Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Agar Tidak Diprotes, Duitnya Diambil Dari Cadangan Devisa

MINGGU, 15 JULI 2012 | 08:23 WIB

RMOL.Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto menegaskan, dana yang dipinjamkan kepada Dana Moneter Internasional (IMF) bera­sal dari cadangan devisa dan bukan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Meski demikian, bantuan tersebut tidak akan mempengaruhi kekuatan cadangan devisa.

“Indonesia kan termasuk salah satu dari sekitar 160 negara di du­nia. Apabila krisis bisa diatasi, maka stabilitas ekonomi dan ke­uangan global dapat terpelihara dengan baik dan stabilitas eko­nomi Indonesia juga akan ikut ter­jaga. Sehingga momentum pembangunan akan terpelihara,” ucapnya saat dikontak Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Rahmat menjelaskan, dana dari Indonesia akan aman, ka­rena pe­ringkat obligasi IMF ada di le­vel investment grade. Ka­pan saja In­do­nesia perlu uang, obligasi ter­sebut bisa dijual un­tuk dapat­kan kembali uangnya.

“Karena itu me­rupakan inves­tasi, maka Indo­nesia akan men­dapatkan be­rupa imbal hasil obligasi,” jelas Rahmat.

Bagi ekonom Uni­ver­­sitas Ga­djah Mada (UGM) Re­vrisond Baswir, bantuan ke IMF jangan hanya sebuah cek kosong. Ar­tinya, pemerintah ha­rus bisa men­de­sakkan kepen­ti­ngan nasio­nal ke IMF dengan ban­tuan itu.

“IMF dulu waktu mem­­­beri pin­ja­man ke kita, mereka men­de­sak adanya Letter of Intent (LOI). Harusnya kita juga bisa melaku­kan hal se­rupa. Agen­da apa yang akan kita laku­kan jika kita pin­jami, ja­ngan hanya cek kosong saja,” ujarnya ke­pada Rakyat Merdeka di Ja­karta, Kamis (12/7)

Menurut Revrisond, salah satu agenda yang bisa dititipkan pe­merintah Indonesia lewat bantuan tersebut yakni perlunya reformasi di IMF. “Intinya adalah menam­bah suara di luar Amerika dan Uni Eropa di IMF. Apalagi Ame­rika dan Uni Eropa sedang di­landa kri­sis ekonomi,” katanya.

Pengamat eko­nomi dari Lem­baga Ilmu Penge­tahuan Indone­sia (LIPI) Agus Eko Nu­groho mengatakan, pin­jaman ter­sebut tidak melanggar konstitusi ka­rena tidak menggu­nakan dana APBN. “Selama ban­tuan itu ti­dak ber­asal dari keuangan pub­lik, se­perti neraca BI, maka hal itu tidak  me­langgar konstitusi,” ujar Agus.  [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

MAKI Heran KPK Tak Kunjung Tahan Tersangka Korupsi CSR BI

Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11

Keadilan pada Demokrasi yang Direnggut

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54

Program MBG Tetap Harus Diperketat Meski Kasus Keracunan Menurun

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51

Oegroseno: Polisi Tidak Bisa Nyatakan Ijazah Jokowi Asli atau Palsu

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48

Ketum PBMI Ngadep Menpora Persiapkan SEA Games Malaysia

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

Sekolah Rakyat Simbol Keadilan Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

110 Siswa Lemhannas Siap Digembleng Selama Lima Bulan

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30

PBNU Bantah Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08

Demokrat Tidak Ambil Pusing Sikap PDIP Tolak Pilkada Via DPRD

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57

Amankan BBE-Uang, Ini 2 Kantor DJP yang Digeledah KPK

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40

Selengkapnya