International MoneÂtary Fund (IMF)
International MoneÂtary Fund (IMF)
RMOL.Kementerian Keuangan (Kemenkeu) diminta jangan terbuai dengan tawaran utang Dana Moneter Internasional (IMF). Setoran modal Rp 9,42 triliun perlu persetujuan DPR.
Pemerintah disarankan mengÂÂkaji ulang serta tak buru-buru meÂlaksanakan rencana menyetor dana kepada International MoneÂtary Fund (IMF). Pemerintah diingatkan peÂnyetoran modal 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 9,428 triliun itu harus mendaÂpatkan persetujuan DPR.
“Harus minta izin DPR,†tegas Pengamat Ekonomi IchsaÂnuddin Noorsy di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, ada sejumlah keaÂnehan dalam pengambilan kepuÂtuÂsan pemerintah menyetujui pembayaran penyetoran modal tersebut. Bekas anggota DPR ini menyatakan, dirinya mendengar Indonesia akan menyetor dana itu dalam bentuk pembelian obÂligasi IMF dengan menggunaÂkan dana dari cadangan devisa.
Untuk itu, kata Noorsy, pemeÂrintah SBY jaÂngan sampai terÂjebak tawaran utang lembaga tersebut, yang sering kali berÂmaÂsalah di kemudian hari.
Sementara di sisi lain, IndoneÂsia mendapat pinjaman siaga dari Bank Dunia (World Bank) untuk tambahan cadangan devisa seÂbesar 3 miliar dolar AS.
“Ini artinya cadangan devisa yang dimaksud untuk IMF seÂbenarnya berasal dari utang juga. Pada titik itu Pemerintah IndoÂnesia sudah berperan menjadi lembaga intermediasi keuangan yang tidak menguntungkan. Ini sangÂat berbahaya,†warning-nya
Alasannya, lanjut Noorsy, kaÂrena selisih suku bunga yang beÂlum tentu mengunÂtungkan, volaÂtilitas nilai tukar dan caÂdaÂngan devisa terancam menurun karena posisi neraca perdagaÂngan juga menurun.
SeÂlain itu, lanjut dia, kaÂlauÂpun terÂjadi selisih lebih atas pemÂÂbeÂlian obligasi, namun akan leÂbih positif jika Indonesia jusÂtru meÂngurangi utang luar neÂgeÂrinya yang sudah mencapai Rp 1.944,1 triliun.
Dikatakan pula, pembelian obÂligasi IMF itu juga dianggap berÂtentangan dengan kenyataan. Yakni, di APBN sudah terjadi keÂseimbangan primer yang neÂgatif, belanja lebih besar dari pendapaÂtan sehingga APBN tiÂdak likuid sejak 2010.
“Bahkan dengan memÂÂbesarÂnya defisit APBN, beÂlanja obliÂgaÂsi IMF itu menggamÂbarkan wujud pengabdian IndoÂneÂsia yang saÂlah tempat,†kritik Noorsy.
Ketua Komisi XI DPR Emir Moeis mengaku sulit meÂnyetujui keinginan Kemenkeu untuk memÂberikan pinjaman kepada IMF. MenuÂrutÂnya, peÂmerinÂtah saat ini seÂdang membuÂtuhÂkan dana yang besar untuk menjaÂlankan tugas prioritas di dalam negeri. “Bukankah pemerintah sedang memÂbutuhÂkan dana yang besar untuk perbaikan pembaÂngunan infraÂstrukÂtur,†katanya.
Pelaksana tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) KemenÂkeu BamÂbang BrodÂjoneÂgoro meÂngÂÂatakan, pemberian pinjaÂman kepada IMF harus melalui perseÂtujuan presiÂden. MenuÂrutÂnya, sampai saat ini presiden beÂlum memutuskan jadi tidaknya sunÂtikan dana itu.
“SeÂlayaknya kita harus berÂparÂtisipasi dan preÂsiden diÂharapkan memÂperÂtimbangÂkanÂnya. Namun kini belum ada keÂpastian,†ujar Bambang. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30
Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08
Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57
Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40