ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Beberapa kejadian di Indonesia sudah membuktikan hal tersebut. Sebut saja wabah polio pada taÂhun 2005-2006 yang menyeÂbabÂkan 385 anak lumpuh, wabah campak antara tahun 2009-2011 yang menyebabkan 5.818 anak dirawat di rumah sakit dan 16 di antaranya meninggal.
Hal itu diungkapkan KeÂtua PaÂntia Penyelenggara HaÂnifah OsÂwari dalam pembukaan SimpoÂsium bersama Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di JakarÂta, SeÂlasa (20/7). MenuÂrutnya, maÂyoÂritas waÂbah penÂyaÂkit disebabkan akiÂbat caÂkupan imuÂnisasi yang rendah.
Berdasarkan data Riset KeseÂhatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, sekitar 46,2 persen anak di Indonesia sudah mendapatkan imuÂnisasi secara lengkap dan 45,3 persen imunisasinya tidak lengkap.
Indonesia kini berada dalam dafÂtar 10 negara yang bayinya baÂnyak tidak diimuÂnisasi, sejajar dengan Angola, Nigeria, BanglaÂdesh, PaÂkistan dan Ethiopia. MeÂnurut data terakhir Organisasi KeseÂhatan Dunia (WHO), samÂpai saat ini angka kematian balita akibat peÂnyakit infeksi yang seÂharusnya dapat dicegah lewat imunisasi masih tinggi.
Bahkan di antaranya, terdapat kematian balita sebesar 1,4 juta jiwa per tahun, misalnya batuk rejan 294.000 (20 persen), tetanus 198.000 (14 persen) dan campak 540.000 (38 persen).
United Nations InterÂnational Children’s & EduÂcation Fund (UNICEF) mencaÂtat, seÂkitar 30.000-40.000 anak di Indonesia tiap taÂhun menderita campak.
Ketua Satuan TuÂgas (Satgas) Imunisasi IDAI dr Sri Rezeki Hadinegoro mengatÂaÂkÂan, waÂbah bukan hanya meÂnyeÂbabkan anak sakit berat, tapi juga cacat, bahÂkan kematian.
“Anak yang tidak diimunisasi bukan saja tidak punya kekebalÂan tubuh, tapi juga bisa menuÂlarkan penyakit pada lingkungÂanÂnya seÂhingga penyakit itu tetap berÂkeÂliaran di masyarakat dan sulit diÂeradikasi,†katanya.
Untuk mencegah wabah, caÂkupan imunisasi minimal harus mencapai 80 persen. Sementara untuk penyakit yang infeksinya lebih berat, cakupannya harus 100 persen agar tidak terjadi wabah.
Direktur Surveilans Imunisasi, Karantina dan Kesehatan Andi MuÂhadir mengatakan, tahun ini diseÂpakati sebagai Tahun IntenÂsiÂfikasi Imunisasi Rutin atau IntensificaÂtion of Routine ImÂmuÂnization (IRI).
Hal ini sejalan dengan Gerakan AkÂseÂlerasi Imunisasi Nasional (GAIN) yang bertujuan meningÂkatÂkan cakupan imunisasi lebih dari 80 persen dan pemerataan pelayanan imunisasi sampai ke setiap desa di Indonesia. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03
Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50
Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15
UPDATE
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12