Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Kuncinya, BPH Migas Usut Penggarong Bensin & Solar

Dikasih Jatah Kuota Berapapun Pasti Akan Jebol Terus
MINGGU, 16 SEPTEMBER 2012 | 08:40 WIB

.Selama masalah penyelundupan BBM subsidi seperti solar dan bensin tidak diselesaikan, maka berapapun kuota BBM yang diminta pemerintah bakal jebol terus. Penggarong BBM mesti disikat.

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) men­catat, sepanjang Januari-Juni 2012 terjadi 396 kasus pe­nye­lundupan BBM subsidi yang ber­hasil tertangkap tangan. Hal ini terjadi karena satu faktor, yaitu disparitas harga atau harga BBM subsidi jauh lebih murah dari BBM non subsidi (pertamax cs).

“Saya kira permasalahan kita sekarang bukan operasional pem­­batasan BBM atau tambah kuota karena jatahnya jebol atau lain­nya. Melainkan di balik se­mua itu, balik lagi ke titik utama, pe­nyebab semua ini disebabkan dis­paritas harga antara BBM subsidi dan non subsidi terlalu jauh,” kata Wakil Menteri Ener­gi Sumber Daya Mineral (Wa­men ESDM) Rudi Rubiandini di Jakarta, pekan lalu.

Seorang pejabat di Kemen­terian ESDM menginformasikan bahwa kementerian termasuk BPH Migas seolah tak berdaya menghadapai ganasnya aksi pe­nyelundupan BBM subsidi. Aksi tersebut, kata­nya, dilakukan di semua tempat, baik daratan mau­pun lautan. Baik di Jakarta mau­pun di daerah.

“Bayangkan kapal laut yang mengangkut BBM sub­sidi bisa dibajak di tengah laut. Anda tahu lah siapa yang ber­kuasa di tem­pat ter­sebut,” ujarnya.

Posisi BPH Migas, kata sum­ber tersebut, seolah tidak ber­da­ya. Padahal, anggota badan ter­sebut berasal dari berbagai kala­ngan. Mulai dari Kejaksaan Agung (Kejakgung), kepolisian, purna­wirawan TNI hingga biro­krasi.

“Tidak jalan lain untuk me­nye­lamatkan kemelut soal BBM sub­sidi ya menaikkan harga ben­sin dan solar. Ini cara pa­ling ji­tu,” tukas sumber tersebut.

Menurut Rudi, dengan selisih harga keduanya yang terlampau jauh, apa yang bisa dilakukan pe­me­rintah untuk menahan penye­lundupan BBM subsidi baik lin­tas antara negara maupun pen­jualan lintas antara daerah.

“Sulit bagi aparat untuk melin­dungi BBM subsidi dari aksi pe­nyele­we­nangan. Apa yang bisa kita tahan baik itu penyelundupan lin­tas negara maupun penjualan lintas kita,” katanya.

“Artinya, yang harus­nya perke­bunan dan pertam­bang­an saat ini tidak boleh beli BBM subsidi, mereka bisa beli lewat pihak ke­tiga yang memang ber­hak, mobil mewah beli lewat pem­­bantunya. Itu semua kreati­vitas yang secara moral tidak bo­leh terjadi, tetapi terjadi di negeri ini. Semuanya ingin berlom­ba mendapatkan yang lebih mu­rah,” imbuh Rudi.

Anggota Komisi VII DPR Satya W. Yudha meminta aparat pe­merintah serius mencegah BBM subsidi digunakan oleh pihak yang tak berhak, khusus­nya industri yang seharusnya meng­gu­nakan BBM non subsidi.

Politisi Golkar ini meminta pemerintah dengan tegas bisa membasmi kebocoran-kebocor­an konsumsi BBM subsidi  se­hingga dana yang dikeluarkan untuk subsidi tidak sia-sia dan tepat sasaran.

“Ini menjadi ke­prihatinan ka­mi. Kalau sekarang kuota akan habis dan pemerintah minta pe­nambahan, itu bukan sesuatu yang susah. Masalahnya sekarang, kita tidak mau BBM subsidi diguna­kan pihak yang tidak berhak. Berapa pun kuota yang ditam­bahkan, pasti akan habis. Masih banyak orang kaya menerima subsidi,” kata Satya.

Direktur BBM BPH Migas Djoko Siswanto menyebutkan, DKI Jakarta bakal menjadi pro­vinsi yang pertama kehabisan kuota BBM bersubsidi. “Di Kali­baru, Jakarta Utara, banyak truk kalau malam suplai ke kapal yang ilegal,” kata Djoko.

Penyaluran di Jakarta Utara sam­pai akhir Agustus 2012 telah men­capai 216.481 kiloliter (KL) pada­hal kuota sampai Agustus hanya 146.778 KL. Kelebihan ku­ota ter­tinggi terjadi di Jakarta Pu­sat de­ngan over kuota 52,7 persen. Sam­pai akhir Agustus 2012 pe­nyaluran BBM bersub­sidi di Ja­karta Pusat sudah men­capai 156.333 KL, pa­dahal kuota sam­­pai akhir tahun 153.559 KL.

Ia mengatakan, penyelundupan yang terjadi di Jakarta banyak yang disalurkan ke daerah-daerah industri di pinggiran Jakarta. Djo­ko meng­atakan, para pencuri BBM dari luar Jakarta ini mem­beli pada siang hari lalu diangkut pada malam hari. “Ka­lau kita tong­krongin di jalan tol teng­ah malam, pasti ada truk tangki ya­ng nggak jelas hilir mudik. Ini per­lu dibereskan,” tukas dia. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

BNI Bawa Tiga UKM Indonesia Tembus Pasar Korea Selatan

Jumat, 17 Juli 2026 | 00:23

Api Ludeskan Rumah Tinggal di Cakung Timur

Jumat, 17 Juli 2026 | 00:14

BNI Geber Penguatan Tata Kelola Penyaluran KUR

Jumat, 17 Juli 2026 | 00:01

Baznas dan Sound Rhythm Ajak Nonton Bola Sambil Sedekah

Kamis, 16 Juli 2026 | 23:47

Rano Karno Targetkan 500 Penyanyi Tampil di Bundaran HI

Kamis, 16 Juli 2026 | 23:16

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 23:00

Nobar Piala Dunia TNI AD di 25 Ribu Titik Capai 1,13 Juta Penonton

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:52

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:45

KPK Rampungkan Analisis Laporan Penolakan Gratifikasi Raja Juli

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:34

Wamen Investasi: Kepastian Hukum Jadi Faktor Penting Tarik Investor Asing

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:22

Selengkapnya