Berita

International Monetary Fund (IMF)

Bisnis

Sumbangan Ke IMF Bisa Jadi Bumerang

Kekuatan Ekspor Melemah & Cadangan BI Bisa Menurun
MINGGU, 15 JULI 2012 | 08:31 WIB

RMOL.Sumbangan dana ke IMF dinilai hanya sekedar menjaga gengsi pemerintah RI di mata anggota-anggota G-20. Tidak ada dampak riil ke masyarakat dan pasar.

Pemerintah Indonesia mela­lui Bank Indonesia (BI) beren­cana membantu International Monetary Fund (IMF). Caranya, dengan membeli surat utang lem­baga keuangan internasional se­nilai 1 miliar dolar AS atau se­kitar Rp 9,4 triliun.

Jika sumba­ngan tersebut buat lembaga yang punya pengaruh positif terhadap ekonomi Indone­sia dan menguntungkan, mung­kin tidak masalah. Tapi, bila di­berikan ke­pada lembaga yang pernah meng­acak-acak ekonomi nasional, tentu kebijakan itu sa­ngat menya­kitkan.  

Gubernur BI Darmin Nasution berdalih, lebih menguntungkan mengalihkan cadangan devisa BI kepada surat utang di­banding membiarkannya be­gitu saja di lemari besi. “Kita beli su­rat ber­harga dan ti­dak simpan dolar da­lam lemari besi (berjum­lah) ba­nyak. Emang uang bera­nak?” ujarnya di Jakarta, Kamis (12/7).

Pembelian surat utang tersebut diakui Darmin, lebih mengun­tung­kan karena risikonya ren­dah. Pembelian surat utang itu bukan hal spesial, sebab BI juga mela­kukan hal yang sama ke beberapa negara seperti Austra­lia, Kanada dan Jerman.

Darmin menjelaskan, hasil dana yang diberi BI bersama anggota IMF lain juga tidak langsung di­gunakan. Dana surat utang hanya sebagai cadangan.

“Sama IMF juga belum tentu dipakai, karena itu second line of defense. Jadi ka­lau resources dia sudah di bawah 100 miliar dolar AS, baru dipakai. Sekarang dia masih punya sekitar 400 miliar dolar AS kalau tidak salah. Itu bisa dipakai, bisa ti­dak,” jelasnya.

Besaran pemberian utang BI kepada IMF juga merupakan ke­sepakatan Bank Sentral di ASEAN. Bank Sentral di Filipina dan Malaysia memberi utang da­lam jumlah sama kepada IMF. BI pun hanya mengambil seba­gian cadangan devisa yang kini men­ca­pai 106,5 miliar dolar AS untuk pembelian surat utang IMF.

Bagi Ketua Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono, pem­berian dana pinjaman sebesar 1 miliar dolar AS kepada kepada IMF itu tidak akan berpe­nga­ruh banyak terha­dap cada­ngan devisa pemerin­tah. Meski­pun di saat yang ber­sama­an ca­dangan devisa menu­run se­besar 5 miliar dolar AS.

“Saya kira ti­dak akan berpe­ngaruh, ini sifat­nya hanya sim­bolis saja,” ujar Sigit di Jakarta, Kamis (12/7).  

Menurut Sigit, secara simbolik utangan buat IMF itu bagus ka­rena akan memper­kenalkan ke­pada dunia bahwa Indonesia su­dah bekerja dengan baik. “Dulu minjam dan sekarang meminjam-kan, maka sudah baik,” kilahnya.

Seperti diketahui, cadangan de­visa Indonesia menurun dari 111,528 miliar dolar AS pada 31 Mei 2012  menjadi 106,502 mi­liar dolar AS pada 29 Juni 2012. IMF sedang aktif mencari do­na­tur dari negara lain­nya untuk me­ningkatkan modal. Sejak April lalu, IMF secara terbuka menya­ta­kan sangat membutuhkan dana tunai untuk meredam risiko mem­buruknya ekonomi global.

Sejumlah negara langsung me­nya­takan kesiapan­nya, termasuk Indonesia. Jepang adalah negara pertama yang ber­komitmen me­nambah modal sebesar 60 miliar dolar AS. Disusul China dan Aus­tralia. Hingga pertemuan G-20 Juni lalu, komit­men penam­ba­han dana yang berhasil dihimpun mencapai 455,9 miliar dolar AS.

Ekonom Institute For Deve­lopment of Economic and Fi­nance (Indef) Enny Sri Hartati meminta bantuan itu diberikan secara hati-hati dengan tetap mem­pertim­bangkan kondisi do­mestik. Me­nurutnya, lebih baik jika ke­bu­tuhan devisa dalam ne­geri dicu­kupi terlebih dahulu se­belum membantu orang lain.

“Cadangan devisa Indonesia saat ini me­mang mencapai 111 miliar dolar AS. Ma­kin banyak cadangan devisa, maka akan le­bih baik,” ucapnya ke­pada Rak­yat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Jika kondisi pereko­no­mian dunia stabil, lanjut Enny, maka tidak masalah. Tetapi jika terjadi se­balik­­nya, ekonomi dunia krisis, maka akan membawa dampak ne­gatif­ untuk Indonesia. Dam­pak­nya berupa penuruan angka ekspor Indonesia ke bebe­rapa ne­gara maju di Eropa dan dunia.

“Untuk itu, Indonesia perlu men­­jaga pasokan dolar supaya seim­bang dan mencukupi valuta asing. Indonesia memi­li­ki hu­tang yang cukup berat,” warning Enny. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

MAKI Heran KPK Tak Kunjung Tahan Tersangka Korupsi CSR BI

Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11

Keadilan pada Demokrasi yang Direnggut

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54

Program MBG Tetap Harus Diperketat Meski Kasus Keracunan Menurun

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51

Oegroseno: Polisi Tidak Bisa Nyatakan Ijazah Jokowi Asli atau Palsu

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48

Ketum PBMI Ngadep Menpora Persiapkan SEA Games Malaysia

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

Sekolah Rakyat Simbol Keadilan Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

110 Siswa Lemhannas Siap Digembleng Selama Lima Bulan

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30

PBNU Bantah Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08

Demokrat Tidak Ambil Pusing Sikap PDIP Tolak Pilkada Via DPRD

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57

Amankan BBE-Uang, Ini 2 Kantor DJP yang Digeledah KPK

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40

Selengkapnya