Berita

pegungsi rohingya/ist

BURMA BERDARAH

AI: Pemerintah Burma dan Etnis Rakhine di Balik Pembantaian Etnis Rohingya

SABTU, 21 JULI 2012 | 19:12 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Organisasi perlindungan HAM Amnesty International mengecam aparat keamanan Burma dan warga etnis Rakhine atas kekerasan dan pembunuhan yang dilakukan terhadap warga etnis Rohingya.

Kekerasan yang dialami warga Rohingya telah terjadi beberapa pekan terakhir sejak status darurat diberlakukan di Provinsi Rakhine.

“Dalam banyak kasus serangan diarahkan kepada kelompok minoritas Rohingya," ujar peneliti Amnesty International, Benjamin Zawacki, kepada BBC.

Direktur Aarakan Project, Chris Lewa, yang fokus mendampingi warga Ronghiy di kawasan itu juga mengatakan ratusan umat Muslim Rohingya ditangkap. Beberapa dipukul dan bahkan disiksa.

"Segera setelah kekerasan utama, kemudian kami mulai menyaksikan babak baru dari apa yang saya sebut pelanggaran yang dilakukan oleh negara terutama di Maung Daw," ujar Lewa juga kepada BBC.

Laporan dari jaringan kelompok itu mengatakan bahwa pihak penguasa memberikan kesempatan kepada pemuda-pemuda Rakhine menyerang orang Rohingya yang berada dalam tahanan. Aarakan Project juga menduga aparat pemerintah terlibat dalam penjarahan rumah milik warga Rohingya.

Beberapa Muslim Rohingya ditahan berkaitan dengan kekerasan yang terjadi pada 8 Juni lalu.

Menurut BBC tidak mudah mengumpulkan informasi yang akurat mengenai kekerasan yang terjadi di kawasan itu. Jurnalis tidak diperkenankan mendekati kawasan di sekitar kerusuhan. Sejauh ini informasi yang diperoleh berasal dari organisasi yang memberikan bantuan kepada masyarakat lokal sebelum kerusuhan.

Kekerasan antara etnis Rakhine yang beragama Budha dan etnis Rohingya yang beragama Islam terjadi bulan Mei lalu setelah kasus pemerkosaan dan pembunuhan seorang gadis Rakhine. Kejadian itu disusul dengan serangan terhadap sebuah bis yang mengangkut warga etsni Rohingya.

Selanjutnya, menurut BBC, kekerasan terpusat di Maung Daw ketika kelompok Rohingya menyerang rumah etnis Rakhine.

Awal Juli ni Presiden Burma, Thein Sein, mengatakan solusi terbaik untuk memecahkan kasus itu adalah dengan mendeportasi Rohingya yang keturunan Banglades atau menyediakan kamp pengungsi untuk mereka.

Jurubicara pemerintah untuk Rakhine, Win Myaing, kepada Associated Press mengatakan tudingan Amnesty International itu tidak memiliki dasar dan bias. [guh]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Iran Tak Terima Dituding Langgar Gencatan Senjata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:21

Riak Penolakan Jokowi di Lampung, Baliho Sambutan Raib

Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:01

Ramai di Medsos, Purbaya Respons Pajak Pencairan JHT BPJS Ketenagakerjaan

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:59

Ajukan Kasasi, Kerry Riza Anggap Putusan PT DKI Janggal

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:46

Harga Minyak Anjlok ke Level 71 Dolar AS

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:39

bank bjb Perluas Kolaborasi dengan Whuush Ojol, Kadin Jabar dan MUJ

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:38

AS Serang Target Militer Iran, Balas Serangan Drone terhadap Kapal Kargo di Selat Hormuz

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:21

Emas Antam Naik Usai Mandek Dua Hari Beruntun

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:09

Trump Sebut Iran Lakukan Pelanggaran Bodoh Terkait Pelanggaran Gencatan Senjata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:51

Emas Rebound 1,3 Persen usai Data Inflasi AS

Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:33

Selengkapnya