ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Usulan kenaikan TDL seÂbeÂnarÂnya sudah disetujui DPR. Dalam rapat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik dengan Komisi VII Senin malam (18/9), disepakati tahun depan TDL naik 15 persen dan subsidi listrik Rp 78,6 trilun.
Kenaikan TDL ini berlaku unÂtuk semua industri dan kalangan menengah atas. SemenÂtara untuk golongan 450 VA (volt ampere) dan 900 VA tidak naik.
Mendengar hal ini, Menteri PerÂindustrian MS Hidayat langÂsung protes. Dia tidak setuju kaÂlau kenaikan TDL hanya dibeÂbanÂkan untuk pelaku industri.
“Jika TDL ingin dinaikkan, seÂmua segmen harus dinaikkan juÂga dong. Jangan cuma untuk inÂdustri,†protes Hidayat di kanÂtornya, kemarin.
Kata Hidayat, kenaikan itu pasti akan berdampak pada target perÂtumbuhan industri tahun deÂpan. Kalau beban untuk pelaku inÂdustri tinggi, dampaknya juga akan tingÂgi. Karena itu, dia berÂharap tak semua beban kenaiÂkan ditanggung oleh pelaku industri. Beban itu haÂrus merata, agar peÂlaku industri tiak terlalu terpukul.
Direktur Industri Tekstil dan Aneka Ditjen Industri Basis MaÂnufaktur Ramon Bangun mengaÂtakan, yang sangat terpukul atas rencana kenaikan TDL ini adaÂlah industri tekstil. Sebab, di tekstil, listrik adalah komponen utaÂma. Dari hulu sampai hilir keÂbutuhan energi listrik tekstil saÂngat tinggi. Karenanya, kalangÂan industri leÂbih setuju jika peÂmerintah meÂnaikÂkan harga BBM ketimÂbang listrik.
“Kalau listrik naik, itu lebih beÂrat buat tekstil. Biaya produksi unÂtuk industri hulu seperti serap, peÂmintal dan wifing akan memÂbengkak. Sebab, komponen energi di hulu ini sangat besar,†jelasnya.
Kondisi ini, kata Ramon, jelas membuat pengusaha terjepit. Soalnya, di saat yang sama peÂngusaha tidak bisa ujug-ujug menaikkan harga barang hasil produksinya guna menutupi biaÂya kenaikan TDL itu.
“Kalau menaikkan harga, itu susah juga. Sekarang ini perminÂtaan ekspor sedang turun karena krisis keuangan dunia. Kalau harÂÂga dinaikkan, bisa makin turun lagi,†jelasnya.
Ketua Umum Asosiasi PerÂtekÂÂstilan Indonesia (API) Ade SuÂdraÂjat mengkritik sikap DPR yang melunak dengan rencana kenaikÂan TDL. Kata dia, dua mingÂgu lalu DPR masih teriak-teriak meÂnolak rencana kenaikÂan TDL. Dia pun curiga DPR kena lobi peÂmerintah.
“Setelah makan malam jadi setuju. Saya nggak tahu ini kenaÂpa. Padahal mereka kan sebeÂlumÂnya begitu keras dan gigih menoÂlaknya,†tutur Ade.
Untuk menggagalkan kenaikan TDL, API sedang menyiapkan judiÂcial review ke MK jika keÂnaiÂÂkan itu sudah diundangkan. “Kita ingin tahu apakah kenaikÂan TDL yang diskriminsi seperti ini diperÂbolehkan tidak,†ujarnya.
Jika TDL dipaksakan naik, lanjutnya, daya saing industri tekstil akan merosot. Tekstil InÂdonesia akan makin tergerus dengan serbuan tekstil impor yang harganya murah. Sekarang saja, pertumbuhan tekstil sudah turun 6 persen. Kalau TDL naik, turunnya akan lebih besar.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Suryo BamÂbang Sulisto mengaÂtakan, keÂnaikÂan TDL sebesar 15 perÂsen akan menambah beban produksi 10 persen. Untuk mengÂhindari rugi, mau tidak mau pengusaha akan membebankan kenaikan TDL ini kepada pelanggan.
“Jadi ujung-ujungnya ya konÂsumen yang akan memikul konÂsekuensi kenaikan TDL,†katanya kepada Rakyat Merdeka. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Jumat, 17 Juli 2026 | 00:23
Jumat, 17 Juli 2026 | 00:14
Jumat, 17 Juli 2026 | 00:01
Kamis, 16 Juli 2026 | 23:47
Kamis, 16 Juli 2026 | 23:16
Kamis, 16 Juli 2026 | 23:00
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:52
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:45
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:34
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:22