganti Emotikon Bendera Iran dengan Simbol Anti-Rezim

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:27

Trump Sesumbar AS Bisa Kuasai 55 Persen Minyak Dunia Lewat Venezuela

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:10

Konten Seksual AI Bikin Resah, Grok Mulai Batasi Pembuatan Gambar

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:52

Ironi Pangan di Indonesia: 43 Persen Rakyat Tak Mampu Makan Bergizi

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:41

Emas Antam Berkilau, Naik Rp25.000 Per Gram di Akhir Pekan

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:34

Khamenei Ancam Tindak Tegas Pendemo Anti-Pemerintah

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:22

Ekonomi Global 2026: Di Antara Pemulihan dan Ketidakpastian Baru

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:06

Selengkapnya