Berita

Jusuf Kalla/ist

Bisnis

Tiga Penyebab Perekonomian Indonesia Kalah dari China, Versi JK

KAMIS, 08 NOVEMBER 2012 | 17:19 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

. Penyebab perekonomian di Indonesia kesulitan untuk maju adalah struktur anggaran rutin yang membengkak tinggi.

Begitu dikatakan Mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla saat menjadi pembicara dalam acara seminar nasional bertajuk "Merajut Indonesia Baru" di Jakarta, Kamis (8/11).

"Sekarang ini anggaran rutin tinggi sekali atau hampir 80 persen, sementara anggaran untuk pembangunan hanya 20 persen saja," kata dia,


JK, biasa ia disapa menjelaskan, tingginya anggaran yang digunakan untuk mengatur negara dan subsidi ini menyebabkan lambatnya pembangunan sarana dan prasarana. Padahal, pembangunan itu merupakan faktor penting untuk perekonomian bangsa.

"Kenapa kita kalah bersaing dengan produk-produk dari China, salah satunya karena mahalnya biaya logistik kita," lanjut JK.

Menurut JK dalam persaingan ekonomi ada tiga hal penting yang sangat berpengaruh, diantaranya kualitas, harga, dan kecepatan.

"Nah, kita kalah saing dengan produk dari China karena mereka lebih murah dan lebih cepat," terang JK.

Selain masalah logistik, faktor tingkat bunga kredit bank di Indonesia yang masih tinggi, dan harga energi yang mahal juga menjadikan ekonomi Indonesia susah untuk maju.

"Bagaimana kita bersaing jika bunga kredit di kita masih 12 persen, sementara di Malaysia dan Singapura sudah mencapai 5 persen," katanya.

JK menyampaikan, jika anggaran untuk infrastruktur mencapai Rp 200 triliun per tahun, maka bukan tidak mungkin Indonesia akan bisa bersaing dengan China.

"Jadi intinya, pemerintah harus berani mengubah struktur anggaran dengan memperkecil cost (biaya) ekonominya," ujar JK. [sam]


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Rupiah Undervalued: Cerita yang Terus Diulang

Senin, 27 April 2026 | 03:42

Truk Pengangkut Tembakau Terguling di Ruas Tol Jangli-Gayamsari

Senin, 27 April 2026 | 03:21

Pemerintahan Jokowi Berhasil Lakukan Kemiskinan Struktural

Senin, 27 April 2026 | 02:58

Menyorot Peran Indonesia dalam Stabilitas Asia Tenggara

Senin, 27 April 2026 | 02:35

Pakar Sebut Korporasi Kapitalis Penyebab Terjadinya Kemiskinan

Senin, 27 April 2026 | 02:12

Pemerintahan Jokowi Beri Jalan Lahirnya Fasisme

Senin, 27 April 2026 | 01:51

Bonus Rp1 Miliar untuk Pemain Persib Ternyata Berasal dari Maruarar Sirait

Senin, 27 April 2026 | 01:30

Strategi Memutus Rantai “Feederism” di Selat Malaka

Senin, 27 April 2026 | 01:12

Tiket Pesawat Tak Perlu Naik meski Harga Avtur Melonjak

Senin, 27 April 2026 | 00:45

Pelaku Penembakan di WHCD Dipastikan Beraksi Sendirian

Senin, 27 April 2026 | 00:42

Selengkapnya