Berita

Gita Wirjawan

Bisnis

Menteri Gita Doyan Banget Impor Beras Sih

Tekan MOU Lagi Dengan Vietnam, Swasembada Pangan Diabaikan
RABU, 19 SEPTEMBER 2012 | 08:20 WIB

.Kementerian Perdagangan (Kemendag) seolah ketagihan untuk melakukan impor beras. Setelah meneken Memorandum of Understanding (MoU) dengan Kamboja, Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan kembali menanda­tangani persetujuan im­por beras dari Vietnam. Vietnam bisa mengirim beras ke Indonesia sebesar 1,5 juta ton per tahun.

Hal itu terungkap dalam pe­nan­datanganan nota kesepaha­man antara Gita Wirjawan de­ngan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Vietnam Vu Hui Hoang di kantornya, Jakarta, ke­marin. Gita menuturkan, MOU itu dilakukan agar Vietnam bisa memasok beras ke Indonesia sampai tahun 2017.

“Nota kesepahaman ini ditan­da­ta­ngani karena nota kesepa­ha­­man yang lama akan habis wak­­tu­nya pada 1 Januari 2012. Kita perpan­jang masanya sam­pai 31 Desem­ber 2017,” kata Gi­ta da­lam perte­muan Joint Com­mission on Eco­no­mic, Scien­­tific and Tech­nical Coo­peration keenam antara Indo­nesia dan Vietnam di Ke­men­­­te­rian Perda­gangan, Jakarta, kemarin.

Menurut Gita, kerja sama ini se­bagai langkah antisipasi apa­bila Indonesia membutuhkan be­­ras tambahan, untuk meme­nuhi ca­da­ngan beras nasional. Sebab, dalam beberapa tahun ter­­akhir produksi beras nasional tidak da­pat memenuhi kebutuh­an mas­yarakat.

“Nantinya impor yang akan di­lakukan harus me­lalui berba­gai pertimbangan dari pemerin­tah. Di antaranya, pertim­bangan jum­lah pasokan beras, ke­butu­han di Indonesia dan juga harga beras di pasar internasio­nal,” je­las­ bekas bos JP Morgan itu.

Dikatakan, tidak hanya dengan Vietnam, Indonesia juga menjalin kerja sama dengan Kamboja dan Thailand. Menurut bos Ancora Group ini, lewat kerja sama de­ngan le­bih dari satu negara dalam satu ka­­wasan (ASEAN-red), membuat Indo­nesia tidak hanya bergantung kepada satu negara saja kalau in­gin impor beras.

“Kita jadi pu­nya ba­nyak pili­han kalau mau im­por beras. Kita juga bisa men­se­leksi beras yang akan kita impor,” ung­kapnya.

Gita menambahkan, instrumen impor ini adalah opsi terakhir yang dilakukan untuk menjaga stabilitas harga di dalam negeri agar masyarakat berpenghasilan rendah bisa menikmati beras.

Anggota Komisi VI DPR Nas­ril Bahar me­­negaskan, seringnya pemerin­tah impor beras menun­jukkan kegaga­lan swa­sem­bada pangan pada sektor beras.

“Pemerintahan Pak SBY sudah delapan tahun faktanya gagal membuat bangsa ini berdaulat terhadap pangan,” cetus Nasril kepa­da Rakyat Merdeka. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

BNI Bawa Tiga UKM Indonesia Tembus Pasar Korea Selatan

Jumat, 17 Juli 2026 | 00:23

Api Ludeskan Rumah Tinggal di Cakung Timur

Jumat, 17 Juli 2026 | 00:14

BNI Geber Penguatan Tata Kelola Penyaluran KUR

Jumat, 17 Juli 2026 | 00:01

Baznas dan Sound Rhythm Ajak Nonton Bola Sambil Sedekah

Kamis, 16 Juli 2026 | 23:47

Rano Karno Targetkan 500 Penyanyi Tampil di Bundaran HI

Kamis, 16 Juli 2026 | 23:16

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 23:00

Nobar Piala Dunia TNI AD di 25 Ribu Titik Capai 1,13 Juta Penonton

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:52

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:45

KPK Rampungkan Analisis Laporan Penolakan Gratifikasi Raja Juli

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:34

Wamen Investasi: Kepastian Hukum Jadi Faktor Penting Tarik Investor Asing

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:22

Selengkapnya