Berita

Politik

Tiga Potensi yang Dapat Dirajut untuk Kemajuan Bangsa Indonesia

KAMIS, 08 NOVEMBER 2012 | 14:20 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

. Persoalan bangsa Indonesia saat ini bukanlah dalam konsep- konsep bernegara, tapi lebih kepada Low enforcement. sebab, masih banyak yang tersandera oleh orang yang melaksanakan hukum di segala lini.

Padahal, menurut Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, bangsa Indonesia memiliki potensi yang bisa dirajut untuk membangun optimisme guna kemajuan bangsa.

Hal itu dikatakan Mahfud saat menjadi pembicara dalam seminar "Merajut Indonesia Baru" di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta (Kamis, 8/11).


Setidaknya, berdasarkan hemat Mahfud, ada tiga potensi yang bisa dirajut untuk membangun optimisme bagi kemajuan bangsa.

"Pertama ideologi kita yang kokoh. Pancasila itu sudah tak terkalahkan. Sudah diuji berkali-kali tapi gak bisa berubah," kata dia.

Oleh karenanya, lanjut Mahfud, sekarang kalau soal disintegrasi itu bukan penolakan ideologi, tapi adanya disorientasi mau dikemanakan negara ini oleh pemimpin. Karena semakin tidak jelas, munculnya ketidakpercayaan sehingga melahirkan pembangkangan yang sekarang sifatnya sporadis. Kalau ini dibiarkan, tambah Mahfud, maka akan masif dan terjadi disintegrasi.

"Disorientasi mau dikemanakan negara ini kemudian menimbulkan distrust, yang kemudian menjadi pembangkangan," tegas mahfud.

Modal yang kedua, lanjut Mahfud adalah masyarakat Indonesia terkenal sebagai masyarakat yang kompatibel terhadap demokrasi. Dia mencontohkan, pada tahun 1999, bangsa Indonesia ingin mengadakan pemilu langsung dengan banyak keragaman, yang awalnya diperkirakan akan terjadi pertumpahan darah, tapi pada kenyataannya tidak terjadi.

Menurutnya, itu juga sama seperti saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memenangkan pemilu, dimana diperkirakan juga akan ada kekuatan besar untuk menimbulkan pertumpahan darah.

"Tapi, sewaktu MK memutuskan, kenyataannya lawan SBY, yakni JK (Jusuf Kalla) dan Mbak Mega (Megawati Soekarnopoetri) tidak mempersalahkan. Ini mudah bagi kita untuk dirajut," terang dia.

Terakhir, masih lanjut Mahfud, adalah konstitusi kita yang sudah bagus. Pasalnya, dengan konstitusi baru itu, sangat berpeluang untuk membuka kembali otoritariarisme.

"Sekarang tertutup otoritarisme," tandasnya. [sam]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Rupiah Undervalued: Cerita yang Terus Diulang

Senin, 27 April 2026 | 03:42

Truk Pengangkut Tembakau Terguling di Ruas Tol Jangli-Gayamsari

Senin, 27 April 2026 | 03:21

Pemerintahan Jokowi Berhasil Lakukan Kemiskinan Struktural

Senin, 27 April 2026 | 02:58

Menyorot Peran Indonesia dalam Stabilitas Asia Tenggara

Senin, 27 April 2026 | 02:35

Pakar Sebut Korporasi Kapitalis Penyebab Terjadinya Kemiskinan

Senin, 27 April 2026 | 02:12

Pemerintahan Jokowi Beri Jalan Lahirnya Fasisme

Senin, 27 April 2026 | 01:51

Bonus Rp1 Miliar untuk Pemain Persib Ternyata Berasal dari Maruarar Sirait

Senin, 27 April 2026 | 01:30

Strategi Memutus Rantai “Feederism” di Selat Malaka

Senin, 27 April 2026 | 01:12

Tiket Pesawat Tak Perlu Naik meski Harga Avtur Melonjak

Senin, 27 April 2026 | 00:45

Pelaku Penembakan di WHCD Dipastikan Beraksi Sendirian

Senin, 27 April 2026 | 00:42

Selengkapnya