Berita

hillary clinton/ist

Syahganda: Hillary Berpotensi Rusak Harmoni ASEAN dan Ciptakan Dilema Indonesia

SELASA, 04 SEPTEMBER 2012 | 05:58 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton, ke Indonesia dan sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik termasuk Cina, perlu dicermati sebagai upaya global AS menancapkan pengaruh politik maupun ekonominya di kawasan ini.

Penilaian itu disampaikan Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC), Syahganda Nainggolan, Senin malam (3/9).

Dengan sendirinya, kunjungan tersebut berpotensi merusak harmoni di antara sesama ASEAN, selain membuat dilema masa depan posisi Indonesia yang berpengaruh di ASEAN.

  "Konflik di Laut Cina Selatan yang melibatkan Cina dengan negara-negara ASEAN khususnya Filipina, Brunei Darussalam, Vietnam, dan Malaysia, jelas dipandang menganggu kenyamanan agenda luar negeri AS, yang secara sungguh-sungguh dan spektakuler kini berorientasi ke lingkungan Asia Pasifik," jelas Syahganda di Jakarta, Senin (3/9).

  Menurutnya, respon persahabatan penuh dari Indonesia sangat diperlukan AS sebelum mendapatkan dukungan serupa dari negara-negara lain di ASEAN. Selanjutnya, seluruh negara ASEAN diharapkan mendukung agenda keterlibatan AS dalam penyelesaian konflik Laut Cina Selatan yang mempengaruhi stabilitas Asia Pasifik itu.

  “Jadi, kunjungan Hillary ke Indonesia bukan membawa kedamaian, justru sebaliknya menawarkan risiko dan persoalan terhadap Indonesia dan ASEAN,” katanya.

  Ia kemudian melansir, pidato Presiden Obama pada November 2011 di Australia yang menegaskan aspek strategis Asia Pasifik bagi Amerika Serikat, karena itu telah ditempatkan sekitar 2.500 pasukan marinir AS di Darwin, Australia untuk mengontrol sekaligus mewaspadai negara-negara dalam kawasan ini ke arah penciptaaan sekutu barunya.

  Syahganda mengatakan, dalam konteks kunjungan Hillary, pihak Amerika Serikat dipastikan menawarkan perlindungan politik ataupun jaminan tertentu kepada Indonesia, maupun negara-negara ASEAN yang terlibat sengketa Laut Cina Selatan guna menghadapi Cina.

  Dia juga mengatakan, pembicaraan bantuan atau jaminan tertentu kepada Indonesia patut dicurigai sebagai rencana kapitalisme Amerika Serikat untuk menguasai akses sumberdaya alam di antaranya tambang dan migas.

  Atas pertimbangan ini pula, kehadiran Hillary bisa dimanfaatkan oleh para kaki tangan kapitalisme asing yang terus bercokol memperkaya diri beserta kelompoknya di tengah penderitaan sebagian besar rakyat.

  Pada sisi lain,  lanjut Syahganda, lobi Hillary dapat merusak kepercayaan internasional dalam bentuk hilangnya peran strategis Indonesia di mata negara-negara lain dan utamanya ASEAN, yang sering memberi kesempatan Indonesia dalam membawa kepentingan ataupun misi ASEAN di lingkungan regional lain.

  Ia menambahkan, kedatangan Hillary ke Indonesia tentu saja menciptakan persoalan yang dapat merusak tatanan solidaritas ASEAN, di samping tidak memperkuat suasana kemandirian di antara ASEAN dan menyangkut terpeliharanya kekuatan ASEAN di hadapan negara lain.

  ”Indonesia harus tetap berkiblat dengan politik bebas aktifnya dan tidak boleh menjadi kaki tangan Amerika Serikat di ASEAN, demi menjaga kehormatan bangsa ini ke depan dan keutuhan ASEAN itu sendiri,” ujarnya.

  Sementara itu, dalam mencari titik temu terkait sengketa Laut Cina Selatan, seharusnya Indonesia berperan menjadi juru runding utama dengan Cina atasnama komunitas ASEAN. [guh]


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Subsidi Biaya Haji 2027 jadi Kabar Baik bagi Calon Jemaah

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:30

Hanya PDIP Berani secara Vulgar Menyerang Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:07

Sangat Aneh Parpol di DPR Tidak Tegas soal Putusan MK terkait Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:41

Kumpulkan 800 Pati TNI-Polri: Kekuatan Harus Berujung Rasa Aman Rakyat

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:30

Suyudi Bakal Bawa Korps Bhayangkara Makin Profesional

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:10

Komisi I DPR Usul Dua Rekomendasi soal Status Kavling TNI AL Pangkalan Jati

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:46

Soal Putusan MK, Jokowi-Gibran sedang Menuai Hasil

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:01

PPTQ Al-Ghozali Majalengka Pastikan Isu Perundungan Hoaks

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:26

AHDAA Raih Penghargaan Indonesia Halal Awards 2026

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:09

Industri Percetakan Butuh Kolaborasi Lintas Kementerian

Jumat, 09 Oktober 2026 | 00:36

Selengkapnya