Berita

emir moeis/ist

EMIR MOEIS TERSANGKA

KPK Tidak Akan Mempan Sindiran SBY

KAMIS, 26 JULI 2012 | 10:08 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Apakah ada korelasi penetapan kader penting PDI Perjuangan, Emir Moeis, dengan sindiran Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono?

Saat membuka Forum Silaturahmi Pendiri dan Deklarator Partai Demokrat di Hotel Sahid Jaya Jakarta, Rabu 13 Juni lalu, SBY menegaskan bahwa bukan cuma partainya yang layak jadi bulan-bulanan media massa dalam pemberitaan korupsi. Dalam data yang dimilikinya, masih banyak kader partai lain yang terlibat korupsi, bahkan lebih parah dari Demokrat.

Sementara kalangan memandang, kasus Emir Moeis jadi indikasi bahwa sindiran SBY itu mengena pada KPK. Emir dicap kader "sakti" asal partai yang berseberangan dengan pemerintah itu, karena meski sering disebut dalam banyak kasus, dia selalu lolos dari status tersangka. Kali ini Ketua Komisi XI DPR itu dihantam kasus proyek PLTU tahun anggaran 2004.


Namun, pengamat politik senior Arbi Sanit memandang terlalu jauh untuk menyimpulkan hal tersebut.  Gaya KPK dalam penanganan kasus korupsi membuatnya percaya tidak ada kaitan antara pernyataan SBY yang menjabat Presiden dengan penetapan tersangka untuk kader partai lain.

"Melihat gaya KPK, saya yakin sindiran seperti itu engga akan kena. Artinya, sindiran apapun dari SBY tidak akan jadi pertimbangan penting," kata pengajar ilmu politik itu kepada Rakyat Merdeka Online, beberapa waktu lalu.

Penetapan tersangka pada Emir Moeis, lanjut Arbi yakin, semata karena KPK baru punya faktanya sekarang. Gaya KPK adalah menetapkan orang sebagai tersangka berbekal data yang kuat.

"Pertimbangan KPK pasti pada fakta hukum, bukan pengaruh politik. PDIP tidak bisa berkutik dan menganggap kasus ini sarat politik. Kalau KPK punya bukti, PDIP tak akan bisa berkutik," ujarnya. [ald]

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya