ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Pengusaha makanan dan minuman (mamin) di Indonesia menggenjot produksinya menÂjeÂlang bulan puasa dan LebaÂran taÂhun ini. Permintaan produk maÂmin diprediksi naik 30 persen menjelang perayaan Lebaran.
“Saat ini memang terÂjadi peÂningkatan produksi yang bisa dikatakan sebagai ritual menÂÂjelang puasa dan Lebaran. InÂdusÂtri pasti akan meningkatkan kaÂpasitas produksinya,†ujar Sekjen Gabungan Pengusaha MaÂÂkanan dan Minuman IndoneÂsia (GapmÂmi) Franky Sibarani kepada RakÂyat Merdeka di Jakarta, kemarin.
Menurut Franky, peningkatan proÂduksi mamin bisa mencapai antara 20 hingga 30 persen deÂngan tujuan untuk mengejar perÂsediaan di sentra distribusi wilaÂyah karena permintaan konsuÂmen yang meningkat.
Permintaan proÂduk mamin juga diprediksi akan naik sebaÂnyak 30 persen menjeÂlang peraÂyaan Lebaran tahun ini, dengan penopang utama produk olahan jenis sirup dan biskuit.
Dia menjelaskan, secara rata-rata permintaan pasar pada proÂduk mamin menjelang LebaÂran naik sekitar 30 persen. KeÂnaikan produk itu dipicu oleh keÂbiasaan orang Indonesia saling berkirim parsel menjelang LebaÂran.
“Kenaikan tertinggi biasa terÂjadi pada proÂduk jenis musiman seperti sirup dan biskuit,†jelas Franky.
Kedua proÂduk dengan kenaikÂan teringgi tersebut, lanjutnya, permintaan mampu naik di atas 200 persen pada setiap musimÂnya. Kenaikan permintaan sirup dan biskuit tidak haÂnya pada saat Lebaran, tapi juga perayaan Natal dan Tahun Baru.
Menjelang perayaan Lebaran, kata Franky, industri yang mengÂhasilkan dua produk terseÂbut biasanya menggenjot kapasiÂtas produksi hingga maksimal.
“Dari biasa mereka bekerja satu shift, menjelang Lebaran biasaÂnya meÂningkatkan produksi hingÂga tiga shift,†katanya.
Meskipun permintaan meningÂkat, Franky menegaskan, tak ada kenaikan harga di bulan puasa atau jelang Lebaran. Menurutnya, harga produk industri mamin tiÂdak akan melonjak karena moÂmentum bulan puasa, melainkan lebih bergantung kepada bahan baku dan bahan kemasan.
“NaÂmun, dalam satu bulan terÂakhir ini tidak ada tanda kenaikan bahan baku dan kemasan itu,†tegasnya.
Franky juga mengungÂkapkan, terdapat kekhawatiran distribusi pasokan produk yang terhenti jika dikirim saat puasa atau menjelang Lebaran karena pengutamaan kendaraan lebih kepada pemuÂdik daripada produk industri.
“Kami juga perlu mengantisiÂpasi distribusi yang relatif pada dua pekan sebelum Lebaran pasti sudah akan terjadi kepadaÂtan atau antrean karena peningÂÂ- kaÂtan voluÂme kendaraan ke daeÂrah,†ungÂkapnya.
Sedangkan Kementerian PerÂdaÂgangan (Kemendag) memastiÂkan distribusi sejumlah bahan kebutuhan pokok ke beberapa daeÂÂrah yang akan mengalami pemÂbatasan angkutan muatan barang berjalan secara lancar.
“Kami sudah persiapkan seÂjumÂÂlah upaya. Oleh karena itu, koorÂdinasi antarlembaga menÂjadi penting dan sudah kami laÂkuÂkan beberapa waktu lalu. TerÂmasuk kepada para penyedia produk yang tidak mudah busuk, di mana sebenarnya pendistriÂbusian untuk hasil makanan dan minuman itu sudah dari jauh hari sebelumÂnya,†kata Dirjen PerdaÂgangan DaÂlam Negeri KemenÂdag GuÂnaryo.
Gunaryo menganjurkan kepaÂda para penyedia produk maÂkaÂnÂan dan kebutuhan pokok unÂtuk mengÂanÂtisipasi pengiriman ke sejumÂlah daerah yang rawan macet saat menjelang mudik dan usai LebaÂran sejak jauh hari seÂbeÂlumÂnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08
Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57
Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40