Berita

dpr-ri

Bisnis

DPR: Stop Kontrak Asing Di Blok Migas Mahakam

Ditaksir Punya Cadangan Gas Hingga 12,7 Triliun Kubik
KAMIS, 12 JULI 2012 | 08:12 WIB

RMOL. Para politisi Senayan mendesak pemerintah tidak memperpanjang kontrak perusahaan asing asal Prancis, Total EP Indonesie, di Blok Mahakam. Masa kontrak blok ini habis pada 2017. Agar negara untung, lebih baik serahkan blok tersebut ke BUMN.

Anggota DPR Dito Ganin­du­to me­ngatakan, Total EP Indo­ne­sie sudah cukup lama me­ngelola dan menikmati keun­tung­an dari Ma­hakam.

”Mereka (Total) sudah cu­kup banyak menikmati hasil sum­ber daya alam kita selama 50 tahun mengelola Mahakam dari tahun 1967 hingga nanti 2017. Ja­ngan lagi pemerintah mem­per­panjang kontraknya. Serahkan pada peru­sahaan nasional,” cetus Dito.

Dito meminta pemerintah tidak mempersoalkan kemam­pu­an perusahaan nasional menge­lola aset negara, termasuk Ma­ha­kam yang berlokasi di Kaliman­tan Timur (Kaltim) ter­sebut.

Perusahaan nasional, lan­jut­nya, baik BUMN ataupun swas­ta nasional, sudah mampu me­lan­jutkan pengelolaan blok yang kini menjadi penghasil gas bumi terbesar di Indonesia ter­sebut.

“Jangan lagi kita terjebak de­ngan propaganda asing yang merendahkan kemampuan per­usa­haan nasional,” tekannya.

Anggota Komisi VII  DPR Zainuddin Amali menam­bahkan, pe­merintah sudah harus me­mu­tuskan kelanjutan peng­elolaan Ma­hakam pada 2012. “Lebih ce­pat, lebih baik,” kata­ Amali.

Dengan begitu, lanjutnya, pe­ru­sahaan na­sio­nal mempunyai persiapan yang cu­kup sebelum be­nar-benar me­nge­lola Mahakam pada 2017. Ke­lan­jutan peng­e­lolaan Mahakam bisa meniru pola Blok East Natuna.

 Anggota DPR Bobby Rizaldi me­nga­takan, sudah saatnya pe­merintah lebih mendahulukan kepentingan na­sional dalam pe­ngelolaan ener­gi, termasuk gas.   

Saat ini, hak partisipasi Ma­hakam dimiliki Total dan Inpex Corporation masing-masing 50 pe­rsen. Total menandatangani kon­trak pengelolaan Mahakam pa­da 30 Maret 1967 dan sejak saat itu menjadi operator blok tersebut.  

Tahun 2011, blok tersebut meng­hasilkan gas 2.480 milion metric of standard cubic feed (MMSCFD) dan minyak 93.000 barel per hari. Blok ini diperkirakan masih me­miliki cadangan gas sekitar 12,7 triliun kaki kubik.

Direktur Hulu PT Pertamina Muhammad Husein menyatakan, pi­­haknya itu ingin menjadi operator Blok Mahakam. Permo­honan kepa­da pemerintah sudah diaju­kan sejak lama, namun belum ada kepastian hingga saat ini. “Kami hanya me­nunggu kepastian dari Pe­me­rin­tah,” kata Husein. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

MAKI Heran KPK Tak Kunjung Tahan Tersangka Korupsi CSR BI

Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11

Keadilan pada Demokrasi yang Direnggut

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54

Program MBG Tetap Harus Diperketat Meski Kasus Keracunan Menurun

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51

Oegroseno: Polisi Tidak Bisa Nyatakan Ijazah Jokowi Asli atau Palsu

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48

Ketum PBMI Ngadep Menpora Persiapkan SEA Games Malaysia

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

Sekolah Rakyat Simbol Keadilan Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

110 Siswa Lemhannas Siap Digembleng Selama Lima Bulan

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30

PBNU Bantah Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08

Demokrat Tidak Ambil Pusing Sikap PDIP Tolak Pilkada Via DPRD

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57

Amankan BBE-Uang, Ini 2 Kantor DJP yang Digeledah KPK

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40

Selengkapnya