ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.BPH Migas dan para kepala daerah mendesak Pertamina agar memberikan data-data yang transÂÂÂparan terkait penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) di daerah. Langkah ini diyakini seÂbagai salah satu meredam aksi penyelundupan BBM yang kini kian marak.
Hal itu dikatakan KeÂpala BaÂdan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Andy NoorsaÂman SomÂmeng usai peÂnandaÂtaÂnganan Memorandum of UnderÂstanding (MoU) dengan empat Gubernur se-Kalimantan tentang PengaÂwaÂsan PendistriÂbusian Jenis BBM Tertentu di Jakarta, kemarin.
Hadir pula dalam penandaÂtanganan MoU tersebut Wakil GuÂbernur Kalimantan Timur FaÂrid Wadjdy, Sekda Provinsi KaÂlimantan Tengah Siun Jarias dan Kepala Biro Perekonomian PemÂÂbanguÂnan Pemprop Kalbar Any Sofyan.
Andy meÂÂmaparkan, meskiÂpun dalam peraturan perunÂdang-unÂdangan yang diberi peÂnugasan untuk meÂlakukan peÂngawasan terhadap penyeÂdiaan dan pendisÂtribusian BBM adaÂlah BPH MiÂgas, tapi pengaÂwaÂsan tersebut tidak dapat dilaÂkukan sendirian mengingat caÂkupan wilayah keÂgiatan dan keÂterbatasan sarana dan prasaÂrana.
“Dalam Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2012, BPH MiÂgas bisa melakukan kerja sama dengan instansi pemerintah daeÂrah agar penyaluran BBM lebih tepat sasaran,†cetus dia.
Gubernur Kalsel Rudy Ariffin meÂngaÂtakan, dengÂan ditekennya MoU tersÂebut, piÂhakÂnya akan memÂbentuk SatÂgas (satuan tuÂgas). “KaÂrena itu, kami berharap rekan-rekan dari DPRD, KepoÂlisian dan TNI ikut dalam satgas itu,†cetusÂnya.
Agar pengaÂwasan yang dilaÂkukan satgas dapat berjalan baik, dia meminta Pertamina memÂberiÂkan data-data yang akuntaÂbel dan transparan. “Tanpa adaÂnya transÂparansi dan akuntabel dalam rangÂka pengaÂwaÂsan, ini akan susah,†tandasnya
Sebagaimana diketahui, PeÂmerintah bersama DPR meÂmuÂtuskan harga Jenis BBM TerÂtentu tidak mengalami kenaikan. Selain itu, di dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2012 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang nomor 22 Tahun 2011 Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2012, secara eksplisit ditentukan kuota nasional jenis BBM sebesar 40.000.000 kilo liter (KL).
Pertamina sebeÂlumnya meÂngaÂku pasokan BBM-nya di beÂbeÂrapa daerah sudah diÂjarah. BUMN perminyakan ini mengÂklaim nilai minyak mentah yang diÂjarah di jalur Tempino-Plaju di Jambi dan Sumatera Selatan mencapai 10 juta dolar AS atau sekitar Rp 90 miliar.
“Kita harapkan kejadian ini biÂsa diÂhentikan, karena minyak sebagai jatah negara itu hilang. Nilainya sudah sangat signifikan, karena kasus korupsi saja nilaiÂnya tidak sampai segitu, tapi suÂdah jadi perhatian serius dan apa ini perlu di periksa KPK ya,†kata Kepala Hubungan Masyarakat PT Pertamina Ali Mundakir.
Manajer Sekuriti PT Pertamina Gas (Pertagas) Heri Kuswanto meÂÂnegaskan, sampai saat ini PerÂtamina sudah kehilangan 100.000 barel atas penjarahan minyak menÂtah yang dilakukan masyaÂraÂkat dengan melubangi pipa-pipa tua milik perusahaan. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08
Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57
Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40