ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Tiap tahunnya dari total angÂgaran yang diterima Kemhan haÂnya 16 persen saja digunakan unÂtuk kebutuhan alutsista. Sisanya diÂalokasikan untuk belanja peÂgawai sebesar 48 persen, belanja operasional sebesar 26 persen.
Tahun ini saja Kemhan sudah mengucurkan dana sebesar Rp 57 triliun untuk alutsista, Rp 21 triÂliun di antaranya bersumber dari pinjaman luar negeri.
“Dukungan dari APBN meÂmang masih kurang. Untuk meÂmeÂnuhi alutsista hanya 16 persen. MaÂkanya, diperlukan skema yang mendukung anggaran alutsista kita, salah satunya melalui pinÂjaman luar negeri,†kata Kepala PuÂsat Komunikasi Publik KemÂhan Hartind Asrin kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Dalam rencana strategisnya, KemÂhan menargetkan dapat meÂmÂeÂnuhi kebutuhan alutsista samÂpai 2014. Sayangnya, program terÂsebut juga kurang mendapat dukungan anggaran. Padahal, kata dia, alutsista merupakan keÂbutuhan yang harus dipenuhi untuk menjaga dan menjadi neÂgara yang semakin berdaulat. “Renstra sudah ditagetkan bisa memenuhi sebagian kebutuhan alutsista sampai 2014,†ujarnya.
Dijelaskan, selama 2009-2014 Kemhan akan mendapatkan angÂgaran Rp 150 triliun. Namun duit seÂbesar itu juga kurang menÂcuÂkupi untuk memenuhi segala keÂbutuhan alutsista, karena idealnya untuk pembelian alutsista sebesar meÂmerlukan Rp 450 triliun. “Rp 150 triliun itu masih sepertiga dari pembelian alutsista ideal yang kita butuhkan,†ucapnya.
Sejauh ini kerjasama pertaÂhanÂan militer Indonesia dengan neÂgara lain sudah dilakukan antara lain dengan Jerman yang meÂnyupÂlai Tank Leopard, kerjasama deÂngan Spanyol dalam pemÂbelian pesawat terbang, meriam dari Rusia, dan Korea Selatan yang mengirimkan Tank temÂpurnya.
Bila tak ada aral melintang taÂhun depan Indonesia juga berÂniat melakukan kerjasama militer dengan Amerika Serikat dalam pemÂbelian pesawat F-16 sebaÂnyak 24 unit dan pesawat Balck Hawk.
“Tapi belum dapat dipastikan beÂrapa anggaran yang dibuÂtuhÂkan, tapi itu bagian dari anggaran renstra Rp 150 triliun itu,†beÂbernya.
Selain, mendatangkan alutsista dari luar negeri, kata Hartind, InÂdonesia juga harus berkonÂtribusi untuk pembuatan peralatan penÂdukung.
Menteri Pertahanan Purnomo YusÂgiantoro mengatakan, tahun ini pemerintah mendatangkan 45 unit alutsista yang sudah diseÂrahÂkan Markas Besar TNI Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan AngÂkatan Laut. 30 persen di antaÂraÂnya digunakan untuk TNI AngÂkatan Udara.
Alutsista tersebut meliputi pesawat tempur F-16D, tiga jenis pesawat angkut berupa pesawat HerÂcules C-130H, dua jenis heliÂkopter, dua jenis pesawat latih, dan penangkis serangan udara. Total dana yang dikucurkan sebanyak Rp 57 triliun. sekitar Rp 21 triliun merupakan dana pinjaman luar negeri. Sedangkan sisanya berasal dari APBN.
Kemhan meneken kontrak deÂngan Brasil untuk memesan peÂsawat Super Tucano sebanyak 16 unit hingga 2014. Pesawat itu akan menggantikan OV-10 BronÂco yang dianggap sudah tak laik terbang.
Total harga pesawat Tucano itu seÂbesar 143 juta dolar AS atau seÂkitar Rp 1,3 triliun yang meliputi harÂÂga pesawat, suku cadang, insÂtrukÂtur, simulator, dan persenÂjataan.
Selanjutnya akan dilakukan konÂtrak kedua dengan pihak BraÂzil untuk mendatangkan delapan SuÂper Tucano. Harga delapan unit pesawat tahap kedua ini pun tak berbeda dari kisaran 143 juta dolar AS. Sedangkan delapan Super Tucano lanjutan itu akan didatangkan pada 2014.
Pesawat itu nantinya dibeÂrangÂkatkan dari Brasil dengan meÂnemÂpuh rute penerbangan Brasil-Spanyol-Maroko-Italia-Yunani-MeÂsir-Qatar-Oman-India-ThaiÂland-Indonesia. Pesawat transit dan beristirahat di sejumlah neÂgara sehingga total perjalanan menÂcapai 14 hari. Nanti, pesawat akan ditempatkan di Pangkalan UdaÂra Abdulrachman Saleh, Malang.
