ilustrasi, gula
ilustrasi, gula
RMOL.Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengakui, harga “si manis†sangat rawan spekuÂlasi kaÂrena tata niaga gula meÂmiliki baÂnyak celah permainan. KomiÂsioÂner KPPU Erwin SyahÂril meÂngaÂtakan, persoalan gula tidak akan pernah selesai jika reguÂlasiÂnya tidak dirombak.
“Muatan Peraturan Menteri Nomor 572 Tahun 2004 tentang tata niaga gula sudah tidak releÂvan. BuktiÂnya, keresahan sosial selalu munÂcul akibat harga gula dan stok yang tidak terkendali. Jadi harus ada perombakan total. Paling tidak Peraturan Presiden (Perpres) atau kalau perlu lewat undang-undang,†ujar bekas angÂgota DPR ini.
Erwin mengaku heran meliÂhat kebijakan gula yang membedaÂkan gula kristal putih dan gula rafinasi dengan alasan melinduÂngi petani lokal. Padahal, di paÂÂÂsaÂran, dua gula tersebut sama amanÂnya dan sama standarÂdiÂsasi keÂsehatannya.
Tidak adanya data akurat soal kebutuhan gula rafinasi, terutama di Kawasan Timur Indonesia (KTI), juga memicu gula rafinasi merembes ke pasar konÂsumsi. Begitu pula sebaliknya, data gula konsumsi rumah tangga tidak akurat. Karena itu, KPPU mereÂkomendasikan aturan baru.
“Negeri ini hanya sanggup mengÂÂhitung angka konsumsi gula per penduduk. Padahal, itu tidak riil ketika sudah dijabarkan dalam hitungan ekonomi untuk distriÂbusi,†tandasnya.
Saat ini, harga gula kristal putih di tingkat ritel tetap bertahan di level tinggi yakni Rp 13 ribu per kilogram (kg). Padahal, musim giÂling sudah semakin dekat. HarÂga rata-rata nasional gula yang dicatat Kementerian PerdaÂgaÂngan (Kemendag) bertengger di posisi Rp 13.110 per kg pada awal pekan ini atau tidak turun sejak naik dari level Rp 12.000 per kg akhir Juni lalu.
Harga di tingkat lelang pun menunjukkan fluktuasi. Setelah melejit ke kisaran Rp 11 ribu per kg pada pekan kedua Juni, harga lelang gula anjlok ke level Rp 9 ribu per kg pada akhir Juni.
“Namun kemungkinan harga akan turun karena pasokan tebu petani sudah mulai melimpah,†ujar Dirut PT Rajawali NusanÂtara Indonesia (RNI) Ismed Hasan Putro di Jakarta, akhir pekan lalu.
Menurut dia, kebijakan impor raw sugar yang dilakukan pemeÂrintah telah membantu psikologis pasar. Dengan impor tersebut, biÂsa mengerem harga gula yang dulunya hampir Rp 12 ribu per kilogram.
Dengan harga gula saat ini, Ismed meminta agar konsumen dan petani tidak gamang. Harga gula antara Rp 10 ribu-Rp 11 riÂbu itu sebenarnya sudah sangat meÂnguntungkan petani dan konsuÂmen.
Menurut Ismed, dirinya sepaÂkat jika harga gula di atas Rp 11 ribu, pemerintah bisa mengenÂdaliÂkan dengan berbagai instruÂmen keÂbijakan.
“Tapi kalau harÂga lelang maÂsih Rp 10-11 ribu jangan diÂinterÂvensi. Jangan imÂpor dulu, karena jelas itu akan meÂnyelaÂmatkan petani dan pabÂrik,†tanÂdas Ismet. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08
Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57
Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40