Berita

Pesan untuk Jokowi: Persoalan Jakarta Tak Bisa Diselesaikan dengan Ritual Supranatural

SELASA, 14 AGUSTUS 2012 | 10:41 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Foto yang memperlihatkan Walikota Solo Joko Widodo tengah memandikan satu unit mobil Esemka Rajawali dengan air kembang kembali menjadi bahan pembicaraan di tengah masyarakat ibukota. Adegan memandikan benda mati dengan air kembang itu dianggap sebagai wujud dari pikiran yang tidak rasional.

"Memberangkatkan mobil Esemka Rajawali untuk mengikuti uji emisi kok pakai mandi kembang. Apa pengaruh mandi kembang itu terhadap kelulusan uji emisi?" kata Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Saleh Daulay dalam perbincangan dengan Rakyat Merdeka Online, Selasa pagi (4/8).

"Pengaruhnya tidak ada sama sekali. Faktanya, walau sudah dimandikan dengan ritual yang cenderung bersifat klenik, dalam uji emisi itu mobil Esemka ternyata tidak lulus," sambung Saleh merujuk hasil uji emisi Esemka Rajawali di bulan Februari.

Mobil Esemka Rajawali adalah hasil rakitan siswa SMK 2 Solo yang didukung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jokowi tampak begitu menggebu-gebu memanfaatkan mobil Esemka Rajawali sebagai salah satu undakan menuju pencalonan dirinya sebagai gubernur DKI Jakarta. Setelah gagal di bulan Februari, Esemka kembali mengikuti uji emisi dan akhirnya beberapa waktu lalu dinyatakan lulus dengan syarat harus mengurangi bobot.

Menurut Saleh yang juga pengajar di Jurusan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta membutuhkan pemimpin yang mampu berpikir secara rasional dalam menyelesaikan setumpuk persoalan di ibukota. Persoalan Jakarta tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan supranatural, apalagi dengan sesuatu yang irasional.

"Para pemilih di ibukota yang terkenal sangat cerdas tentu akan memilih gubernur dan wagub yang rasional dan intelektual," sambungnya.

Saleh juga mengatakan dirinya khawatir praktik semacam memandikan dengan air kembang itu akan terus dilakukan apabila Jokowi menang dalam pemilihan gubernur Jakarta.

"Mungkin sebagian orang menganggap ini masalah sepele. Padahal, ini masalah yang sangat prinsipil. Kalau urusan kecil seperti itu saja sudah tidak menggunakan akal sehat, dapat dipastikan persoalan-persoalan besar juga akan menggunakan praktik-praktik seperti itu," masih katanya.

Karena itu, Saleh berharap pemilih emosional bersedia memikirkan ulang pilihan politik dalam putaran kedua nanti. Pakailah akal pikiran yang sehat dalam melihat kapasitas dan kualitas kandidat. Kalau emosinalitas yang dikembangkan, Saleh khawatir, pemilih akan menyesal dalam 5 tahun yang akan datang.

"Lagi pula, kasihan ibukota Jakarta yang dalam proses berbenah saat ini," demikian Saleh. [guh]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Polisi Pastikan Pengemudi Pikap yang Tabrak Petugas di Gerbang DPR Mabuk Alkohol

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:26

Wakil Presiden Tanzania Emmanuel Nchimbi Mundur Usai Berselisih dengan Presiden

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:18

Wall Street Melemah, Investor Cermati Pidato Kevin Warsh

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:14

Dony Oskaria Bongkar Penataan BUMN: 290 Selesai, 254 Jadi Target

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:03

Banjir Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Paus Leo XIV Kirim Doa

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:46

Saham Eropa Melesat Cantik Dipimpin Sektor Mewah dan Perbankan

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:34

Dua Sumur Baru PHSS di Struktur Semberah Lampaui Target Produksi Migas

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:19

PKM Dorong Keluarga Muba Naik Kelas, Rp25 Juta Jadi Modal Kemandirian Ekonomi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:07

Ichsanuddin Noorsy dan Pemikiran Ekonomi Konstitusi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:54

MBG Jadi Bantalan Ekonomi Masyarakat Bawah, Kritik jadi Evaluasi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:46

Selengkapnya