Berita

PILKADA JAKARTA

MPR RI: Isu SARA Harus Dihentikan, Jangan Dikapitalisasi

JUMAT, 24 AGUSTUS 2012 | 20:59 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

UUD 1945 dengan jelas menegaskan tidak ada lagi kategori primordial dalam kewarganegaraan kita. Dengan demikian, semua pihak diimbau untuk mawas diri dan kembali ke semangat dalam menyikapi video "Coboy China Pimpin Jakarta" yang bersemangat primordial di tengah suasana pemilihan gubernur DKI Jakarta.

Imbauan itu disampaikan Wakil Ketua MPR RI Hajriyanto Y. Thohari dalam perbincangan dengan Rakyat Merdeka Online. Jumat malam (24/8).

Hajriyanto mengingatkan, konstitusi Indonesia sudah mereformasi doktrin kewarganegaraan sehingga menjadi sangat terbuka, demokratis dan egaliter demi untuk mengakhiri diskriminasi politik terhadap kelompok yang dulu disebut sebagai “warga negara keturunan” terutama Cina, Arab, India, Eropa, dan lain sebagainya.

"Adalah sangat ironis ketika UUD 1945 sudah menghapus kata 'Indonesia Asli' sebagai syarat menjadi calon presiden dan calon wakil presiden RI dalam pasal 6 UUD 1945, dan akhirnya diikuti dengan jabatan-jabatan politik lainnya seperti gubernur, bupati, dan lain sebagainya, kini malah muncul  video SARA dalam momentum kampanye pilgub Jakarta," ujar Hajriyanto.

Dia meminta agar semua pihak mengakhiri polemik tentang video SARA itu dengan segera. Semua pihak, dalam hal ini masing-masing kandidat dan para pendukungnya, sebaiknya tidak terlalu bernafsu mengeksploitasi isu SARA dan kasus video SARA ini untuk kampanye hitam.

"Pengedar video SARA adalah salah. Tetapi mereka yang melakukan kapitalisasi terhadap peredaran video itu untuk kepentingan strategi dan taktik politiknya juga lebih salah lagi. Masak, biar tampak didzalimi lalu mendramatisasi video SARA itu secara berlebihan dengan mengkapitalisasinya," kata dia lagi.

"Asal tahu saja, membalas yang salah dengan cara yang salah adalah salah. Manusia bisa salah, tetapi janganlah melantur-lantur dalam kesalahan yang sama secara terus menerus," demikian Hajriyanto. [guh]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya