ilustrasi, sawit
ilustrasi, sawit
Kata Firman, kegagalan itu memperlihatkan upaya pemeÂrinÂtah yang kurang tanggap, cerÂÂmat, dan teliti dalam melakuÂkan diploÂmasi dagang di forum interÂnaÂsioÂnal. Padahal, IndoneÂsia adalah produsen CPO terbeÂsar dunia.
“DPR akan mengevaluasi hasil APEC ini agar menjadi warning bagi pemerintah,†tegas politisi Golkar ini di Jakarta, kemarin.
DaÂlam forum itu, kata FirmÂan, pemeÂrintah harusnya lebih aktif meÂnyakinkan negara-neÂgara saÂhabat bahwa dalam memÂproduksi CPO, Indonesia tetap memperÂhaÂtikan lingkungan seÂkitar. Apalagi dalam diplomasi dagang interÂnaÂsional, setiap neÂgara berhak meÂnyuarakan keÂpenÂtingan nasional.
Menurut Firman, selama ini memang ada indikasi diskriÂmiÂnasi terhadap CPO Indonesia di persaingan global. Bahkan baÂnyak LSM asing yang mewaÂcaÂnakan pemboikotan CPO IndoÂnesia dengan tudingan Indonesia tidak menerapkan sistem yang raÂmah lingkungan dalam indusÂtri minyak sawit mentahnya.
Seharusnya, lanjut Firman, peÂmerintah tidak pasrah begitu saja dengan kampanye buruk itu. PeÂmerintah harus terus menÂdorong perkembangan komoditas straÂtegis ini nasional. Ini penting agar CPO yang telah memberikan konÂtribusi beÂsar bagi perekonoÂmian naÂsioÂnal mendapat ruang yang cukup untuk terus berkemÂbang dan daya tawarnya diperhiÂtungkan di kancah internasional.
“Mestinya dengan kondisi InÂdonesia sebagai produsen CPO terbesar dunia, pemerintah negeri ini menjadi panglima perang dalam mengarahkan kebijakan global untuk mendukung pertumÂbuhan komoditas tersebut,†tandas Firman.
Ketua Umum Forum PengemÂbangan Perkebunan Strategis BerkeÂlanÂjutan (FP2SB) Ahmad MangÂgaÂbarani juga berpendapat, kegagalan itu jeÂlas akan sangat merugikan IndoÂnesia. AkibatÂnya, CPO IndoÂnesia tidak menÂdapat keÂringanan bea masuk seÂbesar 5 perÂsen hingga 2015 di pasar Asia Pacific.
Dia menilai, kegagalan ini kaÂrena ketidakkompakan pemeÂrinÂtah dalam menghadapi persaiÂngan global. Contohnya, saat terÂÂjadi kampanye negatif terhaÂdap CPO Indonesia, kemenÂterian terÂkait justru tidak satu suara dalam menghadapi dan mengatasi maÂsalah tersebut.
“Berbagai unsur di pemerintah serta pelaku usaha harusnya satu suara di dalam negeri, baru seteÂlah itu kompak satu suara di kanÂcah internasional,†ujarnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Jumat, 17 Juli 2026 | 00:23
Jumat, 17 Juli 2026 | 00:14
Jumat, 17 Juli 2026 | 00:01
Kamis, 16 Juli 2026 | 23:47
Kamis, 16 Juli 2026 | 23:16
Kamis, 16 Juli 2026 | 23:00
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:52
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:45
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:34
Kamis, 16 Juli 2026 | 22:22