ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Keberadaan Usaha Kecil Menengah (UKM) maupun koperasi masih cenderung diÂanakÂtirikan pemerintah. Padahal, usaha itu mampu menciptakan lapangan kerja yang tidak sedikit.
Pengamat ekonomi UniverÂsitas Gadjah Mada (UGM) RevÂÂrisond Baswir mendesak peÂmerintah segera menyeleÂsaiÂkan RanÂcangan Undang-UnÂdang (RUU) Koperasi, sebagai wujud kepedulian pemerintah terhadap keberadaan lembaga ekonomi rakyat.
“Sejak tahun 2000 sudah puluÂhan undang-undang yang dihaÂsilkan, tapi mengapa RUU KoÂperasi belum juga diselesaikan,†kata RevriÂsond di Jakarta.
Revrisond mengatakan, RUU KoÂperasi dibutuhkan untuk meÂlindungi keberadaan koperasi daÂri perkembangan minimarket (pasar swalayan kecil) yang semakin pesat.
“Minimarket sudah berkemÂbang sangat luas. Janganlah diÂbiarkan keberadaan koperasi terjepit,†pintanya.
Menurut dia, pemberitaan peÂngembangan koperasi yang ada saat ini hanya akan menjadi peraÂyaan semata apabila koperasi tiÂdak dilindungi dengan UU yang berÂpihak pada lembaga tersebut.
“KoÂperasi harus menjadi soko guru bagi perekoÂnomian nasioÂnal,†kata Revrisond.
Dia mengatakan, apabila RUU telah seleÂsai disahkan, pemerinÂtah baru bisa berbicara mengenai tingÂkat opeÂrasional koperasi.
“Jangan dulu membiÂcaraÂkan meÂngenai peran koperasi seÂbaÂgai lembaga pembiayaan alternatif, kalau undang-undangnya saja belum selesai,†cetusnya.
Asisten Deputi Bidang Tata Laksana Koperasi dan UKM Kementerian Koperasi dan UKM Nur Edi Ningsih mengatakan, pihaknya kini tengah melakukan pembahasan RUU Koperasi yang sudah masuk tahap finaliÂsasi di DPR dan ditargetkan bisa disahÂkan 18 Juli 2012.
“Saat ini DPR sedang menyaÂmaÂkan persepsi pada tahap finaÂlisasi RUU yang akan menjadi revisi atas Undang-Undang NoÂmor 25 tahun 1992 tentang KoÂperasi,†kata Nur.
Dalam penyusunan RUU terÂsebut, ada beberapa poin peruÂbahan penting di dalamnya. Di antaranya penyertaan modal unÂtuk koperasi yang dianggap penÂting untuk mengatasi kenÂdala permodalan koperasi daÂlam peÂngembangan bisnis.
Ketua Dewan Direktur LemÂbaga Kajian Publik Sabang-MeÂrauke Circle (SMC) Syahganda NaingÂgolan mengatakan, saat berÂhaÂdapan dengan kelompok usaÂha besar, pemerintah seringÂkali tidak bersemangat membela martabat UKM maupun koperasi.
Padahal, pemerintah harusnya lebih mengedepankan pengemÂbaÂngan UKM dan koperasi yang berÂbasiskan semangat konstitusi UUD 1945 agar bisa tetap hidup sebagai tulang punggung ekoÂnoÂmi nasional di masyarakat.
“KeÂnyataannya, peran dan siÂkap peÂmeÂrintah justru mengÂanakÂemasÂkan segelintir usaha besar,†sentil Syahganda.
Seperti diketahui, UKM adaÂlah yang memiliki modal sampai Rp 1 miliar. Sementara usaha besar yang modalnya di atas Rp 2 miÂliar.
Syahganda mengatakan, jumÂlah pengusaha besar hanya 6000-an atau tidak sampai 1 persen dari seluruh pelaku usaha di InÂdoÂnesia. Meski jumlahnya kecil, keberaÂdaannya tetap saja mamÂpu meÂnyaingi usaha kecil lanÂtaran usaha besar selamanya mendapat kebeÂbasan, baik akses perbankan mauÂpun perlindungan pemerintah.
“Pemerintah hanya mau beÂkerja sama dengan usaha besar, waÂlau risikonya mereka menjadi pengemÂplang pajak yang meÂnyakitkan hati rakyat. Belum lagi sifatnya yang begitu rentan oleh dampak krisis ekonomi hingga mengorbankan para peÂkerja,†jelasnya.
Menurutnya, jumlah UKM maupun koperasi hingga Maret 2012 sekitar 55,4 juta. KontriÂbuÂsinya sangat penting bagi ekoÂnomi karena menyumbang 60 persen PDB (Produk Nasional Bruto), selain dapat menampung 97 persen tenaga kerja.
Rektor Institut Manajemen KoÂperasi Indonesia (Ikopin) BurÂhanuddin Abdullah mengataÂkan, pemerintah seharusnya mulai berÂbenah dengan memiliki kebiÂjakan jelas dan tegas bagi keberÂlanjutan gerakan koperasi nasioÂnal. Ini dimaksudkan untuk meÂnetapkan arah kebijakan yang bisa membangkitkan kelompok masyarakat berbasis ekonomi keÂrakyatan tersebut.
“Pengambilan kebijakan terÂseÂbut sangat penting agar koperasi tidak berjalan sendirian untuk keÂberlangsungan orgaÂnisasiÂnya,†kata Burhanuddin. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08
Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57
Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40