Alutsista yang terbaru, TNI Angkatan Udara mendatangkan empat unit pesawat tempur ringan Super Tucano EMB-314/A-29B dari Brazil di Pangkalan di PangÂkalan Udara Abdulrachman SaÂleh, Malang, Senin, 17 SepÂtemÂber 2012.
Pesawat Super Tucano ini berÂkeÂmampuan counter insurgency opeÂration dan close air support. Pesawat mengangkut senjata riÂngan yang berfungsi sebagai peÂsawat serang antigerilya. Di kaÂwasan Asia Tenggara, Indonesia adalah negara pertama yang menÂjadi pemilik dan pengguna Super Tucano.
Kenapa Nggak Utang Ke Bank Pelat Merah
Helmy Fauzi, Anggota Komisi I DPR
Sebagai negara yang besar dan terdiri dari kepulauan, suÂdah sewajarnya Indonesia meÂmiliki alutsista yang memadai untuk menjamin keamanan dan keÂtahanan NKRI.
Namun, alasan itu lantas tiÂdak dijadikan alasan pemeÂrinÂtah untuk utang kepada negara lain. Apalagi tidak dilakukan deÂngan seleksi ketat.
Bila hal itu tidak dilakukan, bisa dipastikan bunga pinjaman akan jauh lebih besar. Dengan deÂmikian, keputusan pemeÂrinÂtah yang seperti itu akan seÂmaÂkin menambah beban utang negara.
Saya mengusulkan agar peÂmerintah untuk menyeleksi pembelian dan hibah alutsista. Jangan sampai Indonesia justru menggunakan alutsista bekas yang sebenarnya tidak layak pakai. Salah satu konseÂkuenÂsiÂnya akan menambah biaya peÂrawatan.
Hal lain yang tak kalah penÂtingÂnya dalam pembelian alutÂsista pemerintah harus menÂcanÂtumkan kerjasama transfer tekÂnologi, agar tidak hanya memÂbeli, melainkan juga dapat beÂlajar dari perusahaan asing yang memproduksi alutsista tersebut.
Makanya pemerintah harus melobi negara-negara yang menjalin kerjasama pertahanan militer yang memberikan pinÂjaman luar negeri supaya menÂdaÂpatkan bunga yang rendah.
Sebenarnya sebelum peÂmeÂrintah mengandalkan utang luar negeri untuk pembelian alutÂsista, mengapa tidak berÂusaha meminjam anggaran kepada bank-bank BUMN. Bunga yang dibayarkan bisa dipastikan leÂbih rendah.
Hal itu menunjukkan adanya sinergisitas antara lembaga neÂgara untuk memajukan pertÂaÂhanan. Jangan demi memenuhi alutÂsista, kemudian keputusan pemerintah membebani negara denÂgan utang luar negeri.
Lebih Memilih Kredit Ekspor
Andi Widjajanto, Pengamat Militer
Dalam dunia internasional soal pinjam meminjam untuk membeli alutsista merupakan hal yang wajar. Sebab, meÂnamÂÂbah dan memperbaiki sisÂtem alutsista sudah menjadi keÂwajiban pemerintah. Apalagi, alutsista yang dimiliki IndoÂnesia banyak yang sudah tidak layak pakai.
Ada beberapa jenis pinjaman luar negeri pembelian alutsista, yaitu pembelian tunai dari neÂgara penjual, pinjaman dari neÂgara penjual alias kredit ekspor, dan meminjam dari lembaga pinÂjaman keuangan interÂnaÂsional. Biasanya dalam pemÂbelian alutsista pemerintah Indonesia lebih memilih meÂkanisme kredits ekspor
Saya berharap pemerintah dan DPR saling mendukung peÂmenuhan kebutuhan alutsiata dalam negeri. Selain untuk menambah kepercayaan diri angkatan militer, alutsista juga membuat segan negara-negara tetangga.
Kenaikan anggaran pertaÂhanÂan dari Rp 64 triliun menjadi Rp 77 triliun pada tahun 2013 meÂnaÂdankan perkembangan positif dalam skema pembenahan dunia militer di Tanah Air.
Hanya saja kenaikan sebesar itu porsinya harus dibagi secara adil. Artinya, porsi untuk peÂningÂkatan kesejahteraan praÂjurit dan memodernisasi alutsista haÂrus adil dan proporsional. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26
Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37
Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48
Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06
Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01
Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17
Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16
UPDATE
Jumat, 02 Januari 2026 | 23:51
Jumat, 02 Januari 2026 | 23:28
Jumat, 02 Januari 2026 | 23:09
Jumat, 02 Januari 2026 | 22:39
Jumat, 02 Januari 2026 | 22:18
Jumat, 02 Januari 2026 | 22:11
Jumat, 02 Januari 2026 | 21:55
Jumat, 02 Januari 2026 | 21:42
Jumat, 02 Januari 2026 | 20:44
Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22