Berita

joko widodo/ist

Kubu Jokowi Mengambil Keuntungan di Balik Kebakaran Jakarta

KAMIS, 23 AGUSTUS 2012 | 11:31 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Kubu pendukung Joko Widodo dan Basuki T. Purnama memanfaatkan peristiwa kebakaran yang terjadi beberapa kali di Jakarta belakangan ini untuk mendongkrak popularitas jago mereka.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan di DPR RI, Dewi Aryani, misalnya, menyebut kebakaran itu sebagai teror bencana karena terjadi di lumbung suara Jokowi.

Di Cideng, misalnya, Jokowi memperoleh 55,26 persen suara, sementara Fauzi Bowo mengantongi 26,07 persen suara dalam putaran pertama yang lalu.

Lalu di Muara Kapuk (Jokowi 62,49 persen dan Fauzi 25,02 persen). Begitu juga di Karet Tengsin, dimana Jokowi menang relatif tipis (39,36 persen) dibandingkan Fauzi (36,01 persen).

Hal yang sama juga terjadi di Pondok Bambu (Jokowi 39,14 persen, dan Fauzi Bowo 35,66 persen); Glodok (Jokowi 77,30 persen dan Fauzi Bowo 16,63 persen); Pekojan - Tambora (Jokowi 61,35 persen, dan Fauzi Bowo 26,73 persen); serta Pinangsia (Jokowi 56,45 persen, dan Fauzi Bowo 33,02 persen).

"Sistematis dan terstruktur lokasinya," kata Dewi Aryani.

Sepintas pernyataan Dewi Aryani yang baru saja meraih gelar doktor di bidang kebijakan publik dari Universitas Indonesia ini ada benarnya. Tetapi kalau diamati sekali lagi, tidakkah pernyataan ini terasa berlebihan, insinuatif, dan terlalu mengada-ada.

Dan yang juga tak kalah menyedihkan, pernyataan itu terkesan memanfaatkan penderitaan korban kebakaran untuk sekadar membangun citra jago yang didukungnya.

Bukankah hal pertama yang dibutuhkan untuk menguak kejadian seperti ini adalah olah tempat kejadian perkara (TKP)?

Dewi Aryani boleh saja mengaitkan kebakaran-kebakaran ini dengan proses pemilihan gubernur DKI Jakarta. Tetapi sebagai seorang akademisi tidakkah ia memahami bahwa ia membutuhkan lebih dari sekadar prasangka untuk menyatakan di depan publik bahwa kebakaran demi kebakaran itu adalah "teror bencana yang sistematis dan terstruktur lokasinya".

Dewi Aryani tidak sendiri. Segera setelah pernyataannya itu, berbagai pesan dikirimkan oleh pendukung dan simpatisan Jokowi lainnya, baik dalam bentuk pesan pendek (SMS) maupun pesan-pesan singkat di jejaring media sosial.

Bahkan ada yang mengaitkan kebakaran-kebakaran itu dengan pernyataan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo saat mengunjungi korban salah satu peristiwa kebakaran.

Dengan maksud bercanda, dan tentu saja maksud ini salah tempat, Fauzi mengatakan agar korban kebakaran yang tidak memilih dirinya dalam putaran pertama membangun rumah di Solo yang dipimpin Jokowi.

Nah, pernyataan blunder Fauzi Bowo itulah yang dimanfaatkan pendukung Jokowi untuk memaksakan dugaan dan kecurigaan menjadi kenyataan. Kubu Jokowi kelihatannya berusaha mengambil keuntungan dari kebakaran yang terjadi belakangan ini di Jakarta.

Rakyat Merdeka Online menghubungi pengamat intelijen Wawan H Purwanto untuk mendapatkan penjelasan mengenai peristiwa kebakaran di Jakarta akhir-akhir ini dan kaitannya dengan operasi intelijen yang mungkin dilakukan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin mengambil keuntungan.

"Hal paling utama yang harus dilakukan segera adalah olah TKP. Dari sinilah semua dugaan dan asumsi seharusnya berawal," ujar Wawan.

Keterangan saksi, korban dan ahli forensik juga dibutuhkan sebelum para pihak mengambil konklusi mengenai latar belakang kejadian.

"Bila dihubungkan dengan lokasi kebakaran, perlu diselidiki dengan seksama apakah betul ada kesengajaan, atau hanya kebetulan," sambungnya.

Dia mengingatkan, kebakaran memang sering terjadi di Jakarta. Sejauh ini diketahui faktor utama penyebabnya adalah instalasi yang tua, pemukiman yang padat, dan kebiasaan masyarakat pengguna aliran listrik yang tidak awas. [guh]

Populer

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

Lima BPD Berebut Jadi Tuan Rumah Munas BPP HIPMI XVIII

Minggu, 15 Februari 2026 | 12:17

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Aneh Sekali! Legalisir Ijazah Jokowi Tanpa Tanggal, Bulan, dan Tahun

Jumat, 13 Februari 2026 | 02:07

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

UPDATE

Alpriado Osmond Mangkir, Sidang Mediasi di PN Tangerang Ditunda

Senin, 23 Februari 2026 | 16:17

Dasco Minta Impor 105 Ribu Mobil Pikap dari India Ditunda

Senin, 23 Februari 2026 | 16:08

Tiongkok Desak AS Batalkan Tarif Trump Usai Putusan MA

Senin, 23 Februari 2026 | 16:02

SBY Beri Wejangan Geopolitik ke Peserta Pendidikan Lemhannas

Senin, 23 Februari 2026 | 15:55

Subsidi untuk Pertamina dan PLN Senilai Rp27 Triliun Segera Cair

Senin, 23 Februari 2026 | 15:53

Putaran Ketiga Perundingan Nuklir Iran-AS Bakal Digelar 26 Februari di Jenewa

Senin, 23 Februari 2026 | 15:42

KPK Buka Peluang Panggil OSO Terkait Fasilitas Jet Pribadi Menag

Senin, 23 Februari 2026 | 15:38

Perjanjian Dagang RI-AS Jangan Korbankan Kedaulatan Data

Senin, 23 Februari 2026 | 15:24

Palguna Diadukan ke MKMK, DPR: Semua Pejabat Bisa Diawasi

Senin, 23 Februari 2026 | 15:24

Polisi Amankan 28 Orang Lewat Operasi Gakkum di Yahukimo

Senin, 23 Februari 2026 | 15:23

Selengkapnya