ilustrasi, gula
ilustrasi, gula
“Penurunan target produksi gula karena kekurangan lahan memperlihatkan kurangnya kordinasi,†ujar anggota KoÂmisi IV DPR Wan Abubakar keÂpada Rakyat Merdeka, kemarin.
Politisi Partai Persatuan PemÂbangunan (PPP) itu meÂnyayangkan penurunan target produksi gula dalam negeri. Akibat penurunan ini, impor gula akan semakin tinggi. Dengan tingginya nilai impor gula akan merugikan para petani karena harga di dalam negeri akan turun.
“Jelas ini merugikan petani dan produsen dalam negeri dan hanya akan menguntungkan importir dan pedagang saja,†jelasnya.
Untuk diketahui, Kementan menurunkan target produksi gula tahun ini dari 4,4 juta ton menjadi 2,6 juta ton, sedangÂkan pada 2013 produksi gula diturunkan jadi 2,8 juta ton dari 4,9 juta ton dan target produksi gula pada 2014 yang sebelumÂnya 5,7 juta ton diturunkan menjadi 3,1 juta ton. Kementan beralasan, penurunan itu disebabkan sulitnya melakuÂkan penambahan lahan perkeÂbunan tebu baru.
Karena itu, kata Abubakar, Kementan harus berkoorÂdinasi dengan Kementerian KeÂhutanan dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk menÂdapatkan lahan baru. Apalagi saat ini banyak terjadi alih fungÂsi lahan pertanian, sedangÂkan lahan penggantinya tidak ada.
Dia juga meminta pemeÂrintah meninjau ulang Hak Guna Usaha (HGU) perkeÂbuÂnan. Menurutnya, jika ada HGU yang tidak produktif seÂbaiknya diambil alih pemeÂrintah untuk meningkatkan proÂduksi gula dalam negeri. PaÂsalnya, kondisi ini akan membuat target swasembada gula pemerintah tidak akan tercapai pada 2014.
Dirjen Perkebunan KemenÂtan Gamal Nasir mengatakan, penurunan target produksi gula juga disebabkan tidak maksiÂmalnya revitalisasi pabrik gula dan pembangunan pabrik baru.
Menurutnya, pada saat penyuÂsunan roadmap awal proÂduksi gula, pemerintah memÂperhitungkan ada penamÂbahan luas lahan perkebunan tebu 350.000 hektar, revitaÂlisasi pabrik gula serta pemÂbangunan pabrik baru.
Dia mengatakan, kemamÂpuan Kementan terhadap proÂduksi gula pada 2014 hanya 3,1 juta ton. Produksi gula sejak 2002-2012 juga maksimal hanya 2,7 juta ton. Padahal pada 2008 sudah dilakukan bongkar ratoon atau pengÂgantian bibit tebu baru secara besar-besaran, tetapi produksi hanya 2,8 juta ton. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Jumat, 17 Juli 2026 | 00:23
Jumat, 17 Juli 2026 | 00:14
Jumat, 17 Juli 2026 | 00:01
Kamis, 16 Juli 2026 | 23:47
Kamis, 16 Juli 2026 | 23:16
Kamis, 16 Juli 2026 | 23:00
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:52
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:45
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:34
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:22