ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Namun, bedah plastik harus dilakukan secara hati-hati karena memiliki risiko bagi si pasien, mulai dari infeksi sampai penÂdarahan. Bahkan tak sedikit paÂsien mengalami efek samping secara fisik dan psikologis dalam tindakan tersebut, yaitu shock mental, depresi dan sindrom keÂcanduan operasi plastik.
Menurut Dokter Spesialis BeÂdah Plastik dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Gentur Sudjatmiko, tindakan bedah plasÂtik secara umum terbagi atas beÂdah rekonstruksi dan bedah esÂtetika. Perbedaan di antara keÂduaÂnya adalah tujuan dari pemÂbeÂdahan itu sendiri.
“Setiap tindakan bedah meÂmiliki efek samping atau risiko dan semua itu tergantung dari penanganan dokter itu sendiri dalam merekonstruksinya,†kata Gentur dalam seminar media ‘Tingkatkan Kualitas Hidup DeÂngan Bedah Estetik dan RekonÂstruksi’ di Jakarta, Rabu (15/8).
Untuk bedah rekonstruksi berÂtujuan mengembalikan fungsi serta memperbaiki bentuk atau penampilan yang lebih baik atau setidaknya mendekati normal akiÂbat cacat bawaan lahir, keÂceÂlakaan atau penyakit. Tindakan ini dihaÂrapkan dapat membantu paÂsien yang sebelumnya merasa renÂdah diri akibat kecacatan, mampu meÂningkatkan kepercaÂyaan diri dan kualitas hidupnya.
Sedangkan bedah plastik esÂtetik atau kosmetika dilakukan keÂpada pasien normal dan sehat untuk membenahi anggota tubuh yang dirasa kurang indah, agar menjadi ideal dan mendekati sempurna.
“Bedah plastik secara tidak langÂsung akan mempengaruhi rasa percaya diri seseorang kaÂrena merasa penampilannya leÂbih baik,†kata Gentur.
Ada beberapa contoh tindakan dalam bedah rekonstruksi. Di anÂtaranya transplantasi kulit yang biasanya dilakukan kepada paÂsien mengalami luka bakar atau kecelakaan. Kulit yang diÂcangÂkok merupakan lapisan epiÂdermis kulit dan berasal dari baÂgian tuÂbuh lain seperti paha, pungÂgung atau perut dipinÂdahÂkan ke bagian tubuh yang kehiÂlangan jaringan kulitnya.
Selain itu, bisa juga dilakukan flap atau pencangkokan jaringÂan kulit beserta jaringan lunak dibaÂwahnya yang diangkat dari temÂpat asalnya. Tetapi tetap memÂpuÂÂnyai hubungan pendaraÂhan deÂngan tempat asal untuk kemuÂdian memÂbentuk pendaraÂhan baÂru di tempat resipien (peÂnerima donor).
“Aplikasi teknik bedah ini miÂsalnya pada rekonstruksi kuÂping, hidung, memperbaiki keÂlainan pada wajah pasca operasi, miÂsalnya kelainan pada pipi pasca operasi tumor, kelainan pada kulit dengan jaringan parut, dan lainÂnya,†terang Gentur.
Ada juga tindakan penamÂbahÂan implan yang biasanya diÂlaÂkukan kepada pasien yang telah melakukan operasi pengangkatÂan payudara atau mastektomi.
Sementara itu, tindakan bedah plastik estetik dapat di kelomÂpokkan menjadi dua, yaitu tanpa opeÂrasi dan dengan operasi. BeÂdah plastik tanpa operasi, miÂsalÂnya botox, penyuntikan botuÂliÂnum toxin untuk mengurangi atau menghilangkan kerutan di dahi, sudut mata dan pangkal hidung.
Selain itu, ada yang disebut dengan injectable fillers, yang bertujuan menambah volume pada bagian wajah tertentu, seperti bibir atau hidung pada kasus tertentu serta memperbaiki bekas luka yang cekung.
Adapun beragam tindakan beÂdah plastik dengan operasi menÂcakup rhinoplasty (nose surgery). Operasi ini, dapat memperbaiki bentuk hidung agar lebih proporÂsional atau mancung, memperÂkecil tampilan hidung yang berÂkesan lebar dan memÂbentuk ujung atau puncak hidung lebih kecil.
“Operasi jenis ini termasuk seÂring, bisa tiga sampai lima kasus per hari. Paling banyak ingin meÂninggikan hidung. UnÂtuk meÂmanÂcungkan hidung, dapat dilaÂkukan dua prosedur dengan mengÂgunakan implant silicon padat atau dari tulang rawan,†imbuh dokter spesialis bedah plastik dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Teuku Adi Fitrian atau biasa disapa Tompi ini.
Selain itu, ada juga metode liposuction (sedot lemak) dan tummy-tuck. Menurut Tompi, masyarakat banyak yang salah kaprah jika kedua tindakan sedot lemak tersebut bertujuan memÂbuat badan kurus. Padahal, keÂduÂanya dilakukan dalam rangka memÂbentuk tubuh dan mengenÂcangkan otot yang kendur.
“Semua operasi plastik selalu meÂÂninggalkan bekas jahitan teÂtapi berkat perkembangan tekÂnoÂlogi kedokteran, bekas terseÂbut daÂÂpat dihilangkan sehingga terÂlihat samar. Tetapi tetap saja bila pembedahan yang disusul deÂngan penjahitan, selalu akan meÂnimÂbulÂkan bekas,†pesan peÂnyanyi Jazz ini.
Menurutnya, pada bedah plasÂtik liposuction, harus diingat, seÂtiap tindakan operasi pasti seÂlalu memiliki risiko. Bila dokter terÂlalu banyak meÂnyedot lemak daÂlam tubuh, maka dapat meÂnyeÂbabkan kematian.
Hal tersebut dikarenakan caÂiran tubuh serta darah yang terÂsedot akan sangat banyak, dan sepertiga dari bahan yang keÂluar dari tubuh ketika operasi sedot lemak adalah darah.
“Terlalu banyak keluar lemak, darah serta cairan menyebabkan pasien shock, yang mengÂakiÂbatÂkan gagalnya kerja jantung. Bila Anda ingin melakukan operasi ini, maka tanyakan pada dokter seberapa banyak lemak yang akan dikeluarkan,†jelasnya.
Dokter Spesialis Bedah Plastik RSPI Elida Sari Siburian meÂnambahkan, kasus bedah plastik bisa dilakukan dengan tujuan rekonstruksi maupun estetika.
Misalnya, pada kasus operasi rekonstruksi, dimana pasien daÂtang dengan keluhan nyeri pungÂgung akibat ukuran paÂyudara yang terlalu besar seÂhingga memÂberi beban berat pada pungÂgung.
“Tindakan ini juga meÂruÂpakan upaya rekonstruksi yang perÂlu mempertimbangkan hasil esÂtetika yang baik,†kata Elida. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03
Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50
Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15
UPDATE
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12