Berita

ilustrasi/ist

Verifikasi Capres 4 L

KAMIS, 06 SEPTEMBER 2012 | 08:35 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

Katanya masyarakat Indonesia hari ini punya kesulitan dalam asumsi mengenai kepemimpinan, model kepemimpinannya  selalu stereotip kepemimpinan Barat.

Fisik dan citra diri dianggap lebih penting, sehingga kalau laki-laki ia harus impressive and charming, meski keduanya suka mengecoh, sehingga ibarat handphone cuma casing-nya doang yang bagus.

Untuk mengatasi kesulitan ini konon katanya pernah ada seorang politisi yang mengusulkan supaya dicari saja ahli genetika yang bisa memindahkan otak pemimpin Barat ke dalam otak pemimpin Indonesia.

Cukup otaknya yang dipindahkan, sebab badannya sudah impressive and charming sesuai stereotip Barat.

Yang dimaksud dalam anekdot itu adalah mindset para elit negeri ini yang mesti diubah, yaitu mindset priyayi, yang feodalistik dan pro-KKN, yang bersikap normatif terhadap keadaan yang tidak normal, karena memang salah satu ciri sifat priyayi ialah ‘’apa yang patut bagi dirinya bukan apa yang seharusnya’’.

Sejak zaman raja-raja Nusantara tempo dulu, golongan priyayi (golongan elit) memang merupakan golongan penghambat perubahan, maka akibatnya rakyat tidak pernah punya kesempatan naik kelas.

Golongan priyayi adalah sahabat raja secara langsung. Priyayi sendiri berasal dari kata yayi, yang berarti adik raja. Rakyat biasa bukan sahabat raja, melainkan harus tunduk dan takluk kepada para pejabat (para priyayi atau para elit) yang ditunjuk oleh raja.

Pada umumnya raja memang tidak terlalu menghiraukan rakyat, sebab hanya golongan priyayi yang masuk perhitungan raja. Sedangkan priyayi menganggap rakyat sebagai taklukan, dan karena itu mereka merasa memiliki hak penuh atas rakyat yang menjadi bawahannya.

Para elit Indonesia hari ini yang merupakan para priyayi-baru fundamentalis neolib tentu bukanlah golongan revolusioner karena mindest-nya yang sulit fokus terhadap tanggungjawab dalam mengabdi kepada rakyat.

Karena masyarakat Indonesia hari ini dikatakan punya kesulitan dalam asumsi mengenai kepemimpinan, dan model kepemimpinannya  selalu stereotip kepemimpinan Barat.

Maka para calpres, terutama para capres wajah lama alias 4 L (Lu Lagi Lu Lagi) yang nama-namanya kini sudah beredar secara marak di media massa, umumnya berperilaku imitatif, tidak orisinal, yaitu mengandalkan pencitraan. perilaku yang dalam bahasa Inggris dikatakan sebagai outwit alias mengecoh,  atau hoodwink, menipu.

Yang dibutuhkan bangsa ini ke depan bukan lagi sosok capres 4 L atau partai-partai politik yang berciri fans club, yang bertumpu kepada hal-hal yang bersifat fisik dan popularitas.

Bangsa dan negeri ini butuh sistem yang kuat dan hebat. Jadi, paradigmanya adalah memperkuat sistem, bukan memperkuat figur yang seolah-olah kuat atau dikesankan kuat untuk memimpin bangsa dan negeri ini. Karenanya para capres 4 L juga perlu diverifikasi, bahkan didiskualifikasi. ***


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

UPDATE

JK Menjelma Imam Besar Bagi Kelompok di Luar Kekuasaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:17

KPK Benarkan Panggil Pengusaha Rokok Haji Her, Tapi Mangkir dari Pemeriksaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:02

Komisi X DPR Tekankan Kesejahteraan Guru dalam Revisi RUU Sisdiknas

Rabu, 08 April 2026 | 10:00

Iran Sebut Trump Setuju Penuhi 10 Syarat Gencatan Senjata

Rabu, 08 April 2026 | 09:56

IHSG Balik ke Level 7.000-an, Rupiah Menguat Usai Tersungkur ke Rekor Terendah

Rabu, 08 April 2026 | 09:54

Akselerasi Penyehatan, Adhi Karya Lakukan "Bersih-Bersih" Neraca

Rabu, 08 April 2026 | 09:40

Manuver JK Tak Perlu Dikhawatirkan

Rabu, 08 April 2026 | 09:33

Imparsial: Sudah Mendesak Dilakukan Revisi UU Peradilan Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:32

Berkas Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Dilimpahkan ke Oditurat Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:21

KPK Soroti Dugaan Aliran Fasilitas ke Faisal Assegaf

Rabu, 08 April 2026 | 09:04

Selengkapnya