Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Kalau Perlu, Barang Impor Dikenakan Pajak 1.000%

Pengusaha Lontarkan Ide Gila Untuk Tekan Defisit Pembayaran
JUMAT, 21 SEPTEMBER 2012 | 08:15 WIB

.Kalangan pengusaha me­minta pemerintah agar waspada menghadapi defisit dalam neraca perdagangan Indonesia triwulan II tahun 2012.  Kondisi tersebut dia­nggap tidak lepas dari kebija­kan pemerintah yang salah ka­prah. Pemerintah terlihat lebih me­nonjolkan kegiatan impor dari­pada ekspor.

Ketua Umum Asosiasi Pengu­saha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, defisit pembayaran Indonesia pada tri­wulan II tahun 2012 bukan se­suatu yang aneh. “Kita nggak punya infrastruktur. Kita terlalu fokus pada konsumsi domestik dan natural alias tambang. Lebih baik impor daripada rugi. Ini benar-benar buruk,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Laporan Bank Indonesia (BI) menyatakan pada triwulan II ta­hun 2012 neraca pembayaran In­do­nesia mengalami defisit tran­saksi berjalan melebar mencapai 3,1 persen dari produk domestik bruto (PDB). Diperkirakan defisit transaksi berjalan menjadi 3,1 persen dikarenakan kinerja eks­por yang menurun di saat per­min­taan impor meningkat pesat.

“Untuk itu kita harus kurangi impor, seperti pengurangan impor barang mewah. Kasih tax (pajak) pada mereka sebesar 1.000 persen biar nggak boleh masuk barang mewah dan jangan ragu naikkan harga BBM,” pinta Sofjan.

Bos Gemala Group ini menje­laskan, impor barang mewah akan memperlebar jurang antara masyarakat kaya dengan miskin. Selain itu, impor barang mewah saat ini mulai marak terjadi se­perti kendaraan atau barang-ba­rang lainnya. “Karena impor itu manufaktur kita tidak bisa ber­saing sehingga tidak menambah angka ekspor. Industri kita yang tumbuh hanya mobil dan sepeda motor,” jelasnya.

Defisit, lanjut Sofjan, juga ba­nyak disumbang oleh defisit jasa industri. “Banyak investasi yang dibawa ke luar, asing tidak in­ves­tasi di sini. Seperti trans­por­tasi kita pakai kapal asing, asu­ran­si juga banyak dari luar ne­geri,” tandasnya.

Penilaian senada datang dari Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulistyo yang mem­bandingkan neraca perda­gangan Indonesia saat zaman Soeharto lebih baik dibanding­kan masa sekarang.

“Banyaknya atu­ran dalam per­dagangan membuat impor lebih tinggi dari pada ekspor, terlebih kebijakan peme­rintah saat ini banyak yang aneh,” ujarnya

Suryo mengatakan, kebijakan yang dibuat pemerintah seharus­nya mengendalikan impor. Tren saat ini justru mengalami pening­katan belakangan ini. Namun kebijakan pemerintah justru ma­lah mene­kan ekspor. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

BNI Bawa Tiga UKM Indonesia Tembus Pasar Korea Selatan

Jumat, 17 Juli 2026 | 00:23

Api Ludeskan Rumah Tinggal di Cakung Timur

Jumat, 17 Juli 2026 | 00:14

BNI Geber Penguatan Tata Kelola Penyaluran KUR

Jumat, 17 Juli 2026 | 00:01

Baznas dan Sound Rhythm Ajak Nonton Bola Sambil Sedekah

Kamis, 16 Juli 2026 | 23:47

Rano Karno Targetkan 500 Penyanyi Tampil di Bundaran HI

Kamis, 16 Juli 2026 | 23:16

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 23:00

Nobar Piala Dunia TNI AD di 25 Ribu Titik Capai 1,13 Juta Penonton

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:52

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:45

KPK Rampungkan Analisis Laporan Penolakan Gratifikasi Raja Juli

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:34

Wamen Investasi: Kepastian Hukum Jadi Faktor Penting Tarik Investor Asing

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:22

Selengkapnya