ilustrasi, shell
ilustrasi, shell
Pengamat energi dari IndoÂneÂsian Resourses Studies Marwan BaÂtubara meminta, pemerintah membatalkan proses tender BBM berÂsubsidi yang kini tengah diÂlakukan Badan Pengatur Hilir MiÂnyak dan Gas Bumi (BPH MiÂgas). “Untuk urusan BBM subÂsidi, tidak layak diserahkan ke swasÂta apaÂlaÂgi asing. Serahkan saÂja ke BUMN yakni Pertamina yang 100 persen sahamnya diÂmiÂliki neÂgara,†cetusÂnya di Jakarta, keÂmarin.
Menurut dia, selama ini, pelakÂsaÂnaan tender yang sudah berÂjaÂlan 3-4 tahun cenderung diÂpakÂsaÂkan. “Jadi, kenapa tidak seÂkaÂlian ditiadakan saja,†kataÂnya. Ia meminta, pemerintah tidak berÂmain-main dengan urusan BBM subsidi yang terkait dengan keÂbuÂtuhan utama rakyat.
Hal senada dikemukakan peÂngaÂmat energi dari ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro. MeÂnurut dia, pemerintah terlalu longÂgar memberikan kesempatan peÂrusahaan asing menÂdistriÂbuÂsiÂkan BBM subsidi. “Jika PerÂtaÂmina masuk di negara lain seperti MaÂlaysia diwajibkan memÂbaÂngun kilang, semestinya mereka juga perlu diwajibkan di sini,†katanya.
Kalau asing atau swasta ikut meÂnyalurkan, lanjutnya, maka juga harus membangun inÂfraÂstrukÂÂÂturnya. “Jangan seperti seÂkaÂrang, infrastrukturnya sebagian maÂsih menumpang ke inÂfrastrukÂtur milik Pertamina,†ujarÂnya. Apalagi, lanjutnya, kalau sudah berbicara keistimewaan. “Baru biÂcara fairness saja sudah perlu diÂpertanyakan. Pemerintah harus lebih fair. Mengapa BUMN senÂdiri malah cenderung dianakÂtiriÂkan,†katanya.
Ia meminta, pemerintah mengÂhamÂbat masuknya perusahaan asing mendistribusikan BBM subÂsidi dengan ketentuan tender yang lebih ketat. Selain diwajibÂkan memÂbangun kilang dan inÂfraÂstrukÂtur pendukungnya, meÂnuÂrut Komaidi, pemerintah juga tidak memberikan kuota BBM subÂsidi di wilayah Jawa kepada peÂrusaÂhaan non-Pertamina. “BuÂka saja alokasi di daerah IndoÂneÂsia bagian timur yang memang biaÂya pendisÂtribusiannya mahal,†kaÂtanya.
Sedangkan Ketua Umum HimÂpunan Wiraswasta Nasional MiÂnyak dan Gas (Hiswana Migas), Eri Purnomohadi juga mengataÂkan, pemerintah harus membeÂriÂkan keberpihakkan kepada PerÂtamina sebagai BUMN.
“Dalam persoalan tender BBM ini, tidak ada keberpihakkan itu. HaÂrusnya ada nasionalisme terÂhadap Pertamina seperti di negara lain,†ujarnya.
Ia juga mengatakan, selama ini, PerÂtamina sebagai BUMN bisa diÂperintahkan pemerintah untuk menÂÂjamin dan mengamankan penÂdistribusian BBM di seluruh peloÂsok negeri. “Bagaimana deÂngan peÂlaku asing, apakah juga biÂsa dipeÂrinÂtahkan hal yang saÂma,†cetusÂnya.
Lalu, lanjutnya, Pertamina seÂbagai BUMN, juga menÂdistriÂbusikan BBM subsidi dahulu, baru kemudian meminta pemÂbaÂyaranÂÂnya.
Saat ini, BPH Migas tengah meÂÂnyelenggarakan tender penyeÂdiaan dan pendistribusian BBM bersubsidi untuk 2013. Tercatat seÂÂbanyak empat perusahaan yang berÂminat yakni PT Pertamina (Persero), PT Shell Indonesia, PT Aneka Kimia Raya (AKR) CorÂporindo Tbk (AKR), dan PT SurÂya Parna Niaga (SPN).
Berdasarkan informasi yang diÂperoleh, alokasi volume tender yang akan diberikan ke peÂrusaÂhaan non-Pertamina mencapai 2,4 persen dari alokasi BBM subÂsidi taÂhun 2013 sebanyak 46 juta kiloÂliter atau sekitar 1,1 juta kiloliter.
Informasi yang diterima RakÂyat Merdeka, ada salah satu okÂnum pejabat di lingkungan perÂminyakan yang mengajak salah satu peserta tender untuk memanÂtau pasokan BBM subsidi di Jawa Timur. Berbagai inÂforÂmasi digali dalam survei tersebut. Salah satuÂnya soal omÂzet penyaÂluran BBM subsidi. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Jumat, 17 Juli 2026 | 00:23
Jumat, 17 Juli 2026 | 00:14
Jumat, 17 Juli 2026 | 00:01
Kamis, 16 Juli 2026 | 23:47
Kamis, 16 Juli 2026 | 23:16
Kamis, 16 Juli 2026 | 23:00
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:52
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:45
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:34
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:22