Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Kelangkaan BBM Bayangi SPBU Di Jabodetabek

DPR Di-Warning, Jaminan Pasokan Tidak Bisa Dengan Lisan
JUMAT, 14 SEPTEMBER 2012 | 08:21 WIB

Pemerintah dan DPR di­minta bergerak cepat, mem­be­ri­­kan ga­ransi mengenai tam­ba­han kuota bahan bakar minyak (bbm) bersubsidi. Tan­pa tam­ba­han kuota, pekan de­pan, bbm ber­­­subsdi dikha­wa­­­tir­kan hilang dari stasiun pe­ngisian ba­han ba­kar umum (SPBU) di Ja­karta.

“Kuota sesuai anggaran BBM bersubsidi di Jakarta me­mang ha­bis pekan depan dan se­cara na­sio­nal habis di bulan Oktober. Untuk kondisi darurat, maka pe­merintah dan DPR harus menge­luarkan tam­bahan BBM bersub­sidi. Pe­merintah dan DPR bisa menge­luar­kan surat jaminan se­mentara,” kata Wakil Direktur Re­forminner Institute Komaidi No­to­­negoro di Jakarta, kemarin.

Berdasarkan perhitungan Re­forminner, kebutuhan konsumsi bbm bersubsdi di level 43 sam­pai 44 juta kiloliter (KL). Pada­hal, kuota yang ditetapkan dalam APBN tahun ini hanya sebesar 40 juta KL.

Komaidi menyebut, jika kuota habis, Pertamina tidak bisa me­nyalurkan tambahan bbm ber­sub­sidi jika tak mendapat per­se­tu­juan dari DPR dan Peme­rin­tah.

“Kalau hanya lisan tentu ti­dak bisa dijadikan dasar hukum. Untuk itu, perlu dokumen tertulis agar Pertamina bisa menyalurkan BBM bersubsidi. Jadi stok BBM bersubsidi ada, tetapi stok itu kan bukan yang tercantum dalam kuota 2012,” ungkapnya.

Komaidi menye­but, hampir mustahil dilakukan pembatasan BBM bersubsidi di tengah meni­pisnya pasokan.  Yang paling ma­suk akal adalah menambah jatah.

Berdasarkan perhitungan, jika skenario pem­batasan konsumsi BBM bersub­sidi di SPBU peru­mahan elite dan jalan tol ber­jalan, maksimal penghematan 1 juta KL. Padahal, per­tum­buhan kon­sumsinya mencapai 4 juta KL. Artinya, dibutuhkan tambahan kuota se­besar 3 juta KL.

Ketua Himpu­nan Wiraswasta Minyak dan Gas Bumi Nasional (Hiswana Migas) Eri Purno­mo­hadi mengatakan, pemerintah dan DPR harus mem­percepat pem­­bahasan dan tidak membi­arkan ku­ota BBM bersub­sidi hilang dari SPBU di Jakarta.

Fraksi PDIP mendukung lang­kah pe­merintah untuk me­nambah kuota BBM bersubsidi sebanyak 4 juta KL. “Kami menye­tu­jui penam­bahan kuota BBM ber­subsidi sebesar empat juta kilo­liter yang diusulkan pemerin­tah. Karena itu berpihak pada rakyat,” ujar Ketua Fraksi PDIP Puan Maha­rani.

Dia menjelaskan pada tahun 2010 lalu PDIP telah mena­war­kan kuota BBM sebesar 43 juta KL pada pemerintah namun ditolak. Pemerintah, lanjutnya, pada waktu itu hanya menyetujui sebesar 40 juta KL. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

BNI Bawa Tiga UKM Indonesia Tembus Pasar Korea Selatan

Jumat, 17 Juli 2026 | 00:23

Api Ludeskan Rumah Tinggal di Cakung Timur

Jumat, 17 Juli 2026 | 00:14

BNI Geber Penguatan Tata Kelola Penyaluran KUR

Jumat, 17 Juli 2026 | 00:01

Baznas dan Sound Rhythm Ajak Nonton Bola Sambil Sedekah

Kamis, 16 Juli 2026 | 23:47

Rano Karno Targetkan 500 Penyanyi Tampil di Bundaran HI

Kamis, 16 Juli 2026 | 23:16

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 23:00

Nobar Piala Dunia TNI AD di 25 Ribu Titik Capai 1,13 Juta Penonton

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:52

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:45

KPK Rampungkan Analisis Laporan Penolakan Gratifikasi Raja Juli

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:34

Wamen Investasi: Kepastian Hukum Jadi Faktor Penting Tarik Investor Asing

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:22

Selengkapnya