ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Menteri Pendidikan dan KeÂbuÂdayaan (Mendikbud) MuÂhaÂmmad Nuh pun dianggap gagal membangun sistem pendidikan nasional yang berkualitas dan transÂparan. Revisi UU SisdikÂnas dianggap bisa menjadi soÂlusi memperbaiki kualitas penÂdidikÂan ke depan.
Dewan pakar komunitas peduli pendidikan dari Universitas NeÂgeri Jakarta (UNJ) RahÂmaÂtullah menyambut baik adanya revisi UU Sisdiknas. Ia menilai, baÂnyak kebijakan pendidikan yang berÂtentang dengan UU SisÂdiknas. Akibatnya, sistem penÂdidikan naÂsional selalu mendapat raÂpor meÂrah alias disclaimer oleh BaÂdan PeÂmeriksa Keuangan (BPK).
Menurutnya, ada beberapa hal yang membuat UU itu harus direvisi. Di antaranya masalah wajib pendidikan 12 tahun, peÂmiÂlihan rektor di PTN, Ujian NaÂsional (UN), keberadaan RinÂtisÂan Sekolah Berstandar InterÂnasional (RSBI) yang dinilai disÂkriminasi dan tidak transparan.
â€Program pendidikan 12 taÂhun belum diatur secara deÂtail oleh Undang-Undang SisÂdikÂnas. BeÂgitu juga deÂngan pelakÂsanaan waÂjib belajar 9 tahun, RSBI dan UN masih dianggap belum jelas dan penuh kerancuÂan,†kata AngÂgota DeÂwan PenÂdidikan Kota, Jakarta Timur ini.
Dia berharap, revisi UU SisÂdiknas bisa dilaÂkukan dengan beÂÂnar, tanpa ada kepentingan dan diskriminasi. Sehingga, pendiÂdikan nasional bisa dioperasikan dengan baik dan mampu berÂsaing dengan pendidikan luar.
“Reformasi pendidikan harus dilakukan dengan benar guna meÂÂningkatkan kualitas pendiÂdikan yang lebih baik bagi keÂmajuan bangsa dan negara,†katanya.
Rahmatullah juga minta MenÂteri Nuh segera meÂnindakÂlanjuti hasil audit disclaimer BPK untuk dibenahi, terÂutama masalah duÂgaan korupsi di 16 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan lainÂnya.
“LaÂporan BPK harus menjadi pelaÂjaran penting bagi Pak Nuh untuk bekerja lebih baik lagi,†tegas Rahmatullah.
Pengamat pendidikan dari Yayasan Taman Siswa DarÂmaÂningtyas menambahkan, selain wajib belajar 12 tahun, UN, RSBI, masalah pembatalan UnÂdang-Undang Badan Hukum PenÂdidikan (UU BHP) oleh MahÂkamah Konstitusi pada 31 Maret 2010 juga perlu dibahas kembali dalam UU Sisdiknas, termasuk mengkaji keberadaan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI).
“Sinkronisasi kebijakan penÂdidikan mesti dilakukan, supaya program pendidikan bisa berjaÂlan baik tanpa ada yang diruÂgikan,†jelas Darmaningtyas.
Anggota Komisi X DPR BiÂdang Pendidikan Zulfadhli meÂngatakan, revisi UU Sisdiknas berÂtujuan untuk menata kembali sistem pendidikan nasional yang dirasakan masih menghaÂdapi seÂjumlah kendala. TermaÂsuk kebiÂjakan pendidikan yang terus meÂnuai pro dan kontra.
Menurut Zulfadhli, banyak pihak menilai UU Sisdiknas beÂlum bisa mengawal kemajuan pendidikan Indonesia dimasa sekarang maupun depan.
â€Seperti wajib belajar 12 taÂhun, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan desentralisasi penÂÂdiÂdikan belum diatur di UnÂdang-Undang SisdikÂnas secara benar,†kata Zulfadhli.
Masalah ini, kata dia, harus segera dibenahi melalui revisi UU Sisdiknas. Dengan begitu, reliasasi kebijakan pendidikan akan lebih baik dalam meÂningÂkatkan kualitas pendidikan naÂsional secara merata.
Anggota Komisi X DPR Dedi GuÂmelar mengaku sedang mengÂkaji pasal-pasal mana yang akan direvisi karena banyak pasal yang tak sesuai dengan perkemÂbaÂngan dunia pendidikan IndoneÂsia. SeÂperti, wajib belajar 12 tahun.
“Pengajuan revisi memang beÂlum secara formal. Namun kami tengah mengkaji pasal-pasal maÂna saja yang perlu diÂreÂvisi, terÂutama yang tidak sesuai konstiÂtusi dan perkembangan pendiÂdikan,†kata Miing, sapaannya.
Menanggapi desakan revisi UU Sisdiknas, Menteri PenÂdiÂdikan dan Kebudayaan (MenÂdikbud) Muhammad Nuh mengÂhormati adanya usulan tentang revisi UU Sisdiknas. Nuh berjanji akan mengakomodasi semua saran dan kritikan soal revisi tersebut.
“Saya kira revisi tersebut saÂngat baik. Apalagi tujuannya unÂtuk mengoptimalkan penÂdiÂdikan nasional. Salah satunya, imÂpleÂmentasi dari program wajib beÂlajar 12 tahun,†ujar Nuh.
Namun, bekas Menteri KoÂmuÂnikasi dan Informatika ini mengÂharapkan, UN dan RSBI tidak diubah secara sistemik dalam revisi UU terÂsebut.
“Keberadaan UN dan RSBI maÂsih diperlukan. Hanya saja perlu ada perbaikan dalam sisÂtem pengawasan dalam peÂlakÂsanaan UN dan RSBI agar lebih baik dan berkualitas lagi,†tandas Menteri Nuh. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Jumat, 17 Juli 2026 | 00:23
Jumat, 17 Juli 2026 | 00:14
Jumat, 17 Juli 2026 | 00:01
Kamis, 16 Juli 2026 | 23:47
Kamis, 16 Juli 2026 | 23:16
Kamis, 16 Juli 2026 | 23:00
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:52
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:45
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:34
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:22