Jusuf Kalla
Jusuf Kalla
RMOL.Pemerintah diminta tegas mengambil alih semua blok-blok minyak dan gas (migas) di dalam negeri dari tangan asing yang habis masa kontraknya untuk mengamankan pasokan energi.
usulan itu disampaikan bekas Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) saat diskusi prospek pengusahaan blok-blok migas habis masa kontrak di Gedung MPR, kemarin.
JK yang mengenakan batik cokÂlat kehitam-hitaman itu meÂngatakan, blok-blok migas yang umurnya sudah 25 tahun dan 40 tahun sebaiknya diambli alih peÂmerintah untuk dikelola badan usaha milik negara (BUMN).
Dia juga mengkritik tidak geÂsitnya Pertamina dalam meÂngambil blok-blok tersebut. ConÂtohnya, pengelolaan Blok NaÂtuÂna di Kepulauan Riau (Kepri).
“Meski sudah diutamakan unÂtuk mengambil Blok Natuna, tapi tidak diambil dan tidak diÂsentuh oleh Pertamina. NasioÂnalisme hanya ada di seminar, seÂmentara di lapangan minyak sistem maÂkelar,†kritik JK.
Ketua Umum Palang Merah InÂdonesia (PMI) itu juga meÂnyinÂdir saat ini Pertamina lebih diÂkenal sebagai perusahaan penÂjual miÂnyak. Padahal, perusaÂhaan peÂlat merah itu didirikan untuk menÂÂcari minyak.
JK meÂngakui, dulu karakter Pertamina itu seÂmacam makelar karena mengunÂdang kontraktor-konÂtrakÂtor asing untuk mengÂgarap lapangan migas.
“Pertamina owner saja, yang kerÂja Cevron, Total dan Exxon deÂngan sistem bagi hasil. SeÂkaÂrang kita tidak bisa begitu lagi. Dengan sistem bagi hasil, sewa jet juga kita yang bayar, ada tiÂpuan macam-macam, hasil akÂhirnya tidak sebesar yang kita harapkan,†sentilnya.
Untuk itu, dia mengÂimbau, seÂbelum pengelolaan miÂgas diserahÂkan kepada BUMN, peruÂsaÂhaan tersebut juga harus meÂnguÂkur keÂmampuan diri. JaÂngan samÂpai peÂngambilalihan itu malah menÂjadi bumerang yang mengÂakiÂbatkan produksi berÂkuÂrang. KonÂdisi itu akan berdampak pada memÂbengÂkaknya nilai imÂpor minyak.
Menurut bekas Ketua Umum Partai Golkar ini, keamanan enerÂgi Indonesia sangat mengÂkhaÂwatirkan karena konsumsiÂnya lebih tinggi dibanding proÂduksi. Saat ini, produksi minyak 880 ribu barel per hari atau lebih renÂdah dari target 930 ribu barel per hari. Sementara konsumsi enerÂgi dalam negeritercatat 1,3 juta barel per hari.
Makanya, dia tidak heran jika sekarang Indonesia menjadi neÂgara importir dari sebelumnya eksportir. Padahal, harga minyak sangat tergantung kondisi lingÂkungan. Dua bulan lalu harga miÂnyak mencapai 110 dolar AS per barel dan sekarang 90 dolar as per barel. Naik turunnya harga miÂnyak dunia sangat berdampak paÂda anggaran subsidi pemerintah.
“Kalau harga naik, maka subsiÂdi pemerintah juga naik. Lalu siaÂpa yang bayar itu nanti,†katanya.
Direktur Indonesia Resourses Studies (Iress) Marwan BatuÂbara mengatakan, komitmen pemerinÂtah masih rendah untuk menÂduÂkung perusahaan minyak naÂsioÂnal. Hal itu bisa dilihat dari keÂbijakan pemerintah yang lebih memilih memperpanjang kontak migas dengan asing dibanding menyerahkan ke dalam negeri.
Marwan menilai, ada kepenÂtingan politik dan pemburuan rente dalam mempengaruhi sikap peÂmerintah. Apalagi, peraturan yang ada juga dibuat multitafsir dan penetapan perpanjangan kontrak yang panjang (10 tahun hingga seminggu sebelum konÂtrak berakhir) membuka pengÂambil keputusan dan kontraktor membuat kesepakatan yang meÂrugikan kepentingan nasional.
“Perlu peraturan pemerintah atau keputusan menteri yang meÂngatur pengusahaan blok-blok migas yang habis itu diambil BUMN,†tandas Marwan.
Presiden Direktur Pertamina Hulu Energi Salis Aprilian mengatakan, Pertamina sanggup mengambil alih seluruh blok migas yang telah habis masa kontraknya. Pertamina bahkan mengincar 100 persen saham Blok MahaÂkam.
“Kami maunya 100 persen, tapi kalau ada peraturan-perÂaturan baru lagi kami akan meÂngikuti,†katanya.
Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mudakir menyatakan, pihaknya menerima kritikan dan masukan dari bekas Wapres Jusuf Kalla.
Kendati begitu, Ali meneÂgasÂkan, Pertamina sekarang suÂdah Pertamina yang baru dan banyak berÂubah. “Terima kasih atas kritikannya pak JK. SekaÂrang kami sudah lebih baik,†katanya.
Selain itu, menurutnya, perÂseroan siap mengambil alih blok-blok migas yang habis masa kontraknya untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Apalagi beberapa blok migas yang habis kontraknya dan telah diambil Pertamina, produksinya mengaÂlami kenaikan.
“Sekarang kita berharap keÂputusan pemerintah soal Blok Mahakam untuk kepastian inÂvestasi kami,†tandasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08
Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57
Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40