ilustrasi, Kilang Minyak
ilustrasi, Kilang Minyak
Dirjen Migas Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Evita H Legowo meÂngatakan, pemerintah berenÂcana membangun kilang yang dibiaÂyai APBN. Kilang yang biayanya diperkirakan Rp 90 triÂliun terseÂbut, akan dibangun di SuÂmatera Selatan.
Menurut dia, pemerintah berÂsiÂkeras membangun sendiri kilang minyak karena sejak 1998, keÂinginan untuk membangun kilang baru di dalam negeri tidak juga terwujud. “Dari 20 peruÂsahaan yang mengajukan izin memÂbaÂngun kilang, tidak satuÂpun yang dibangun,†ungkap Evita.
Dia mengaku, kilang tersebut akan dibangun di tanah milik PT Pertamina di Sumatera Selatan. Saat ini, terdapat dua kemungÂkinÂan lokasi pembangunan kiÂlang, yaitu di Plaju-Sungai GeÂrong dan Katimpa Bengkok.
Kilang tersebut, lanjut Evita, ditargetkan rampung dibangun 2019. Namun, dia meminta diperÂcepat menjadi 2018. Menurut rencana, pada 2013 akan mulai dilaÂkukan basic engineering design dan front engineering design. Sedangkan kontruksi akan mulai dilakukan 2016.
Untuk diketahui, kebutuhan BBM dalam negeri saat ini menÂcapai 1,4 juta barel per hari. SeÂdangkan produksi minyak dalam negeri hanya bertengger di angka 890 ribu barel per hari. Alhasil, sisanya pemerintah harus mengÂimpor 500 ribu per barel per hari.
Sebelumnya, Pertamina juga berupaya membangun kilang, beÂkerja sama dengan pihak asing seperti Kuwait dan Saudi AramÂco. Namun hingga saat ini, perÂmintaan kedua investor tersebut belum disetujui Kementerian Keuangan.
Menteri ESDM Jero Wacik meÂngatakan, permintaan BBM subsidi dalam negeri terus meÂningkat, alhasil subsidi juga teÂrus membengkak.
“Bayangkan, sekarang subsidi energi sudah Rp 300 triliun. BBM Rp 200 triliun dan listrik Rp 100 triliun dalam APBN,†katanya.
Subsidi yang terus membengÂkak, kata Wacik, sangat membeÂbani APBN, menekan pembaÂnguÂnÂan infraÂstrukÂtur, memicu pemÂborosan enerÂgi serta mengÂhambat peÂngemÂbangan energi terbaÂruÂkan. Untuk menekan angÂgaran subÂsidi, langkah yang harus diÂtemÂpuh adalah menaikÂkan harga BBM bersubsidi.
“Indonesia membutuhkan enerÂgi baru dan terbarukan unÂtuk mengurangi subsidi. Banyak poÂtensi itu yang bisa dikemÂbangkan untuk menggantikan peran BBM, salah satunya paÂnas bumi,†terang Wacik.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Suryo BamÂbang Sulisto meminta Presiden SBY menghapus subsidi BBM. Soalnya subsidi BBM menggerus angÂgaran dan membuat pemÂbangunan infrastruktur terÂbengkalai.
“Dengan pertimbangan bahwa dana saving (penghematan) dari subsidi BBM dialokasikan untuk mempercepat pembangunan di daerah, Kadin akan sepenuhnya mendukung kebijakan pemerinÂtah mengurangi bahkan meniaÂdaÂkan sama sekali BBM subsiÂdi,†tegas Suryo.
Namun, pengamat dari Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria mengatakan, usulan menghapus subsidi BBM akan sulit dilakukan dan bakal menÂdapat reaksi keras dari masÂyarakat. Apalagi alasannya unÂtuk pembangunan infrastruktur.
“Itu tidak akan disetujui, kaÂrena tidak adanya trust maÂsyaÂrakat terhadap oknum pemeÂrinÂtah terkait pemanfaatan dari daÂna penghapusan subsidi itu nanÂtiÂnya,†jelas Sofyano.
Justru, menurut Sofyano, yang harus dilakukan adalah mengÂopÂtimalkan pemanfaatan energi non fosil dan melakukan kamÂpanye penghemat BBM untuk kendaraÂan bermotor.
Dia beranggapan, jika kamÂpanye hemat BBM ini dilakukan dengan tepat, bisa menghemat 20 persen atau Rp 40 triliun per taÂhun. “Itu bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur,†katanya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Jumat, 17 Juli 2026 | 00:23
Jumat, 17 Juli 2026 | 00:14
Jumat, 17 Juli 2026 | 00:01
Kamis, 16 Juli 2026 | 23:47
Kamis, 16 Juli 2026 | 23:16
Kamis, 16 Juli 2026 | 23:00
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:52
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:45
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:34
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:22