Berita

ilustrasi, kereta

Bisnis

Cari Yang Murah, Penumpang Ancam Pindah Ke KRL Ekonomi

Tarif KRL Commuter Line Dikerek, Armada Tambahan Rogoh Rp 20 M
SELASA, 25 SEPTEMBER 2012 | 08:13 WIB

Meski dibanjiri penolakan, PT Kereta Api Indonesia (KAI) keukeuh akan menaikkan tarif Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line. Penumpang pun mengancam pindah ke KRL ekonomi.

Beberapa pelanggan KRL yang ditemui Rakyat Merdeka mengatakan, pelayanan KRL Com­muter Line masih sangat buruk, sehingga tarifnya belum layak dinaikkan.

Nia Kawai, salah satu pelang­gan Commuter Line yang meno­lak ren­cana kenaikan tarif ter­sebut. Apa­lagi fasilitasnya masih mi­num dan suka delay (telat).

“Kalau naik tambah mahal sa­ja, padahal fa­silitasnya masih mi­­nim banget. AC saja kadang ja­lan kadang jalan,” kritiknya.

Belum lagi, kalau pagi pe­num­pangnya harus desak-de­sakan dan rebutan tempat duduk seper­ti di KRL ekonomi. Bah­kan, kata pe­gawai swasta ini, saking pe­nuhnya pintu kereta tidak bisa ditutup.

Untuk diketahui, tarif KRL Commuter Line akan naik mulai 1 Oktober 2012. Harga tiket tujuan Bogor-Jakarta/Jatinegara Rp 9.000, Depok-Bogor Rp 8.000, Depok-Jakarta/Jatinegara Rp 8.000, Bekasi-Jakarta/Stasiun Transit Rp 8.500, Parung Pan­jang/Serpong-Tanah Abang/Sta­siun Transit Rp 8.000 dan Ta­ngerang-Duri/Stasiun Transit Rp 7.500.

Nia mengaku banyak peng­gu­na Commuter Line yang kece­wa dengan rencana kenaikan tarif ter­se­but. Bahkan, beberapa pe­num­pang yang ditemuinya di sta­siun mengancam akan beralih ke KRL ekonomi. “Ini warning buat KAI.” tegasnya.

Namun, jika memang kenai­kan tarif itu tidak bisa dihindari, lanjut Nia, mes­tinya ke­naikan itu dibarengi pening­­ka­tan kualitas pelayanan dan fasilitas.

Hal senada disampaikan pe­num­pang KRL Agus Supriyanto. Menurutnya, saat ini tarif belum layak dinaikkan karena kereta­nya masih kurang. “Nggak la­yak Commuter naik jadi Rp 8000 ka­lau pelayanannya masih buruk,” katanya.

Menurut dia, yang harus dila­kukan oleh pengelola adalah mem­­perbanyak armada dan fa­silitas pendukungnya, setelah itu baru tarif dinaikkan.

Masih menurut pelanggan lain­­nya, Azizah Fefriyani me­nga­­ta­kan, selain masih minim fasi­litas, pelayanan petugasnya juga ma­sih buruk. Menurutnya, pen­jual dan penjaga karcis tidak tahu jadwal kedatangan dan kebe­rangkatan KRL Commuter Line. “Jadwal keretanya itu yang harus diper­baiki,” katanya.

Karena itu, dia menyarankan, sebaiknya pengelolaannya dise­rah­­kan saja kepada swasta. Jadi, ka­laupun naik pelayanannya oto­matis naik. “Naik AC saja se­rasa naik ekonomi, jendela dibu­ka se­mua, apalagi yang naik jum­lah­nya ratusan,” tandasnya.

Corporate Secretary KRL Com­­muter Line Makmur Sya­heran mengatakan, kenaikan tarif KRL sebagai bagian dari pening­katan pelayanan.

“Salah satunya waktu tunggu kereta yang semakin dekat di stasiun. Selain itu, menam­bah jumlah armada,” kata Makmur.

Makmur mengatakan, pihak­nya mendapatkan 20 kereta api tambahan untuk memperkuat pe­­layanan. Kocek yang harus diro­goh men­capi Rp 20 miliar.

“Iya, itu 20 dari 60 rangkaian ke­reta yang akan kita datangkan sam­pai akhir tahun nanti. Peme­nang ten­dernya dari Jepang,” jelasnya.

Masih kata Makmur, selama em­pat tahun terakhir pertum­buhan penumpang KRL me­nga­lami pe­ningkatan yang cukup pesat yang tadinya hanya 5 per­sen, tahun ini sudah mencapai 20 persen. De­ngan menambah ar­mada Commu­ter Line, pi­haknya berjanji akan menam­bah dan me­maksimalkan pelayanan.

Direktur Utama PT KAI Igna­sius Jonan mengatakan, kenaikan tarif dibutuhkan untuk memper­baiki keselamatan perjalanan, baik sarana maupun prasarana.

 Sesuai dengan Perpres 83/2011 agar PT Kereta Api Com­mu­ter Jabodetabek (KCJ) berke­wajiban menaikkan kapasitas angkut hingga tiga kali lipat sam­pai dengan 2018, secara kor­po­rasi dan independen tanpa sub­sidi dari APBN.

“Berdasarkan Peraturan Men­hub, KRL AC tidak disubsidi se­­hingga mengikuti harga de­ngan mekanisme pasar. Kenaik­an tarif un­tuk menyesuaikan perawatan yang 90 persennya menggunakan barang impor,” kata Jonan.

Sebelumnya, Menteri BUMN Dah­­lan Iskan mengatakan, ke­naikan tarif KRL harus dibarengi dengan kinerja pelayanan dan fa­silitas yang memadai.

“Namun, seharusnya tanpa kenaikan tarif pun pelayanan juga perlu diting­kaatkan,” tukas Dah­lan. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

BNI Bawa Tiga UKM Indonesia Tembus Pasar Korea Selatan

Jumat, 17 Juli 2026 | 00:23

Api Ludeskan Rumah Tinggal di Cakung Timur

Jumat, 17 Juli 2026 | 00:14

BNI Geber Penguatan Tata Kelola Penyaluran KUR

Jumat, 17 Juli 2026 | 00:01

Baznas dan Sound Rhythm Ajak Nonton Bola Sambil Sedekah

Kamis, 16 Juli 2026 | 23:47

Rano Karno Targetkan 500 Penyanyi Tampil di Bundaran HI

Kamis, 16 Juli 2026 | 23:16

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 23:00

Nobar Piala Dunia TNI AD di 25 Ribu Titik Capai 1,13 Juta Penonton

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:52

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:45

KPK Rampungkan Analisis Laporan Penolakan Gratifikasi Raja Juli

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:34

Wamen Investasi: Kepastian Hukum Jadi Faktor Penting Tarik Investor Asing

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:22

Selengkapnya