Berita

tamsil linrung.jpg

Tamsil: Penjarakan Pejabat Kemenkeu yang Ngaku Terpaksa Setuju Daftar Penerima DPID

SENIN, 10 SEPTEMBER 2012 | 18:09 WIB | LAPORAN:

Kementerian keuangan menyatakan terpaksa menyetujui daftar daerah penerima alokasi Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah (DPID) tahun 2011 yang berasal dari Badan Anggaran (Banggar) DPR RI.

Atas pernyataan tersebut wakil ketua Banggar DPR RI, Tamsil linrung angkat bicara. Menurutnya, pernyataan tertsebut menunjukkan bahwa pemerintah sangat lemah.

"Tidak ada istilah terpaksa, kalau dia mengatakan itu pemerintah lemah. Karena pemerintah kalau punya dokumen yang bener dia gak boleh terpaksa. Dia harus bertahan. Apa alasannya menjadikan terpaksa," kata Tamsil saat dikonfirmasi di kantor KPK, Jakarta, Senin (10/9).

Saking kesalnya dikonfirmasi perihal itu, Tamsil bahkan meminta oknum dari Kemenkeu yang menyatakan hal itu untuk diproses secara hukum. "Suruh penjarakan yang berkata seperti itu. Kita gak ada yang terpaksa. Saya juga menandatangani. Tidak karena keterpaksaan," tutupnya geram.

Sebelumnya, dalam persidangan perkara DPID dengan terdakwa Wa Ode Nurhayati di Pengadilan Tipikor Jakarta, Direktur Dana Perimbangan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Pramudjo mengaku terpaksa menyetujui daftar daerah penerima alokasi Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah (DPID) tahun 2011 yang berasal dari Badan Anggaran (Banggar) DPR RI.

Meski, jumlah daerah penerima DPID berbeda dengan jumlah daerah yang diberikan pemerintah dalam bentuk simulasi.

Bahkan, Pramudjo mengatakan Kemenkeu akhirnya terpaksa membuat Peraturan Menteri Keuangan (PMK) dengan daftar daerah yang berasal dari Banggar DPR RI, sebanyak 297 daerah.

"Iya (terpaksa menerima) dan dijadikan PMK pada akhirnya," jawab Pramudjo kepada Ketua Majelis Hakim, Suhartoyo ketika bersaksi untuk terdakwa Wa Ode Nurhayati beberapa waktu lalu. [zul]

Populer

Ramadhan Pohan, Pendukung Anies yang Kini Jabat Anggota Dewas LKBN ANTARA

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:45

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

UPDATE

OTT Pegawai Pajak Jakarta Utara: KPK Sita Uang Ratusan Juta dan Valas

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:14

Mendagri: 12 Wilayah Sumatera Masih Terdampak Pascabencana

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:04

Komisi I DPR: Peran TNI dalam Penanggulangan Terorisme Hanya Pelengkap

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:33

X Ganti Emotikon Bendera Iran dengan Simbol Anti-Rezim

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:27

Trump Sesumbar AS Bisa Kuasai 55 Persen Minyak Dunia Lewat Venezuela

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:10

Konten Seksual AI Bikin Resah, Grok Mulai Batasi Pembuatan Gambar

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:52

Ironi Pangan di Indonesia: 43 Persen Rakyat Tak Mampu Makan Bergizi

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:41

Emas Antam Berkilau, Naik Rp25.000 Per Gram di Akhir Pekan

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:34

Khamenei Ancam Tindak Tegas Pendemo Anti-Pemerintah

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:22

Ekonomi Global 2026: Di Antara Pemulihan dan Ketidakpastian Baru

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:06

Selengkapnya